
Hay, Perkenalkan namaku Putri Aulia Syam. Aku lahir di Bulukumba dan bekerja di Makassar, Sulawesi Selatan. Sekarang umurku sudah memasuki usia 23 tahun dan aku masih jomblo.
Soal pekerjaan, aku bekerja atau berbisnis sebagai tukang jahit, henna untuk wanita yang ingin menikah, dan menjadi penulis novel kurang lima tahun.
Soal penampilan, aku suka memakai pakaian tertutup yaitu hijab dan memakai baju abaya, gamis, dan pokoknya pakaian longgar lah!
Hehehe... kalau soal mantan, aku sama sekali nggak pernah pacaran tapi aku pernah jatuh cinta sama kakak kelas aku saat dimana aku pertama kali menginjak kakiku di SMK.
Aku jatuh cinta sama kakak kelas aku bernama Rifki Muhammad, dimata dan pikiranku... dia itu orangnya baik, perhatian, pintar, dan sedikit arogan. Aku jatuh cinta sampai ingin rasanya mendekatinya.
Namun aku sadar, kalau aku dulu orangnya lugu, culun, pendiam, dan hanya kurang 10 orang yang tahu tentang diriku. Yaitu teman masa SMP dan SD Aku.
Waktu dimana masa-masa memasuki MOS (Masa Orientasi Siswa) atau dimana senior-senior sedang mendidik para juniornya. Aku itu tak berhenti melirik wajahnya yang begitu tampan dan ingin sekali kumiliki.
Aku bahkan pernah ditolong sama dia karena tak bisa mendorong motorku ke parkiran motor sekolah. Ah, seandainya aku cantik dan terlihat menarik mungkin dia akan memgajakku berbicara. Jadi, Aku hanya diam saja memendam perasaanku.
Oke-oke Friend, langsung saja ke jalan ceritanya dimana aku dan dia bertemu sampai pacaran. Pada suatu hari, Aku sedang memarkirkan mobilku di tempat parkiran dekat Pantai Losari.
...Sabtu, 01 January 2022......
Aku memiliki mobil, hadiah dari ayahku 5 tahun yang lalu karena aku berhasil mencapai impianku setelah gagal kuliah. Yaitu... menjadi TATA BUSANA dan berhasil membuka toko di Mall Makassar.
Setelah aku memarkirkan mobilku, Aku keluar dari mobil sambil membawa tas dan satu kamera digital. Pada sore hari sekitar jam lima sore, Aku berjalan santai sambil menikmati matahari yang sebentar lagi akan terbenam. Dan juga tak lupa memotret beberapa pemandangan yang yang membuatku tertarik seperti laut dengan perahu dan mesjid 99 kubah.
"Wah...!" Mataku bersinar sambil menikmati band jalanan yang bermain musik.
Aku tak lupa memberi uang seharga 50 ribu ke kaleng yang terletak di depannya. Tak lupa juga, Aku memotret tampilannya yang begitu unik karena memakai alat musik tradisional adat (Bugis) Makassar.
Setelah itu, aku duduk sejenak di kursi taman sambil menikmati teh botol dan kripik qetela kesukaanku. Matahari hampir terbenam, aku ingin memotret diriku namun bagiku terlalu sulit dan ingin minta tolong kepada seseorang.
__ADS_1
Kebetulan detik itu, aku melihat dua orang laki-laki membelakangiku dan sedang berdiri di belakang kursi taman yang kududuki. Mereka kompak memakai jaket jeans berwarna biru tua dan celana jeans panjang berwarna hitam juga salah satu dari mereka ada yang memakai topi.
Tanpa ragu, Aku meminta tolong kepadanya dengan cara menepuk pundaknya dari belakang. Dia terkejut sambil berbalik badan ke arahku bersamaan dengan temannya.
"Maaf, boleh minta tolong!" pintaku lembut.
"Ka- kak... Rifki!" batinku membuat jantungku berdebar tak jelas. Ditambah lagi temannya langsung mengenaliku hingga membuat kedua pipiku memerah karena malu.
"Kayaknya, aku pernah lihat. Tapi dimana?" sambil berpikir. "Aaaaah, kamu sekelasnya Mita, kan?"
Aku mengangguk tanpa melihat wajah mereka, suasana itu membuatku malu sendiri sampai tak sadar kalau matahari sudah terbenam setengah.
"Iya, Aku teman sekelasnya Mita." Jawabku penuh rasa gugup.
"Udah cantik banget nih anak, padahal dulu dia anaknya suka di ledek ditambah lagi bahan tawaan karena saking cupu dan culunnya kasihan!" Riko, adalah nama teman Rifki. Dia adalah Kakak pemimpin dimana aku di MOS waktu itu.
"Putri, Nama kamu Putri kan? Udah cantik banget nih anak!" lagi-lagi dia memujiku sampai tak sadar kalau seorang perempuan sedang memantauinya dari tadi dibelakang.
"Sadar, Bro. Pawang lo ada di belakang lo!" Rifki menyadarkan temannya. Riko berbalik badan, ia dengan refleks merangkul bahu pacarnya lalu membawanya ke parkiran.
Kini hanya kami berdua di tempat itu, hatiku masih berdebar hingga kata-kata yang ingin kukeluarkan dari mulutku masih terasa canggung.
"Mau minta tolong apa? Dik!" Oh Tuhaaan... suaranya gitu loh. Membuatku salting seribu kali dalam diam. Apakah tidurku akan nyenyak nanti malam?
Ah... aku berusaha terlihat santai namun ingin sekali rasanya berteriak ke laut.
"Ya Allah lelaki impianku, kini ada di depanku. Tak sia-sia aku menyebut namanya disepertiga malam Hahaha." Batinku, aku tersenyum diam-diam.
"Hmmm... tidak usah! Sebentar lagi mau Azan Maghrib. Aku mau pulang, Assalamualaikum!" Aku melewati 3 anak tangga. Tiba-tiba, dia datang menghalangi jalanku.
"Mau kemana, Dik?" tanya Rifki kepadaku. Sambil berjalan menuju ke parkiran mobil, aku berusaha memandang wajahnya yang terlihat santai mengajakku mengobrol.
__ADS_1
"Aku mau pulang! Bentar lagi Maghrib. Btw, Kakak tinggal dimana?" tanyaku sambil menarik kunci mobil di dalam tasku.
"Aku ngekost. Kalau kamu?" tanya balik Kak Rifki kepadaku.
"Kalau aku... intinya aku tinggal dirumah dan punya usaha kost-kostsan sendiri. Tidak jauh dari pantai." Jawabku.
Dia mengangguk dan tampak berpikir sejenak. "Ngomong-ngomong biayanya berapa sebulan?"
"Sekitar 1,5 juta dalam 3 bulan. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu sama saya?"
"Agak mahal yah, cuma pengen tau aja. Soalnya di kost-kostsan aku setiap pagi ribut dan susah banget mau mandi dan nyiapin makan susah karena harus ngantri." Keluhnya membuatku tertawa kecil.
"Ke kost-kostsan aku aja, nanti akhir bulan baru di bayar. Disana cuma tersedia 5 kamar kok dan 1 kamar milik aku. Air dan dapurnya sudah oke nggak merepotkan." Aku berusaha mengobrol santai dengannya dengan penuh ramah.
"Bagaimana?" tanyaku sambil memandang wajahnya sejenak. Aku tersipu malu dan berusaha menahan senyumanku.
"Hhmm.... aku memikirkannya dulu. Soalnya, aku lagi habis putus kerja karena sibuk kuliah." Jawabnya masih tampak lesu.
"Aku punya toko butik, mau kerja disana? Aku langsung terima. Kerja malam. Letaknya di Mall atau MP. Mau?"
"Serius?" wajah Kak Rifki seketika berbinar, kupikir sepertinya dia keluar dari zona sulitnya.
"Serius!"
"Ayo naik? Aku antar Kakak pulang dulu."
Kami berdua pulang bersama, dan melanjutkan obrolan di atas mobil tentang masa-masa sulitnya mahasiswa di akhir semester. Tak lupa juga, Aku menceritakan kalau aku dulu menyukainya sejak masuk SMK sebagai Junior di sekolah.
Aku sungguh senang hingga tak sabar untuk mengajaknya makan bersama di restoran kesukaanku. Restoran itu, letaknya tidak jauh dari Pantai Losari, kuharap dia suka dan mau berteman lama denganku.
Takdir... thank's sudah mempertemukan aku dengannya!
__ADS_1
Aku sungguh bahagia luar biasa!
BERSAMBUNG...