Kumpulan Cerpen Romantis

Kumpulan Cerpen Romantis
Anaya & Ghino (Married & Sad)


__ADS_3

Sekarang Budi, Kinara, dan Anaya sudah dirumah. Mereka duduk diruang tamu karena capek usai menghadiri pernikahan Kirana dan Pak Cleo. Tak hanya mereka yang ada, Hanna pun ikut. Hanna sekarang duduk disebelah Kinara, wajahnya tampak senang campur sedih menunggu Kinara mengeluarkan pembicaraannya.


Sedangkan Anaya hanya duduk sambil bepangku tangan, wajahnya sama sekali tidak berani menatap wajah Hanna yang begitu kesenangan.


"Budi, Bunda mau ngomong sesuatu sama kamu." Ucap Kinara lembut.


Budi mengendus kasar, ia menyilangkan tangannya dibawah dada sambil duduk bersantai. "Ya, apa Bund?"


"Bunda mau, kamu minggu depan lamar Hanna." Jawanya seketika membuat Budi tekejut dan matanya membulat.


Budi tersedak usai meneguk sedikit teh-nya. "Apa! Melamar dia," Budi menggeleng tidak terima. "Nggak, Bunda. Budi sama sekali tidak mau melamar perempuan itu. Itu bukan tipe, Budi."


"Lalu tipe kamu seperti siapa, Budi." Ancam Kinara spontan menampar pipi putranya.


Budi melirik Anaya yang sedang menunduk kepala, Kinara mengerti seperti apa tipe wanita yang diinginkan putranya. Ternyata tipe wanita itu ada didepannya, dialah Anaya.


"Oh, jadi tipe kamu adalah Anaya?"


"Budi, Anaya itu... punya Gino."


"Bunda kenapa Anaya saja, Bunda. Anaya, aku... suka sama dia dan aku juga sayang sama dia."


Bugh...


Apa benar Budi yang ngomong itu barusan?


Mata Anaya membulat penuh rasa kaget. Ia berdiri setelah melihat tatapan sinis Hanna. Anaya menuju ke kamarnya karena tak mau melihat Budi seperti itu.


"Anaya, tunggu." Panggil Budi, ia hendak meraih tangan Anaya tapi Kinara menahan lengannya keras.


"Budi,"


"Jangan buat Bunda jadi malu karena kamu. Sejujurnya Bunda sudah merencanakan ini sejak lama dan menceritakan kepada orangtua Hanna,"


Sambil mengeluarkan berkas dari tasnya, berkas itu diberikan kepada Budi dengan cara kasar. "Lihat ini!"


Budi mengambil berkas itu, ia melihatnya dan dibuat syok. Ternyata berkas itu terdapat data hasil kesehatan Kinara. Budi baru tahu, Ibunya menderita tumor otak sama seperti yang dialami Ghino.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Sejak kapan Bunda sakit?"


Kinara mulai menangis, "Sudah lebih 6 bulan. Kenapa Bunda menyuruh kamu secepatnya punya istri, karena takut Bunda tak bisa menggendong cucu, Budi."


"Tolong ikuti kata Bunda. Bunda mau kamu secepatnya menikah. Menikahi Hanna, Bunda suka sama orangtua dia karena mereka menolong kita dan membuat keadaan ekonomi kita seperti ini."


Budi berbalik badan, ia mendengar suara tangisan Anaya dari dalam.


Anaya kembali mendekati mereka, tepatnya Budi. Ia berhadapan dengan Budi dan memberinya ketenangan.


Anaya mengendus pelan. "Budi, turuti apa kata Bunda,"


"Bukankah kita hanya sahabat. Jujur, meskipun kamu menyukai aku, aku tetap saja cinta dan suka sama Gino,"


"Jadi, tolong segera lamar Hanna. Aku yakin kamu bahagia, kok. Perlakukan dia seperti dimana kamu meperlakukan aku seperti seorang ratu di sekolah."


Kinara hanya mengangguk setuju dengan perkataan Anaya barusan. Detik itu Gino muncul dibelakang Anaya. Ghino pun tersenyum setelah mendengar kalau Anaya cinta dan suka sama dirinya.


Budi menarik tangan Ghino keluar dari rumah, tujuannya adalah taman. Budi memberi saran dan sedikit cerita untuk Ghino sebelum dirinya melamar Hanna.


"Gue bawa lo keluar disini bukan karena merebut Anaya ataupun berantem,"


"Gue, mau lo jaga Anaya baik-baik. Perlakukan dia seperti seorang ratu dan jangan buat Anaya menangis. Seburuk apapun kondisi kamu...," air mata Budi seketika menetes di pipinya. "Tempat pulang Anaya adalah kamu sendiri. Karena sebulan lagi... gue mau lanjut kuliah diluar negeri."


Usai berpelukan, Budi menepuk pundak Ghino sambil tersenyum. "Nay, kemari!" Panggil Budi ke Anaya yang sedang berdiri di teras rumahnya.


Anaya mendekati Budi dan Ghino. "Ya, ada apa?"


Budi meraih tangan Anaya dan Ghino lalu mempersatukan kedua tangan itu. "Semoga hubungan kalian langgeng, yah!"


"Nggak usah kayak gini, Bro. Kayak mau ngilang aja lo bikin suasana makin sedih." Ghino berusaha merubah suasana menjadi ceria.


"Ya, kamu juga. Awas, yah kalau nggak! Gue tabok kepala kamu." Ucap Anaya ke Budi.


"Tabok aja, gue kangen sama perlakuan itu."


Anaya memukul kepala Budi sedikit keras. Budi hanya tersenyum sambil mengelus ujung kepala Anaya. "Cengennya di kurangin yah. Ingat, kamu sudah dewasa."


"Iya, Aku tau perasaan kamu hancur banget. Maaf yah. Pokoknya Hanna cocok sama kamu, aku dukung kok."

__ADS_1


"Direstuin? nggak? tanya Budi berusaha tersenyum.


"Iyalah! Demi Alex, Bambang dan Tokek, gue restuin hubungan lo!" jawab Anaya sambil tertawa.


"Nggak sopan, kamu!" omel Budi ke Anaya.


Disini sekarang Budi dan Hanna, diatas pelaminan usai 3 pekan mengadakan acara lamaran. Penampilan Hanna begitu elegan dan manglingi dimana gaun pernikahannya bernuansa putih dan dibaluri berlian silver di gaun itu. Sedangkan Budi memakai jas silver dan terlihat serasi dengan Hanna.


"Selamat, Bud! Cie yang lagi dipertemukan dijodohkan pula padahal tuh si Hanna capek-capek kejar lo selama 3 tahun." Ucap Zean, teman sebangku Budi semasa SMA, ia hadir tanpa di undang dan membuat Budi heran juga menahan malu sekuat-kuatnya.


"Apaan si loh, Zainudin. Lo gimana? udah punya bini?" tanya Budi ke Zean.


"Udah, 3 kali menikah tapi belum punya anak." Jawab nya membuat Budi syok sambil menyentuh dadanya.


"Astgfirullahalzim, Zen. Lo udah menduda lagi, lo memang nggak ada malunya!" Budi bergeleng heran.


Akad sudah usai, Budi sangat lancar mengucapkan ijab qabul disaksikan oleh penghulu dan para wali dari pihak mempelai laki-laki dan perempuan.


Tak disangka-sangka, Kinara tiba-tiba terjatuh pingsan setelah melihat putranya akad. Kinara, saat ini berada dipangkuan Budi. Budi menangis tersedu-sedu usai Ghino memastikan bahwa Kinara sudah tiada.


"Bunda...,"


"Bunda tolong bangun, Bunda. Bunda bukan mau lihat cucu dari aku. Bunda bangun, Bund."


Pelan-pelan Anaya duduk disebelah Kinara. Ia menangis histeris lebih parah daripada Budi. Anaya baru tahu kalau Kinara punya penyakit yang disembunyikan.


"Bunda, jangan seperti nenek aku. Kenapa Bunda harus seperti ini seperti nenek aku yang suka merahasiakan penyakitnya."


"Bunda bangun! Nay, Mohon. Tolong Bunda, bangun!"


Ghino memeriksa nadi dan pernapasan Kinara yang sudah tak bernyawa membuat Budi dan Anaya tambah histeris.


Pemakaman Kinara akhirnya selesai sore ini. Budi belum beranjak dari makam ibunya sudah hampir satu jam ditemani oleh Anaya, Hanna, dan Ghino.


Anaya membantu Budi berdiri lalu memeluknya lembut.


"Nay, Bunda aku sudah pergi selama-lamanya. Nay, kini aku sendiri."


"Kamu nggak sendiri, Kok. Ada aku, istri kamu dan Ghino juga tante kamu. Ayo pulang, hujan akan turun."

__ADS_1


Kehilangan seseorang yang dicintai memang menyakitkan namun harus diikhlaskan. Jadi bagaimanapun itu keadaan keluargamu. Tetaplah berada diposisi nya. Agar kelak tak ada penyesalan terdalam yang membuat lubuk hati sangat sakit.


Bersambung...


__ADS_2