
Hari ini adalah hari ulang tahun aku, aku sedang merayakannya di disebuah restoran favoritku pada malam hari. Aku merayakannya bersama dengan kedua karyawanku. Kulihat-lihat, pelanggan di restoran itu berpasangan semua kecuali aku dan kedua karyawanku.
Aku tesenyum, mataku sembab, terpaksa bahagia, dan berlagak kesenangan melihat kue ulang tahun itu didepanku. Aku tak mau melihat kedua karyawanku turut sedih. Aku harus kuat mental meskipun hatiku masih sakit.
Aku memejamkan mataku sambil berdoa dalam hati. Aku ingin dia kembali kepadaku, kata itu terlintas lagi di pikiranku. Padahal aku sama sekali tidak percaya bahwa Rifki akan kembali kepadaku. Aku membuka pelan-pelan mataku lalu meniup lilin itu diiringi air mata yang menetes.
Pingki memelukku. "Selamat bertambah umur Kakak cantik!"
"Cantik-cantik gini, ditinggalin. Huh dasar dia!"
"Dasar Alligator! Huh!" sambung Lily.
"Sudahlah, ayo makan kuenya." Aku sedikit menegurnya.
Usai memotong kue itu, Rival datang menemuiku tiba-tiba. Dia duduk usai mengusir kedua karwanku dan memberinya uang 200 ribu per orang. Kini aku duduk berdua dengannya sambil mengobrol.
"Kamu kenapa disini?" tanyaku.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya balik Rival membuatku tidak terima.
"Sebaiknya kamu pergi saja!" Aku menegurnya.
Detik itu, Riko sahabat Rifki tiba-tiba datang dan langsung menyiram wajah Rival segelas air putih milikku.
"Lo, sampai kapan Lo berubah... Hah? Apa sih dendam lo sama Rifki sampai sekarang Lo selalu saja cari masalah sama dia?" Tegas Riko sambil meremas erat kerah baju Rival.
"Gua yakin, Lo yang hamilin Mita. Iya?"
"Kawan gue, Rifki. Orangnya lebih baik daripada lo!"
Rival mengendus kasar. Ia menghempaskan tangan Riko karena merasa gerah. "Lepasin tangan, Lo!"
Rival memperbaiki kerah bajunya. "Lo nggak tahu, gimana rasanya broken home!"
"Mama sama ayah saya cerai karena ulah ayahnya si Rifki. Lo harus tahu, mama Rifki itu adalah mama kandung gue. Hanya Rifki yang nggak tahu kalau itu mama tirinya. Puas, lo!"
"Terakhir, Gue melihat Ibu gue menikah sama ayahnya Rifki saat umur gue 3 tahun. Dimana Rifki umurnya masih bayi."
Riko terkejut, ia baru tahu begitupun aku. Aku melerai mereka dan berdiri di tengah-tengah. "Udah, aku paham!"
__ADS_1
"Kalian sebaiknya bubar, jangan buat aku makin pusing!"
"Pergi!" Teriakku.
Riko pun pergi dari restoran itu sedangkan Rival, Cowo itu malah terdiam sambil duduk.
"Kamu, apa kamu tidak mendengarku?" tegurku ke Rival.
Riva menatapku begitu dalam. Di berdiri dan mendekatkan dirinya di hadapanku kemudian mencondongkan kepalanya ke sebelah kepalaku. Dia berbisik dan membuatku terkejut.
"Lo mendingan sama gue aja!" bisiknya membuatku tertawa jahat.
"Apa! Nggak semudah itu. Aku nggak tertarik dengan Pria yang suka foya-foya apalagi main cewe!" sindirku lalu pergi.
Usai kata itu keluar dari mulutku, seisi restoran itu malah merekam.
"Rekam aja, kalian harus hati-hati. Jangan mau sam cowo ini. Dia suka main cewe!"
Usai melewati batas pintu keluar restoran itu. Rival kembali menghalangi jalanku. Ia memegang erat tanganku hingga aku meringis kesakitan.
"Awas lo, yah. Jangan sampai lo berulah bawa-bawa nama gue ke Mita!"
"Lepasin aku!" Tegurku.
Rival akhirnya melepaskan tangannya dan tidak memegangku. Kulihat wajahnya usai aku masuk ke mobilku tampak penuh kecewa hingga meninju dinding restoran itu.
Satu minggu kemudian, aku sedang bekerja di tokoku. Iseng-iseng, aku membuka Facebook. Aku tersenyum, melihat Rifki dan Mita menikah, postingan itu sudah 2 hari yang lalu. Mita sempat mengundangku untuk menghadiri pernikahannya namun aku ada halangan karena 2 hari yang lalu tokoku mendadak bermasalah. Jadi, aku memilih untuk mengurusnya.
Sore tiba, aku menutup tokoku lebih awal karena kedua karyawanku sedang pulang kampung. Usai menutupnya, aku pulang ke rumah dan kembali menjahit pakaian hingga tengah malam.
Aku sampai lupa makan dan pola makanku tidak teratur. Dulu berat badanku 50 kilogram, kini turun 45 kilogram. Ke esokan harinya, orangtuaku datang membawakan bahan makanan seperti beras, mie, telur, sayur, dan cemilan juga kue kesukaanku.
Aku tidak menyangka, tiba-tiba ibuku menceritakan kepadaku bahwa salah satu teman sekelasku dulu hamil lalu dinikahi pacarnya. Ternyata itu adalah Mita, yang dia maksud.
Aku hanya mengagguk saja dan berpura-pura terkejut. Aku sedikit senang karena ibuku akan menginap seminggu bersama ayahku disini. Mereka menginap karena melihatku tampak kurang sehat.
Dia berkata, wajahku tambah tirus dan badanku sedikit kurus hingga jalanku tampak lemas. Aku hanya berkata bahwa aku terlalu fokus menjahit dan begadang membuat cerita atau novel.
Tiga hari orangtuaku menginap, aku memgajaknya jalan-jalan ke pantai losari dan tempat wisata lainnya sebelum pulang kampung. Aku juga tak lupa membawanya ke Gramedia untuk menujukkan bahwa bukuku di jual disana.
__ADS_1
Kulihat wajah orangtuaku tampak senang usai membawanya ke tempat yang kurekomendasikan tadi.
Satu minggu kemudian, ayahku tiba-tiba menelepon dengan seseorang. Kudengar dia berkata bahwa akan ada tamu besok pagi sebelum mereka pulang kampung.
Siapa? Pikirku. Aku mendekati ayahku dan bertanya kepadanya.
"Bapak, telepon sama siapa tadi?"
"Jangan kaget yah, Nak!" balasnya.
Aku mengangguk dan tidak sabar mendengar jawabannya. Ibuku pun bergegas duduk di sebelahku usai menyajikan makan malam.
"Ayah mau kamu kujodohkan dengan anak Pak camat di kampung kita!" Jawabnya seketika membuatku terkejut hingga wajahku penuh rasa kaget.
keningku berkernyit, "Anaknya pak Umar. Siapa? Rival?" tanyaku sambil meremas rokku.
Aku menggeleng tak terima. "Bapak, aku tidak mau sama laki-laki itu. Bapak, laki-laki itu buka tipe saya. Ini jaman bukan lagi jaman perjodohan dengan urusan orangtua."
"Aku tidak mau, Pak. Mohon telepon balik Pak Umar dan katakan bahwa Putri tidak mau!" Tegurku, masih merasa syok.
"Tapi sudah terlambat, Nak! Bapak sudah merencakan bulan lalu." Balasnya membuatku tercengang.
"Ya ampun, Pak. Bapak bagaimana, sih. Masa anak tunggal Bapak diginiin seolah-olah Bapak tidak sayang sama Putri lagi." Pungkasku.
Aku meraih kunci mobilku di atas nakas lalu pergi dari rumah. Aku melajukan mobilku begitu cepat ke Pantai Losari. Sesampainya disana, aku berteriak diiringi air mata amarah. Aku tidak mempedulikan orang-orang di sekelilingku menganggapku sudah Gila atau apa!
"Aku tidak mau menikah sama dia?"
"Aku mohon, Tuhan. Rubahlah takdir ini."
"Aku sungguh tidak siap, Rival si brengsek itu bukan tipeku!"
Aku duduk sambil terdiam dengan tatapan kosong hingga mendengar suara azan Isya sampai selesai. Setelah itu, aku mengambil teleponku dari tas dan ingin menelepon Kak Rifki.
Apakah Kak Rifki akan mengangkat teleponku?
Jika tidak, aku akan mati di laut ini. Aku benar-benar kehilangan kesabaran dan rasa sakit di hatiku semakin bertambah. "Kuharap kamu mengangkat teleponku!"
Bersambung!
__ADS_1