Kumpulan Cerpen Romantis

Kumpulan Cerpen Romantis
Anaya & Ariko (Mom's Birthday.)


__ADS_3

Flasback...


Pukul enam pagi, Anaya keluar rumah tanpa pamit. Ia pergi menemui Ghino di rumahnya karena Pak Cleo meneleponnya. Sampailah dikediaman Ghino, Anaya tampak kagum melihat kemewahan rumah bak istana milik Pak Cleo. Anaya bahkan kagum melihat wajah ibu kandung Ghino yang begitu cantik paras wajahnya.


Ia masuk diikuti dua orang pelayan ke arah ruang tamu. Anaya duduk diatas sofa sambil memandang kiri kanan ada banyak pelayan dan bodyguard yang sedang berdiri tegak di setiap sudut ruangan. Anaya pun kepikiran kalau Ghino pasti tidak bisa bebas keluar rumah karena memiliki banyak bodyguard di rumahnya.


"Silahkan dinikmati," Ucap sang pelayan sembari menaruh secangkir teh diatas meja buat Anaya.


"Terima kasih, Mbak!" balas Anaya lembut.


Anaya meneguk sedikit teh-nya lalu terburu-buru berdiri usai melihat Pak Cleo turun dari tangga lantai dua. Pak Cleo diikuti oleh seorang perempuan dibelakangnya dan membuat Anaya syok. Kinara, perempuan itu?


Tidak bisa di biarkan, jangan sampai Ghino dan Budi akan disatukan di keluarga ini.


"Bunda!" Panggil Anaya, matanya membulat masih tidak menyangka ibunya Budi dekat dengan Pak Cleo.


Kini Pak Cleo dan Kinara duduk di sofa. Wajah Anaya penuh bingung kenapa Kinara sama sekali tidak mengenalnya. Apakah Kinara memiliki saudara kembar.


Anaya memanggilnya kembali hingga membuat Pak Cleo cengengesan.


"Bunda!" panggil Anaya dua kali.


"Siapa yang kamu panggil Bunda?" tanya Pak Cleo ke Anaya, ia berpikir Anaya kemari bersama bundanya.


"Ka-kamu Anaya, kan?"


"Bukankah kamu anak angkat-nya saudariku, Kinara?"


Bugh...


Anaya menghela napasnya pelan, ia salah menduga. Anaya tersenyum menyapa, pertama kali melihat saudari ibunya Budi yang begitu sangat kembar. Anaya bahkan baru menyadari perbedaan dari mereka. Kinara memiliki rambut sebahu sedangkan saudarinya bernama Kirana memiliki rambut sedada dan memiliki tanda tahi lalat di dagu sebelah kanannya.


"Maaf, saya kira anda adalah Bundaku." Ucap Anaya lirih.


"Tidak apa-apa, hari ini ulang tahunnya begitu juga saya,"


"Hari ini saya mau berangkat ke Singapura bersama Pak Cleo, untuk merayakan pernikahan besok lusa." Ujarnya sambil menggenggam tangan Pak Cleo.


"Selamat buat kalian, semoga acaranya lancar!"


Anaya melihat ke arah tangga, ia menunggu kedatangan Ghino. Dimanakah cowo itu? Kenapa lama sekali padahal semalam Ghino mengirim pesan bahwa ia akan kerumah Budi pukul enam pagi.


"Anak itu belum bangun, Nay. Itulah Bapak menelepon dan menyuruhmu kesini pagi-pagi,"

__ADS_1


"Bu Cici, tolong antar anak ini sampai depan pintu kamar Gino." Perintah Pak Cleo ke salah satu pelayannya.


Anaya sekarang berada didepan pintu kamar milik Ghino, ia sudah mengetuk berulang kali pintu kamar Ghino tetap saja tidak ada suara dari dalam. Anaya terpaksa membuka pintu kamar Ghino lalu masuk.


"Ya ampun, Gin." Gumamnya sembari menarik selimut Ghino.


Anaya menguncang lengan tangan Ghino tetap saja Ghino tidak bangun. Anaya, cewe itu mencoba menarik kuping telingan Ghino laku mencubit hidupnya agar Ghino bisa bangun.


"Ya ampun, Gino. Kalau kamu tidak bangun, Nay nggak jadi ngajak kamu hadiri ulang tahun bunda."


Detik itu Ghino akhirnya membuka kedua matanya sambil tersenyum miring. Cowo itu terbagun sambil duduk diatas tempat tidurnya lalu memeluk badan kecil Anaya yang sedang berdiri.


"Kita akan terlambat kalau kamu gini terus, ayo bergegas mandi baru kita ke rumah Budi,"


"Budi lagi, Budi lagi... aku tak suka sama mukanya." Batin Ghino lalu menengok ke atas membandingkan wajah Anaya.


"Nay, terima kasih sudah mau menerima kekuranganku,"


"Jika aku sembuh dari penyakitku, aku... janji akan menikahi kamu."


"Apa kamu mengira ini mimpi." Anaya mencoba mencubit kedua pipi Ghino.


Ghino meringis kesakitan, ia menegelus kedua pipinya, "Aduh, astaga!" Ghino melirik jam alarm-nya diatas nakas. "Aku telat 30 menit!"


Wah, sangat mewah, pikir Alana sambil menunggu.


Beberapa menit kemudian, Ghino akhirnya sudah bersiap-siap untuk berangkat kerumah Budi. Usai pamit, Ghino dan Anaya sedang menaiki mobil pribadi milik Pak Cleo menuju ke rumah Budi. Mereka diikuti lima orang bodyguard dari belakang dengan mobil terpisah.


"Apakah bodyguard itu mengikuti kita sampai dirumah?" tanya Anaya ke Ghino.


"Ya!" Jawab Ghino singkat sambil memaini laptopnya.


"Sungguh terlalu, kenapa nggak suruh mereka balik aja ke rumahmu. Bagaimana kalau mereka pulang aja usai menjemput kita sampai depan rumah Budi aja."


"Ya!"


Anaya mengendus kasar, ia berdeham dengan wajah sedikit merah. "Ya! Kalau gitu kamu balik aja kerumah kamu."


"Tidak!" balas Ghino lalu menutup laptopnya. "Sudah."


"Maaf, aku habis mengirim file bisnis ke manajerku lewat email."


"Kamu sakit, masih tetap saja bekerja." Omel Anaya ke Ghino.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok, Nay. Hari ini kita mau kerja apa?" tanya Ghino sambil mengusap ujung rambut Anaya.


"Buat dekorasi ultah, kue ultahnya biar Budi yang urus. Katanya mau buat sendiri. Pasti dia sekarang cari aku karena aku nggak pamit sama dia." Wajah Anaya tampak muram.


"Pasti habis bertengkar, yah?"


"Udah, jalani saja hari ini."


...


"STOP!" bentak Anaya pusing mengurus kedua cowo itu si Budi dan Ghino yang kini tak ada habis-habisnya beradu mulut.


"200 gram!" Ucap Budi lembut namun wajahnya seakan-akan mengajak Ghino brantem.


Anaya mengambil alih untuk menyelesaikan misinya membuat kue ulang tahun. 1 jam kemudian, kue ulang tahun itu akhirnya selesai dan sudah terletak didepan dekorasi yang dibuat Anaya dan Ghino tadi.


Detik itu, Kinara datang dan langsung menemui putranya, Anaya, dan Ghino juga bodyguard yang sedang memantau dipinggir kolam renang.


Budi terkejut, ia baru melihat kelima bodyguard Ghino. "Astaga, yang benar saja."


"Happy birthday, Bunda!"


"Happy birthday,"


"Happy birthday,"


"Thank you, Budi dan Nay... Eh Ghino, kamu juga ada!"


"Bagaimana kondisi kamu?" tanya Kinara ke Ghino.


"Baik, tante!" balas Ghino lirih.


"Kok, Bunda kenal sama dia?" tanya Budi bingung ke ibunya.


"Papanya, dia adalah calon suami tante kamu, Kirana." Jawabnya membuat Budi hanya mengagguk mengerti.


"Oke... sekarang kita tiup lilinnya!" Seru Anaya membuat suasana menjadi ceria.


Setelah Kinara mencium lilin kue ulang tahunnya. Ia memberi hadiah ke Anaya, yaitu gaun merah muda untuk menghadiri pernikahan Kirana dan Pak Cleo nanti. Anaya mencoba melihat gaun itu dan wajahnya penuh kagum dan bahagia.


Setelah itu, Anaya dan Budi memberinya hadiah ulang tahun ke Kinara. Juga Ghino ikut memberinya kado berisi tas branded mewah dan mahal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2