
Hari ini adalah hari dimana saudari ibunya Budi menikah dengan ayahnya Ghino di Balroom apartemen Singapura milik Kirana. Kenapa? Karena Kinara saudarinya lahir disana.
Anaya kini berada di apartemen mewah, ia sedang bersiap-siap untuk mengunjungi pernikahan Kirana dan Pak Cleo. Anaya begitu cantik dan anggun usai memakai gaun pemberian dari ibunya Budi.
"Bajunya pas banget di badan aku!"
"Ohiya, astaga aku tak bisa make up. Hmmm... natural aja, deh."
Anaya berusaha untuk percaya diri. Anaya memang tak tahu make up tapi wajahnya masih cantik dan terlihat menarik.
Akad telah usai, semua tamu undangan lainnya tampak ceria menikmati suara musik dan berswa foto bersama kerabatnya masing-masing.
Anaya akhirnya masuk dengan penampilan luar biasa dengan wajahnya natural namun cantik. Ia menemui Kinara yang sedang asik mengobrol dengan rekannya.
"Bunda, maaf Anaya telat." Ucap Anaya usai menepuk pundak Kunara dari belakang.
Kinara tampak kagum melihat penampilan Anaya mulai dari ujung kaki sampai rambut. "Oh My God! Nay, kamu cantik banget!"
"Nggak kok Bunda, Biasa aja sih." Anaya malu-malu mendapatkan pujian dari Kinara dan rekan-rekan Kinara.
"Budi, sini-sini cepatan." Panggil Kinara ke putranya yang sedang melayani seorang tamu.
Budi akhirnya muncul, penampilannya begitu sangat tampan memakai kemeja hitam. Budi memicingkan matanya ke arah Anaya. "Anaya?" Gumam Budi ia begitu jatuh cinta melihat penampilan Anaya.
"Dengar dulu pemirsa, sebentar saja! Okey, Thanks for kalian. Sekarang waktunya dance," musik dansa akhirnya diputar. "Sekarang lakukan dance bersama pasangan kalian." Ucap sang pembawa acara kepada semua tamu undangan.
Budi mengulurkan tangannya ke arah Anaya, ia begitu tidak sabar untuk berdansa. "Nay, maukah kamu berdansa bersamaku?"
Detik itu, Ghino datang menemui Anaya dengan kepala botak nya. Ghino sama sekali tidak malu-malu dengan kondisinya sekarang. Ghino, cowo itu bahkan memakai kemeja merah muda persis seperti warna gaun Anaya yang ia pakai.
Budi terkekeh tak menerima kehadiran Ghino, sampai Kinara terlihat tak sabar sedang menunggu seseorang. Siapakah seseorang itu? Apakah Kinara juga akan memiliki pasangan.
Ghino berhasil meraih pinggang kecil Anaya lalu menariknya ke tengah-tengah sekumpulan tamu undangan yang sedang asik berdansa.
"Gino!" Anaya kaget, ia khawatir melihat wajah pucat Ghino sedikit nampak. Begitupun Ghino tak memakai topi untuk menutupi kepala botaknya.
Budi, ia tampak geram melihat Ghino berhasil berdansa dengan Anaya. Budi ingin mengambil bagian Ghino sebagai pasangan dansa Anaya tapi Kinara melarangnya.
"Ikut Bunda sekarang,"
__ADS_1
Kinara meraih tangan Budi keluar dari hotel sampai ke lobi. "Kita tunggu disini, ndk cukup 5 menit kok."
"Tunggu siapa, Bunda?" tanya Budi bingung.
Tiga menit kemudian, seorang perempuan cantik dengan wajah blasteran datang menemui Kinara. Apakah ini yang ditunggu ibunya Budi? Sepertinya Budi akan dipasangkan oleh ibunya dengan perempuan itu.
"Good morning, tante. How are you?" ucap perempuan itu sembari mencium punggung tangan Kinara.
"Fine, sayang. Oh hari ini kamu sangat cantik." Pujian Kinara ke perempuan itu.
Namanya adalah Hanna Aqila, pengusaha mudah terkaya kelima di Singapura sekaligus teman kerja Kinara. Ia adalah pengusaha perhiasan emas dan produk branded seperti alat make up dan pakaian.
Wajah Budi tampak malas, faktanya cowo itu tak suka perempuan hobi make up. Budi ingin kembali menemui Anaya namun Kinara menahan tangannya.
"Oh ini anak tante?" tanya Hanna, cewe itu langsung berdiri disebelah Budi dan menggandeng tangannya.
"Hay, Bud. Gua teman kerja mama kamu. Nama aku Hanna, salken." Ucap Hanna lirih.
Kinara diam-diam menginjak kaki Budi agar mau membalas pembicaraan Hanna.
"Salken, juga." Balas Budi dingin. Ia ingin sekali menghapus make up Hanna yang begitu tebal dan lipstiknya sangat merah.
"Hmm... Hanna ayo masuk!"
"Bunda sudah tidak sabar melihat kalian berdansa, yuk." Pinta Kinara seketika membuat mata Budi membulat tidak terima.
"What! Dance with she. Oh now, Bunda. Budi sama sekali nggak mau sama dia!"
"Budi! Jika kamu menolak, Kali ini Bunda membekukan Black card kamu." Ancam Kinara seketika membuat Budi menyerah.
Budi ingin mengadu ke ibunya, namun takut Black card nya dibekukan seperti tahun lalu.
Tahun lalu, Budi pernah menelantarkan perempuan asal Korea di Bali. Perempuan itu diperkenalkan oleh ibunya, Kinara. Dan perempuan itu adalah seorang Model yang cukup terkenal di Korea Selatan.
Ia melakukannya karena tak mengerti bahasa masing-masing. Budi pun risih karena perempuan itu mata duitan dan suka membeli pakaian mahal. Budi begitu dengan mudah mengerjai perempuan itu lalu meninggalkannya tanpa rasa peduli.
.........
Anaya meletakkan kedua tangannya diatas pundak Ghino sedangkan Ghino menyentuh pinggang kecil Anaya. Anaya tersenyum melihat Ghino tampak bahagia. Perlahan Ghino menyatukan ujung hidung mancungnya ke hidung Anaya lalu cowo itu mengecup kening Anaya lembut.
__ADS_1
"Cantik banget nih masa depan, gue." Batin Ghino tersenyum kecil.
Anaya tampak malu, ia tersenyum tipis sampai lesung pipi bagian kanannya terlihat. "Apaan sih, Gin. Malu tau."
"Nggak usah malu,"
"Serius gue!"
Ghino menghelanapasnya pelan , "Nay, maukah... kamu menjadi pacar aku?"
Bugh...
Jantung Anaya berdebar hingga menatap lekat wajah Ghino. "Kamu bercanda, kan?"
"Nggak, serius gue."
"Mau?"
"Ayolah, Ayah aku juga menunggu jawab dari pertanyaan ini."
Anaya tersenyum lebar sambil mengagguk sembari memeluk sejenak Ghino karena malu. "Ghino, kok jadi gini yah."
"Ya, aku mau."
Tanpa sadar, Anaya tidak mengetahui kalau Ghino memakai microphone clip on yang terselip di kerah baju miliknya.
Semua tamu undangan memberinya tepuk tangan dengan meriah hingga suara siulan juga dimana suara Pak Cleo sedang berteriak memberi selamat kepada putra tunggalnya. "Selamat, Nak! Cepatlah susul ayah!"
Ghino menujuk microphone clip on itu di kerah bajunya dan akhirnya Anaya sadar usai tampak bingung melihat orang-orang memberinya selamat dan tepuk tangan.
"Apa! Astaga ini membuatku malu." Ghino memeluk erat Anaya juga mencium ujung rambutnya.
"Terima kasih sudah menerima cintaku."
"Sama-sama! GINO."
Dunia serasa milik berdua, mereka begitu sangat bahagia hari ini. Semoga saja Anaya berhasil dan berjuang melawan kondisi pacarnya, Ghino yang lagi sakit. Anaya bahkan sama sekali tidak keberatan dan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk pacaranya agar cepat sembuh dari penyakitnya itu.
Anaya dan Ghino kembali melanjutkan untuk berdansa sambil bercanda dan di balik itu ada Budi yang lagi patah hati dihidupnya usai mendengar sahabat kecilnya sudah berpawang. Oh tidak, sepertinya lebih dari sahabat, Budi mencintai Anaya?
__ADS_1
Bersambung...