Kumpulan Cerpen Romantis

Kumpulan Cerpen Romantis
Love In Pantai Losari (Sulit Melepaskan!)


__ADS_3

Sudah satu minggu, kini aku dirumah dimana aku dilahirkan. Aku sedang duduk dibalkon lantai dua kamarku sambil memantau tetanggaku yang sedang menjemur padi hasil panen dari sawahnya kemarin.


Akupun mengabaikan panggilan keluargaku berulang kali dari bawah. Mereka berkata bahwa mereka merindukanku dan ingin mengobrol denganku. Aku masih tidak sanggup untuk menemui keluargaku akibat rasa kecewa dan kesedihan yang masih menyelimuti hidupku.


Meskipun itu sudah melewati satu minggu di kampung halaman, aku sama sekali belum pernah keluar rumah. Bahkan ayah dan ibuku sibuk berkebun. Aku berusaha membantunya meskipun kondisiku tidak baik-baik saja.


Siang tiba, aku mendengar suara ketukan pintu saat aku selesai makan. Aku berpikir itu adalah tamu atau keluarga tetanggaku yang ingin menemuiku. Aku membuka pintu rumahku dan terkejut melihat kehadiran Mita bersama seorang anak kecil sekitar berumur sepuluh tahun.


"Mita! Kamu kenapa kesini?"


Mita memelukku, aku berusaha menahan air mata dan memendam emosiku. Aku dan Mita juga anak kecil itu sedang duduk di ruang tamu sembari memberinya secangkir teh hangat.


Kulihat, mata Mita begitu sembab dan air matanya masih saja keluar. Sepertinya Rifki, dia tidak terima bahwa Mita hamil anak dia.


"Ada apa?" tanyaku lembut.


"Tolong kembalilah ke Makassar,  intinya Kak Rifki hmmm keadaannya lebih buruk. Aku tahu, dia butuh kamu. Tolong, tenangkan dia. Tapi dia harus bertanggung jawab sama aku dan orangtuaku."


"Aku menyerah, Put. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menenangkan dia."


"Dia lulus S2, Put. Tapi... sekarang dia hmmm kondisinya buruk karena kurang makan juga setiap aku menemuinya, dia marah. Memarahi aku, Put!"


"Terus dia dimana sekarang?"


"Di kost-kostsan kamu. Bahkan Riko pun menyerah. Aku tahu, dia butuh kamu!"


..........


Hari itu Putri pulang kampung usai melihat pertengkaran Mita dan Rifki. Putri pulang kampung tanpa memberitahu kedua karyawan juga orang-orang yang tinggal di kost-kostsannya.


Putri sangat kecewa, karena dia terlalu berharap. Sehari setelah Putri di tanah kelahirannya, Mita berusaha untuk membujuk Rifki dimana dia tinggal.


Sesampainya Mita di kost-kostsan, Rifki menolak kehadiran Mita hingga memaksanya untuk pergi.


"Tolong jangan suruh aku pergi, Kak! Kakak harus tanggung jawab." Mita merengek sampai memeluk lengan Rifki.


"Aku nggak butuh kamu lagi, Mita. Aku udah sayang sama Putri."


"Aku sudah bilang kalau bayi yang kamu kandung itu bukan ulah aku. Aku yakin itu ulah Rival!"

__ADS_1


"Coba tanya dia, aku yakin itu ulah dia!" tegur Rifki ke Mita sambil menguncang kedua pundak cewe itu.


"Mana mungkin ulah dia, hari itu aku tidur di kost-kostsan kamu." Tegur balik Mita lalu menampar pipi kiri Rifki.


"Bagaimana pun itu omongan kamu. Aku tak merasa, jadi tolong jangan temui aku lagi!" bentak Rifki lalu kembali ke kamarnya.


Tiga hari kemudian, Mita kembali menemui Rifki yang sedang bekerja di toko milik Putri. Rifki jadi risih hingga nyaris viral karena Pingky dan Lily hampir merekamnya.


"Kamu ngapain disini? Bagaimana bisa kamu tahu aku kerja disini?" Bentak Rifki, wajah cowo itu benar-benar dipenuhi rasa kecewa.


"Pergi! Sebelum aku membuatmu terluka." Rifki melototi wajah Mita.


"Tolong tanggung jawab, Kak."


"Aku tak mau jika sampai banyak orang yang tahu kalau aku ham-,"


"Hush!"


Rifki menarik tangan Mita keluar dari mall.


"Kamu nggak mikir dulu sebelum bilang. Kamu nggak malu jika ada yang dengar, hah!"


"Apa aku harus meneriaki telingamu kalau itu bukan ulah aku!"


Rifki menedang tong sampah dan detik itu juga Riko datang menemuinya. Rifki kehilangan kesadaran, ia malah menuninju dada dan pipi sahabatnya hingga meghempasnya ke dinding.


Suara keributan itu didengar oleh penjaga atau satpan Mall yang sedang memantau tempat di parkiran.


"Hey, berhenti!" Satpan itu berhasil merelai mereka.


"Kamu kenapa?" tanya Riko, wajahnya jadi lebam. Untung saja dia tidak marah dan tahu kalau ada masalah dengan Putri dan Mita.


"Jangan doang lampiaskan amarah ke aku! Lain kali ke dinding aja!"


"Aghs, apa kamu percaya kalau aku yang hamilin si Mita?" tanya Rifki penuh kesal.


"Nggak, lah! Masa kawanku kayak gini. Udah-udah, nggak usah marah besar. Intinya, ada saatnya masalah itu akan terungkap sendirinya." Jawab Riko membuat amarah Rifki sedikit mereda.


"Tapi, Riko... Huh! Kesabaran aku habis, Mita... cewe itu akan menemui Putri lagi!"

__ADS_1


"Dengar, kawan. Meskipun itu bukan salah kamu, jalani saja. Aku yakin, kamu sama Putri akan bersatu lagi! Jika perkataan aku benar, bantu lunasi cicilan motorku." Riko membuat Rifki tertawa jahat.


"Mana aku percaya sama anak pencinta quotes dan motivasi." Pungkas Rifki, ia kembali bekerja.


^^^...^^^


Aku akhirnya kembali ke Makassar bersama Mita. Disepanjang jalan, aku sama sekali tidak mengobrol dan mengeluarkan kata-kata sedikit pun. Kecuali menyuruhkanya untuk makan karena tak mau kesehatan Mita terganggu lagi.


Sampailah aku di toko pada malam hari setelah mengantar Mita ke kost-kostsannya. Aku melihat Rifki sedang menutup tokoku dibantu oleh kedua karyawan lamaku. Setelah itu karyawan lamaku meninggalkannya usai berpamitan kepada Rifki.


Aku mulai mendekati Rifki dan tak lupa memberinya buket bunga karena 2 hari yang lalu aku tidak menghadiri acara wisudanya.


"Assalamualaikum! Selamat atas kelulusannya!" Ucapku dibelakangnya.


" Rifki berbalik badan, ia memelukku erat.


"Jangan relakan aku bersama Mita. Aku mohon, jangan lepaskan aku, Put!"


"Percayalah, aku tidak membuat Mita hamil!"


"Sudahlah, lebih baik kita tidak membahas masalah ini. Kita masih berpacaran kok masih ada sekitar 1 pekan hari." Balasku membuat air matanya lolos begitu saja.


"Dengar, mulai sekarang aku tak mau kamu memohon dan minta maaf. Pokoknya kita ini masih berpacaran seperti sebelumnya."


"Ayo kita pulang!"


"Kamu harus tidur dan besok kita ke pantai losari, Oke!"


"Putri, ayolah! Aku mohon sama kamu!"


"Aku bilang, hentikan omongan itu." Aku menegur sedikit Kak Rifki hingga membuatnya sedikit syok.


"Tolong jangan katakan hal itu, jalani saja! Kehidupan manusia itu tak selamanya mulus!"


"Kamu sama Riko sama aja, padahal bagiku masalah ini sangat berat!" batin Rifki tampak kesal.


Kak Rifki mengangguk, dia menggeggam tanganku erat.  Aku berusaha untuk kuat dan menahan air mataku. Satu pekan lagi, kuharap itu akan bertahan sampai akhir atau cukup sebulan.


Apakah aku bisa membuat Kak Rifki melupakanku agar bisa bertanggung jawab?

__ADS_1


Tentang alur hidup, memang melelahkan namun ada juga yang namanya bahagia dan senang. Apapun itu, tetaplah dijalani.


Bersambung...


__ADS_2