Kumpulan Cerpen Romantis

Kumpulan Cerpen Romantis
Love In Pantai Losari (Berusaha Menjauh.)


__ADS_3

Aku menampar pipi Rifki. Aku mengendus kasar, "Aku sudah tidak sayang sama kakak Lagi. Jadi... kumohon pergi dari sini." Aku mengatakan hal itu agar Kak Rifki lebih baik bersama Mita.


Matanya membulat, ia menyentuh kedua pundakku "Apa!"


"Aku tidak percaya, aku sungguh tidak percaya kalau kamu sudah tidak ada rasa cinta kepadaku."


"Oke, meskipun kamu bilang begitu. Tolong jangan terima perjodohan orangtua kamu dengan Rival."


"Aku mohon!"


Aku menghempaskan kedua tangan Rifki kemudian berlari kembali ke kamarku. Aku sungguh kecewa, hati ini masih ada rasa cinta namun omongan terpaksa untuk mengakhiri.


"Awas, Lo!" Gumam Rifki sambil menatap horor wajah Rival.


Rifki kembali ke mobil Riko dikursi bagian depan. Ia meminta kepada Riko untuk mengantarnya ke Pantai Losari. Sampailah disana, Riko terpaksa menjauhi Rifki karena tidak mau tubuhnya dijadikan tempat pelampiasan.


Rifki sekarang duduk merenung, ia semakin mencerna omongan Putri tadi. "Aku sudah tidak sayang sama kakak Lagi. Jadi... kumohon pergi dari sini."


Kata itu sungguh sulit terlepas dari pikirannya sekarang. Hingga rasanya ingin mengakhiri hidupnya dengan cara terjun bebas ke laut.


Beberapa bulan kemudian, usia kehamilan Mita sudah memasuki 9 bulan. Mita sekarang sedikit sulit untuk melakukan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga. Mita tampak risih melihat pakaiannya yang dipakai sudah penuh di keranjang cuciannya.


Sedangkan Rifki, kemana dia pergi?


Dia sekarang sibuk di Jakarta mencari keadaan ibu kandungnya. Rifki sudah 3 bulan disana dan sama sekali tidak menemukan ibunya meskipun ayahnya sudah memberinya alamat tempat tinggalnya.


Kini Rifki sedang duduk di taman yang sangat terkenal di Jakarta. Ia sama sekali tidak memikirkan istrinya di kampung begitupun tidak mempedulikannya. Oleh karena itu dipikirannya hanya ada nama Putri.


Rifki sudah menelepon Putri hampir setiap hari semenjak kejadian dimana dirinya bertengkar di depan kost-kostsannya dan dihadiri oleh Rival, Riko, dan orangtuanya Putri.


Usai merenung, Rifki menelepon ayahnya yang sedang bekerja di kantornya. Rifki berkata bahwa ia kesulitan menemukan ibu kandungnya. Meskipun ayahnya sudah memberinya selembar foto dimana dia dan istrinya sedang berlibur sebelum menikah.


Setelah meneleponnya, Rifki tampak kasihan melihat badut dengan memakai pakaian beruang. Badut itu sudah berdiri dari pagi sambil menggenggam beberapa balon di tangannya.


Rifki mengeluarkan uang dari saku celananya, ia mendapat 50 ribu lalu membeli semua balon itu. Usai membelinya, Badut itu membuka topengnya lalu berterima kasih.


"Kak, dari tadi aku perhatiin. Kakak sepertinya mencari seseorang yah?" tanya Badut jalanan itu. Namanya adalah Gino, umurnya 15 tahun.


Rifki mengagguk sambil menujukkan selembar foto ayah dan ibunya ke Gino. "Kamu pernah lihat perempuan ini, nggak?"

__ADS_1


Mata Gino membulat terkejut. "Wah... sering banget, Kak. Gino, tahu dimana tempat dia bekerja."


Rifki akhirnya berhasil menemukan ibu kandungya berkat Gino si Badut jalanan itu. Katanya, Gino selalu melihat Lita hampir setiap hari ketika Gino sedang mengamen di lampu merah dekat kantor yang cukup besar dan tinggi.


Gino akhirnya sampai ke tampak dimana Lita bekerja.


"Disini, Kak. Orangnya baik, dia pernah memberiku amplop berisi uang banyak karena kasihan melihatku mengamen di jalan depan kantornya."


"Kantor ini?" Sambil menunjuk kantor berlantai dua puluh itu.


"Iya, masuk saja. Aku yakin, dia kerja di sana." Ujar Gino serius.


"Baik," Rifki kembali memberi remaja itu uang senilai 200 ribu. "Ambillah, terima kasih yah!" Pungkasnya lalu menuju ke gedung bertingkat itu.


..........


Hari ini aku berada di kampung halamanku. Aku sudah menutup tokoku 4 bulan yang lalu di Makassar juga menjual rumahku. Alasan karena masalah dimana aku selalu diteror oleh orang tak di kenal.


Kupikir, itu karena ulah Rival. Aku menolak perjodohan orangtuaku begitupun orangtua Rival. Kini aku membuka toko baru di halaman rumah karena halaman rumahku cukup pas untuk membuka toko butik. Aku menggabungkan tokoku dengan toko buku.


Sore tiba, usai mengobrol dengan ibuku. Katanya akan diadakan pasar malam. Aku memutuskan untuk pergi sambil membawa sedikit barang pakaian yang sudah kujahit beberapa hari yang lalu.


Tentang Rifki, aku mulai melupakannya namun masih ada sedikit rasa sayang  terletak di lubuk hatiku. Sedangkan Mita, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya.


Jam sudah menujukkan pukul 10 malam, semua pedagang makanan, pakaian, dan mainan mulai membereskan barang mereka. Begitupun aku, aku merasa bersyukur karena pakaian yang kujual tinggal 5 pasang lagi.


"Harganya berapa, Mbak?" tanya Mita sambil melihat-lihat piyama merah muda.


Suara itu terdengar tidak asing bagiku. Aku berbalik badan. Siapa lagi kalau bukan Mita. Kulihat perutnya sudah cukup besar. Aku berusaha untuk menerima kehadirannya.


"Mita, Hay... apa kabar?"


"Baik!"


"Harganya cuma 100 ribu, doang. Ambil saja! Kalau kamu 75 ribu aja, mau?"


Mita mengangguk lalu meberiku uang itu. "Mau!"


Aku memberikan piyama itu usai ku masukkan ke dalam kantong. Setelah memberikannya, Mita masih terdiam di tempat hingga membuatku memikirkan Rifki.

__ADS_1


"Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" tanyaku, khawatir karena Mita mengelus perut besarnya itu.


"Iya!"


"Apa aku boleh curhat sama kamu, Put?"


"Tapi ini udah malam, orang-orang sudah perlahan pulang ke rumah mereka masing-masing."


"Lima menit saja, Put. Aku tidak bisa memendam masalah ini lama-lama."


"Baiklah, kamu mau ngomong apa?"


Mita mengendus pelan. "Ini tentang Kak Rifki,"


"Dia udah 3 bulan ninggalin aku, dan aku merasa risih dan selalu marah karena Rival selalu datang menggaguku. Sampai tetangga banyak yang ngomong kalau aku selingkuh."


"Kenapa kamu tidak menerima saja si Rival?"


"Tiga bulan, dia emangnya kemana?"


"Aku menolak karena tidak suka dengan sifat aslinya, apa lagi yang kamu katakan barusan."


"Dia mencari ibu kandungya di Jakarta, Put!"


Mita memegang tanganku. "Tolong cari dia, sejujurnya bayi ini ayahnya adalah Rival. Karena... waktu itu Rival mengancamku menyuruhku untuk mengugurkannya tapi aku berkata lain bahwa aku harus mengakui kalau ini adalah anak Kak Rifki. Maafkan ak-"


"Cukup!"


"Hentikan, aku tidak mau mendengar ini lagi. Aku sudah tenang dan berdamai dengan diriku sendiri. Percuma aku mengurus Kak Rifki lagi dan kamu apalagi si Rival."


"Mulai sekarang, anggap aku orang yang tidak kamu kenali selama-lamanya."


"Putri, aku mohon jangan bilang begitu."


"Mau kau bawa-bawa masa lalu di saat kita masih sekolah, aku tidak peduli. Lagian kita dulu jarang mengobrol." Pungkasku lalu membereskan barangku kemudian pulang.


...Masa lalu, tak semua bisa dilupakan. Karena ada yang belum selesai dan harus di bereskan. Jika tidak, masalah itu akan semakin bertambah begitupun pikiran tak bisa ditenangkan. Jadi paksakanlah dirimu untuk menyelesaikan masalah dari masa lalu itu....


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2