Kumpulan Cerpen Romantis

Kumpulan Cerpen Romantis
Love In Pantai Losari (Debat Tentang Cinta!)


__ADS_3

Perjalanan menuju ke kost-kostsan Rifki, ternyata menghabiskan waktu 30 menit dari pantai. Aku dan dia memutuskan singgah ke mesjid untuk melaksanakan salat Magrib lalu melanjutkan perjalanan menuju ke kost-kostsannya.


Setelah kami berdua melaksanakan salat maghrib, kami melanjutkan perjalanan pulang sambil melewati jalan tol agar cepat sampai ke tujuan.


"Ngomong-ngomong. Aku jarang banget lihat kamu di sekolah dulu. Kamu anak pramuka atau PMR?" tanya Rifki kepadaku.


"A aku... anak PMR. Aku orangnya tertutup. Sukanya di kelas mulu, jarang keluar kelas karena aku itu... orangnya introvert banget dan sampai sekarang pun begitu kecuali kalau aku udah terbiasa bertemu." Jawabku sambil fokus mengemudikan mobilku.


Sambil menyalakan ponselnya. "Jadi seperti itu... boleh berteman, nggak? Nama Facebook kamu apa?"


Tanpa ragu, Aku sama sekali tidak menolak, "Boleh banget lah, Kak. Jujur, aku udah minta pertemanan dengan kakak sekitar beberapa tahun yang lalu pas aku duduk di kelas dua SMK. Tapi... Kakak nggak konfirmasi." Jawabku membuatnya sedikit syok.


"Lama juga ternyata," sambil mencari namaku di ponselnya. Setelah 3 menit Kak Rifki akhirnya menemukan namaku di ponselnya, ia menkonfirmasi dan akhirnya aku dan dia sudah berteman di Facebook. "Udah, maaf yah!"


"Nggak apa-apa kok." Wajahku penuh malu namun aku ingin mengungkapkan kata hatiku, "Jujur, dulu... aku itu ingin banget dekat sama Kakak tapi aku sadar kalau aku dulu orangnya nggak cocok banget sama siapa-siapa."


"Hmmm... Kakak udah makan, nggak?" tanyaku lirih sambil melirik restoran favoritku di seberang jalan.


"Belum!" Jawabnya singkat, aku mengamati sejenak gerak-gerik tangannya sedang memaini ponselnya. Kulihat dia memeriksa bio atau isi Facebook milikku yang isinya hanya postingan lama sekitar 10 tahun yang lalu.


"Kamu jarang pakai Facebook ya?" tanya Kak Rifki kepadaku sambil menyimpan kembali ponselnya didalam tasnya.


"Jarang banget, post foto-foto dan vidio pun nggak pernah. Aku aktifnya di WhatsApp aja." Jawabku sambil memberikan kartu namaku yang terselip di saku bajuku.


"Ini, disini ada no WhatsApp aku dan alamat rumah aku." Aku menarik napasku pelan lalu mengendusnya dengan lembut. Aku menghentikan mobilku di depan restoran favoritku. Tampak restoran itu cukup mewah dan unik juga memiliki pemandangan laut.


"Makan dulu, yuk!" Aku turun dari mobil, Rifki pun menurutiku. Sekarang dia berdiri di sampingku dan bersiap-siap untuk masuk ke restoran.


"Kayaknya makanannya enak tapi mahal deh!" kulihat aut wajah Rifki sedikit mengeluh.


"Udah, aku yang bayar karena kebetulan Kakak sebentar lagi menjadi karyawan aku." Aku menarik penggelangan tangannya.


Tiba-tiba, aku tidak sengaja berpapasan dengan seorang wanita yang sedang memeluk buket bunga dan boneka beruang. Wanita itu bersama kekasihnya juga wajahnya sangat familiar bagiku.

__ADS_1


"Mita!" Suara itu keluar dari mulut Rifki diiringi dengan raut wajah kecewa hingga kulihat tangannya mengepal kuat.


"Mita, wah! Kayaknya habis di suprise-in sama pawangnya. Selamat!" Ucapku, aku melirik wajah Rifki yang masih kecewa.


"Hmmm... kok aku merasa nggak nyaman yah disini." Batinku membuat suasana hatiku jadi aneh sendiri.


"Putri, kamu ngapain disini dan sama dia?" tanya Mita kepadaku. Kulihat wajahnya tampak panik dan tak berhenti menatap Rifki.


"Aku baru saja bertemu dia di pantai Losari, intinya dia ditinggal sama Kak Riko terus aku ada disana. Hmmm... aku ingin mengantar dia pulang ke kost-kostsan dia setelah makan malam disini." Jawabku agak bertele-tele karena merasa grogi.


Rifki meraih tanganku untuk kembali ke mobil. Dia mengambil kunci mobil ditanganku dan menyuruhku naik. "Naik! Kita makan di lain tempat aja."


Detik itu Mita datang menahan tangan Kak Rifki yang hendak membuka pintu mobil. "Stop! Kamu salah paham. Aku bisa jelasin, please!"


"Percuma di jelasin kalau kamu ternyata belum move on sama dia." Rifki menegur Mita hingga membuatku panik.


Aku mendekati Kak Rifki dan berdiri tepat di sebelahnya. "Ada apa ini?"


"Jadi... Kak Rifki sama Mita pacaran?" tanyaku sambil melirik mereka berdua.


"Oooh... jadi kamu khianati aku." Sambil menepuk pundak Mita, "Oke-oke... kamu memang cocok sama Rival karena dia kaya dan serba ada." Sindir Rifki ke Mita.


Mita tiba-tiba menangis, ia tampak bersalah sambil menghempas buket dan boneka itu ke tanah. "Kak Rifki, maafkan aku. Aku nggak akan ngulangi ini lagi."


"Percuma, mendingan kamu sama dia aja. Kita putus!" bentaknya, lalu masuk ke mobilku.


Akupun ikut saja. Sepuluh menit kemudian, aku dan Rifki akhirnya sampai di tempat tujuan. Kulihat wajahnya masih cemberut campur kecewa. Aku mengelus pundaknya dan berusaha menenangkannya.


"Sabar, aku nggak tahu kalau Kakak sama Mita pacaran."


"Sabar yah, Kak!"


"Putri, aku sama dia itu udah 2 tahun bersama. Bagaimana bisa dia khianati aku."

__ADS_1


"Please, bagaimana nih? hati dan perasaanku hancur banget."


"Seharusnya aku nggak tahu aja. Tapi kini udah berlalu."


Aku mengamati jam tanganku sejenak. Jam sudah menujukkan pukul enam lewat limapuluh menit. Dimana jam sibuk aku sebentar lagi untuk bekerja di toko butik, selain itu di gramedia untuk mengurus novelku yang akan kuterbitkan.


"Maaf yah, Kak. Aku harus terburu-buru pulang! Kayaknya besok kita tidak bertemu, aku lagi sibuk banget. Aku pergi dulu yah, Assalamualaikum!" Pungkasku, aku pergi begitu saja meninggalkannya.


Sampailah aku di rumah, aku terburu-buru mengganti pakaianku usai mandi. Tanpa makan malam, aku menuju ke mall untuk mengurus kedua karyawanku di toko.


Sesampainya disana, aku merasa kurang fokus untuk bekerja. Karena dipikirkanku hanya memikirkan Kak Rifki terus.


Aku bahkan melamun hingga membuat seorang costumer hampir marah.


"Kak, Kak Putri kenapa? Tumben mukanya kayak gini. Biasanya ceria banget." Ucap Pingky, karyawanku yang umurnya masih delapan belas tahun.


"Oh tidak apa-apa, Kok!"


"Barangnya sudah berapa yang laku?" tanyaku ke Pingky, karyawanku.


"Baju kimono satu set dan satu set gamis abaya nya habis Kak!" Jawabnya.


"Oh kalau begitu, aku akan menjahit mulai besok. Hmmm... aku ke gramedia dulu yah. Ada yang mau ku urus."


"Semangat, besok kalian gajian." Pungkasku lalu pergi.


"Ngomong-ngomong, Kak Putri biasanya beliin kita boba dan martabak asin. Kok dia tampak banyak pikiran yah!" Ujar Lily ke Pingky.


"Iya, udah... besok gajian. Mari kita semangat!"


Sepanjang jalan, aku masih memikirkan nasib Rifki setelah putus dengan Mita. Oh Mita... kamu kejam banget, Haruskah aku yang menggantikan si Mita aja!


Pengen deh jadi pacarnya kak Rifki!

__ADS_1


Putus Cinta, kata itu memang menyakitkan hati dan perasaan. Selain menyakitkan hati dan perasaan, putus cinta juga malah membuat kepala sakit. Karena sulit melupakan kenangan manis. Oh, begitulah pacaran.


Bersambung...


__ADS_2