
Kini adalah awal pertemuan pertama kalinya Anaya dengan Ghino. Saat ini Anaya sedang bersiap-siap di kamarnya untuk menuju ke Rumah Sakit. Penampilan Anaya sangat sederhana namun terlihat cantik dan elegan. Anaya menyemprot parfum favoritnya yang begitu sangat wangi.
Tok tok tok...
Budi mengetuk pintu kamar Anaya. "Nay, kamu dicari sama seseorang!"
Anaya sudah pindah rumah, kini ia tinggal bersama Budi dan Kinara. Anaya begitu senang dan tidak lama lagi rumahnya akan di jadikan tempat kost-kostsan.
Budi masuk ke kamar Anaya tanpa memberitahu. Ia penasaran, kenapa seseorang itu datang mencarinya pada malam hari. Budi tampak malas, ia pertama kalinya melihat Anaya pergi malam-malam tanpanya. "Nay, kamu... mau kemana?"
"Mau ke Rumah Sakit. Ketemu sama putra pak Cleo?"
keningnya berkernyit, ia duduk diatas sofa kamar Anaya sedangkan Anaya sedang memilih tas yang cocok dengan penampilannya. "Oh jadi yang didepan rumah itu si Pak Cleo,"
"Tunggu, Kamu mau ketemu sama putranya di RS? Ngapain?"
"Yah ketemu aja, Budi... Naya pergi dulu yah!" pamit Anaya lalu keluar dari rumahnya. Ia menyampari Pak Cleo yang sedang berdiri didepan mobilnya. Sedangkan Budi sedang mengintip mereka lewat jendela.
"Maaf, Pak! Saya sedikit terlambat."
"Tidak apa-apa, ayo pergi."
Sekitar 30 menit dari rumah, Anaya akhirnya sampai dirumah sakit. Ia di kejutkan oleh sahabatnya yang begitu muncul tiba-tiba ditaman.
"Nay, tunggu!" panggil Karina, ia mulai mendekati Anaya.
"Loh, kok. kamu disini?" tanya Pak Cleo ikut tekerjut.
"Ipar aku kerja disini, Pak! Namanya Dokter Frans."
"Aku lagi bawain bekal dari istrinya." Jawab Karina tampak senang.
"Oh gitu," Balas Pak Cleo ke Karina.
"Nay, ayo masuk." Ucap Pak Cleo ke Anaya.
Karina menahan tangan kanan Anaya. "Tunggu,"
"Boleh aku ikut, nggak?"
"Karin, ingin lihat putra Bapak secara nyata."
"Tidak boleh, ini pribadi!"
"Ayo, Nay."
Karina menyerah, ia memutuskan untuk pulang. Wajahnya cemberut namun ia tidak kecewa dengan sahabatnya melainkan bosnya yang begitu melarangnya.
__ADS_1
Kini Anaya dan Pak Cleo sudah didepan pintu ruang VIP dimana Ghino ada didalam. Anaya menunjuk pintu itu sudah diberikan tanda VIP dan nama Ghino.
"Dulu nenek saya meninggal diruangan ini. Kok, kenapa diberi tanda VIP?"
Mata Anaya seketika membulat, ia baru memikirkan bahwa putra Pak Cleo Xenlye sakit dan dirawat diruangan ini. "Anaknya dirawat, aku kira dia bekerja sebagai dokter."
"Maaf, Nay! Ayo masuk." Pak Cleo membuka pintu VIP itu.
Anaya tampak syok dan canggung, Ia melihat putra Pak Cleo sedang berbaring dengan kepala botak, wajah pucat, namun masih kelihatan tampan.
Pak Cleo mendekati putranya, Ia mengelus keningnya agar bangun. "Nak, Ayah datang."
Ghino perlahan membuka matanya, ia langsung memandang kehadiran Anaya dan membuatnya jadi malas. "Yah, Gino tidak butuh pacar. Ayah bisakah, sekarang menyuruh perempuan itu pulang saja. Ini sudah jam 9 malam, dia seharusnya tidur."
"Nay, kemarilah." Panggil Pak Cleo. Anaya mendekati Pak Cleo dan berdiri di sebelahnya.
"Iya, Pak?" Nay tampak gugup ia takut-takut memandang wajah marah Ghino.
"Sapa dia." suruh Pak Cleo ke Anaya.
Anaya mulai menyapa, ia tersenyum manis ke arah Ghino meskipun Ghino mengabaikan senyumannya.. "Hay, Kak Gino. Salam kenal, nama saya Anaya Claudya."
Anaya langsung menyentuh tangan Ghino untuk bersalaman. Usai jabak tangan, Anaya berusaha ceria karena wajah Pak Cleo lagi-lagi cemberut.
"Yah, apa aku harus mengulanginya lagi. Tolong, suruh dia pulang." Tegur Ghino ke Ayahnya.
"Aku tau, kamu sadar diri dan tidak cocok memiliki kekasih hanya karena kondisi kamu seperti ini." Ucap Anaya seketika membuat Ghino kembali menatapnya lekat.
"Kalau nggak butuh kekasih, setidaknya punya teman curhat itu baik, Kak." Anaya malah semakin membuat Ghino marah.
"Nay, ayo pulang saja!" suruh Pak Cleo ke Anaya. Wajah Pak Cleo berkaca-kaca, ia cuma ingin melihat putranya bahagia.
Flasback...
Diatas mobil dimana Anaya dan Pak Cleo sedang menuju ke rumah sakit. Anaya tampak bingung kenapa wajah Pak Cleo selalu cemberut dan sedih. Ia ingin bertanya namun takut Pak Cleo menegurnya.
Lima menit lagi, mereka akan sampai di tempat tujuan. Anaya memberanikan diri untuk bertanya namun Pak Cleo mulai berbicara.
"Anaya, apapun yang terjadi sebentar. Kuharap kamu tak menyerah dan tidak menyesal karena mengajakmu ke Rumah Sakit,"
"Ini terakhir kalinya Bapak mengajak seseorang buat Ghino. Karena Bapak cuma mau lihat Ghino bahagia."
"Maksud Pak Cleo? Ghino kenapa?"
"Sudahlah, kuharap kamu tidak menyerah!" pungkasnya.
"Tapi, Pak!"
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, Pak. Umur dia berapa? Boleh Anaya tahu sedikit tentang dia?" tanya Anaya ke Pak Cleo.
"Namanya Ghino Emmerich Chan. Dia satu-satunya putra Pak Cleo, ibunya? sudah meninggal kecelakaan waktu Ghino berumur 10 tahun. Umurnya, 23 tahun dan kebiasaan dia itu... Bapak harus memberitahu kamu. Dia mengidap OCD sudah 3 tahun. Itulah, Bapak mau kamu buat dia berubah sebisamu."
"Dia sudah dua tahun di Rumah Sakit Korea dan sisanya disini. Dia pindah ruangan karena tiba-tiba melihat banyak kerak di toilet kamarnya." Imbuhnya membuat Anaya malah tertawa diam-diam.
"OCD, terus kenapa dia dirumah sakit?"
"Bisa dibilang ruangan rumah sakit itu bersih dan harus lebih bersih agar tak terkena penyakit dan kuman,"
"Susah bikin dia keluar dari Rumah Sakit." Pak Cleo tampak kesal.
"Padahal Rumah Bapak bersih banget dan rupanya kayak istana. Malah milih rumah sakit karena Rumah Bapak banyak kumannya juga nggak mau lihat benda-benda berantakan." Imbuhnya sambil mengomel.
"Oh jadi begitu. Selain OCD, ada lagi kah, Pak?" tanya Anaya serius.
"Tidak ada, itu aja." Jawabnya tampak bohong.
.........
"Tidak! Anaya tidak akan menyerah. Pak Cleo, boleh keluar sekarang. Aku akan melakukannya sesuai yang Bapak perintahkan ke Anaya." suruh Anaya ke Pak Cleo.
Pak Cleo mengendus lembut, "Terima kasih." Pak Cleo keluar dari ruang VIP itu sembari menepuk pundak Anaya tiga kali.
Anaya duduk di kursi sebelah hospital bed dimana Ghino sedang berbaring.
"Aku bilang, Lo sebaiknya pulang saja." Tegur Ghino, ia menyelimuti wajahnya dengan selimut.
"Nggak mau,"
Anaya langsung memulai idenya yang ia pikirkan tadi. "Astaga, baru tahu kamar ini tidak bersih. Huh, lihat ada bekas makanan di lantai bertebaran."
"Dokter!" teriak Ghino 3 kali. Ia terbangun dari hospital bed-nya dan menarik tangan Anaya untuk keluar.
"Keluar lo!" gertak Ghino. Ia berhasil menarik tangan Anaya keluar dari kamar VIP-nya.
Detik itu, Anaya tiba-tiba melihat seorang nenek tua sedang duduk di kursi roda. Nenek tua itu tersenyum ke arah Anaya hingga membuatnya menangis. Anaya menangis karena mengingat neneknya yang sudah meninggal.
Anaya kembali masuk ke kamar VIP Ghino, ia duduk disofa sambil menangis sejadi-jadinya.
"Lo, kok nangis?" gumam Ghino merasa bersalah.
Ghino, cowo itu perlahan mendekati Anaya lalu duduk di sebelahnya. "Apa ada yang terluka?"
Anaya semakin menangis, ia semakin mengingat kenangan lamanya bersama Lita.
"Ush ush... Maaf." Ghino mengelus belakang Anaya.
__ADS_1
Anaya menggelengkan kepalanya sambil menatap lekat wajah Ghino. "Bukan salah kamu."
BERSAMBUNG...