
Pak Cleo saat ini berada diruangan Dokter Frans. Ia sedang menanyakan kondisi putranya, Ghino. (Ghino sebenernya ini dipanggil Gino yah, teman-teman!) Wajah Pak Cleo saat inilah kembali tampak cemas karena takut penyakit putranya semakin parah.
OCD, sebenarnya bukan yang dialami Ghino tapi iya menderita penyakit jantung dan tumor otak. Neuroma akustik, inilah nama penyakit Ghino yang ia alami selama 3 tahun.
Namun Ghino tidak pernah menyerah, ia berhasil menyelesaikan kuliahnya juga berhasil menjadi pengusaha sukses dibawah ayahnya. Ghino saat ini mendirikan apartemen dan hotel di Jakarta dibantu oleh ayahnya.
"Dokter, bagaimana kondisi putra saya?" tanya Pak Cleo sembari menyentuh tangan Dokter Frans.
"Kodisinya masih tetap sama seperti yang saya katakan tahun lalu. Sepertinya tumor di otaknya akan lebih baik jika dioperasi bulan depan sebelum menyebar. Kalau soal jantung, yah... menurut saya dia akan sembuh jika tumor itu dihilangkan terlebih dahulu."
Pak Cleo tampak lega sambil memeluk pinggang Dokter Frans. "Terima kasih Dokter!"
"Jadi operasinya akan dilakukan dimana, dok?" tanya kembali Pak Cleo.
"Sepertinya di Korea Selatan, kamu bawa saja kesana putramu." Jawabnya sedikit pelan.
"Baik, Dok. Kalau begitu saya pamit dulu. Permisi!" pungkas Pak Cleo lalu keluar dari ruangan pribadi Dokter Frans.
Pak Cleo menuju ke ruang VIP dimana putranya dirawat disana. Ia pelan-pelan membukanya pintu itu lalu mengintip keadaan putranya dan Anaya. Senyum Pak Ghino tampak senang melihat putranya sedang memeluk Anaya menangis.
Pak Ghino berdeham lalu masuk ke kamar Ghino, ia menahan senyumnya. "Kenapa?"
Ghino mendorong Anaya karena ketahuan memeluk cewe itu. "Ayah, bikin kaget aja!"
"Gino, pikir Ayah pulang."
Anaya menghapus air matanya. "Maaf, Pak!"
"Loh kenapa minta maaf?" tanya Ghino ke Anaya.
"Tidak apa-apa, sepertinya aku harus pulang sekarang. Besok aku ada acara penting,"
"Pak Cleo, Nay izin libur dulu. Bunda mau ulang tahun dan aku harus memberinya suprise." ijin Anaya ke Pak Cleo.
Pak Cleo mengagguk, ia masih menahan rasa bahagianya. "Iya, tidak apa-apa,"
"Eh, Gino kamu kayaknya harus hadi juga besok. Kata dokter Frans kamu harus pulang karena ruangan ini akan dipakai sama pasien habis operasi jantung."
"Tapi, Yah. Gino-" Wajah Ghino jadi malas.
__ADS_1
"Tapi apa? sudahlah, jangan disini terus. Apa kamu tak merindukan rumah kita?" tanya Pak Cleo sedikit menegur.
"Baik, Ayah. Gino sekarang pulang ke rumah. Kalau begitu, Gino keluar dulu mau pamit sama Dokter Frans." Gino melempar senyum kecilnya ke arah Anaya aku keluar menemui Dokter Frans.
Pak Cleo tampak senang sampai melompat-lompat tiga kali seperti anak kecil. Ia duduk disebelah Anaya dan mengucapkan terima kasih sudah membuat Gino pulang kerumahnya.
"Nay, apasih yang kamu katakan sampai Gino mau pulang kerumah?" tanya Pak Ghino super penasaran
.
Flasback...
Detik itu, Anaya tiba-tiba melihat seorang nenek tua sedang duduk di kursi roda. Nenek tua itu tersenyum ke arah Anaya hingga membuatnya menangis. Anaya menangis karena mengingat neneknya yang sudah meninggal.
Anaya kembali masuk ke kamar VIP Ghino, ia duduk disofa sambil menangis sejadi-jadinya.
"Lo, kok nangis?" gumam Ghino merasa bersalah.
Ghino, cowo itu perlahan mendekati Anaya lalu duduk di sebelahnya. "Apa ada yang terluka?"
Anaya semakin menangis, ia semakin mengingat kenangan lamanya bersama Lita.
Anaya menggelengkan kepalanya sambil menatap lekat wajah Ghino. "Bukan salah kamu."
"Terus kenapa? Are you okey?"
Anaya semakin menangis. "Nenek aku meninggal disini, tadi aku lihat nenek-nenek diluar senyumin aku terus tiba-tiba aku malah nangis. Aku tak bisa lama-lama disini."
Ghino memeluk Anaya, ia meletakkan dadanya diatas kepala Anaya karena tubuh cewe ini mungil. Bisa dibilang tinggi Ghino hampir 180 cm sedangkan Anaya tingginya hanya 160.
"Maaf, aku harus cuci muka dulu." Anaya berdiri lalu ingin masuk ke kamar kecil.
Ghino menarik tangan Anaya dan kembali duduk di sofa. "Nggak usah cuci muka, wajah kamu masih cantik kok."
"Serius?"
Ghino mengagguk sambil menatap wajah Anaya lekat. Ghino bahkan mengambil sehelai bulu mata Anaya yang jatuh ke pipinya. "Ada apa dengan jantungku?" batin Anaya, detak jantungnya berdebar-debar.
"Kamu mau nggak jadi teman aku?"
__ADS_1
"Jujur, dari sekian banyaknya perempuan yang diajak ayahku kemari karena ayahku ingin melihat aku harus punya kekasih. Usai kuberitahu penyakit dia langsung pergi atau besoknya tidak datang lagi."
"Sebanyak apa sih cewe-cewe yang diajak ayahmu kesini?" tanya Anaya penasaran.
"Kurang 30 orang sih pikirku. Dan kamu yang terakhir. Mau jadi teman aku?"
Anaya tertawa kecil. "Haahaha... Hanya karena kamu OCD, cewe-cewe pada jauhin kamu. Huh, ndk ada yang bisa mengalahkan kesabaran aku."
Keningnya berkernyit. "OCD, siapa bilang begitu?"
Ayana sedikit syok. "Eh, ayah kamu!"
"Bukan OCD tapi aku... tumor otak dan selalu terkena serangan jantung." Jawab Ghino seketika membuat Anaya kembali menangis. Ia mengingat kembali neneknya. Dulu waktu Lita masih muda, ia mengidap penyakit seperti yang dikatakan Ghino tadi.
Lita mengidap penyakit itu selama 3 tahun dan berhasil dioperasi oleh dokter yang berasal dari Amerika dan Korea. Lita bertahan sampai manula dan diusia itu, penyakitnya kembali tumbuh.
Lita merahasiakan penyakitnya disaat umur Anaya 16 tahun sampai ajal menjemputnya satu minggu yang lalu dirumah sakit ini. Hal itu karena Lita tak mau membuat beban pikiran cucunya semakin bertambah.
Sehari setelah Lita dimakamkan, Anaya kembali ke rumah sakit untuk menemui Dokter tua bersama Budi. Ia bertemu karena semalamnya Anaya mendapat berkas-berkas hasil operasinya Lita beberapa tahun yang lalu.
Setelah menemui Dokter tua itu, Anaya menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Budi. Ia kecewa seharusnya memaksa Neneknya periksa kesehatan waktu itu.
"Jadi serius kamu nggak, OCD?" Anaya kembali menarik pertanyaannya.
"Iya!" jawab Ghino ingin mengomeli ayahnya karena berbohong.
"Penyakit itu yang kamu alami mirip sama penyakit Nenek aku dulu." Ujar Anaya sambil menutup wajahnya dan menangis.
Ghino memeluk Anaya kembali, "Jangan menangis! kamu harus kuat dan ikhlaskan Nenek kamu." Sambil mengusap ujung kepala Anaya.
Pak Cleo kembali keruang VIP dimana putranya dirawat disana. Ia pelan-pelan membukanya pintu itu lalu mengintip keadaan putranya dan Anaya. Senyum Pak Ghino tampak senang melihat putranya sedang memeluk Anaya menangis.
Pak Ghino berdeham lalu masuk ke kamar Ghino, ia menahan senyumnya. "Kenapa?"
Ghino mendorong Anaya karena ketahuan memeluk cewe itu. "Ayah, bikin kaget aja!"
"Gino, pikir Ayah pulang."
Anaya menghapus air matanya. "Maaf, Pak!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...