
Satu minggu kemudian, kami sedang duduk berdua di balkon lantai dua rumahku. Kami berdua sedang mengobrol santai sambil menikmati hujan turun di pagi hari. Aku suka hujan, meskipun deras aku suka. Karena disaat aku masih kecil dan memperhatikan orantuaku sibuk berkebun aku selalu minta hujan turun. Oleh karena itu, hujanlah yang bisa membuat kedua Orangtuaku istirahat.
Kulihat raut wajah Rifki kini tampak sayu sambil menolak telepon dari seseorang sudah 5 kali. Aku berpikir, pasti itu adalah Mita. Sepertinya Mita ingin bertemu atau menanyakan masalahnya dengan Rifki.
"Siapa? Kenapa tidak di angkat?" tanyaku lirih, sambil meneguk sedikit teh hangat.
"Mita, dia ingin bertemu sama aku!" Jawabnya, sudah kuduga. Aku menguatkan diriku dan berusaha membuat ekspresi wajahku terlihat baik-baik saja.
Detik itu, orangtua Rifki tiba-tiba datang.
"Mama, papa. Kenapa mereka kesini? Dia bahkan tidak mengabariku." Ujarnya.
"Ayo turun!"
Aku dan Rifki turun dari lantai dua untuk menemui mereka.
"Selamat pagi Om, Tante. Silahkan masuk!" ucapku ke orangtuanya.
"Ma, kenapa tiba-tiba kesini?" tanya Kak Rifki ke ibunya.
"Mama rindu, pengen ketemu sama kamu. Riko kemarin pulang kampung, dia bilang kalau kamu pindah kost-kostsan jadi Mama mau ketemu sama pemiliknya juga membawakan kamu sedikit bahan sarapan." Jawabnya sambil memeluk lengan putranya.
"Ayo silahkan masuk, tante. Langsung ke lantai dua yah tante. Ruang tamunya ada di atas." Ucapku.
Sampailah kami di atas, kami mengobrol usai membuatkan kopi hangat dan kue kering di atas meja.
Kulihat raut wajah orangtua Rifki tampak senang menemui putranya setelah 3 bulan.
"Kata Riko, kamu sebulan lagi lulu S2 nak. Itulah Mama senang mau ketemu sama kamu."
"Makasih yah, Ma. Sudah dukung aku dan membiayai kuliah aku."
"Tenang aja, sampai S3 pun aku sama Mama kamu biayain kok." Sahut ayahnya membuatku tersenyum.
"Ngomong-ngomong, kamu tukang jahit yah?" tanya ibunya Rifki kepadaku.
"Iya tante," sambil memberikan kartu toko ku. "Ini tante, aku punya toko butik di mall MP."
__ADS_1
"Kalian kalau mau pacaran, pacaran aja. Kami berdua merestui kok. Asalkan cara pacarannya yang baik-baik. Iya kan, Pa?"
"Iya, Ma. Kalian tampak cocok." Balas Ayahnya.
"Hmmm, Mama ke rumah sakit dulu yah. Sepupu Mama masuk Rumah sakit kemarin. Mama mau jenguk dulu." Pungkas ibunya Rifki ke putranya dan aku.
"Iya, hati-hati. Yah Ma dan Papa juga." Rifki memeluk Ibu dan Ayahnya.
Beberapa menit setelah orangtua Kak Rifki pergi menuju ke RS. Rifki tiba-tiba merangkul pudakku.
"Lihat tuh, Mama sama papa aku pun mendukung hubungan kita."
Aku mengagguk kesenangan namun hanya sesaat. "Iya-iya, aku juga senang banget!"
"Ke Gramedia, yuk! Aku mau beli buku novel." Kataku.
"Yuk!"
Sampailah kami di Gramedia, aku sedang membayar buku yang telah ku beli di kasir. Kemudian kami duduk di sebuah taman depan kampus Rifki. Detik itu, tiba-tiba suara riuh dari belakang terdengar.
Ternyata seorang perempuan pingsan tidak menyadarkan diri. Kami berdua menghampiri perempuan itu.
Aku menyuruh Rifki untuk membawanya ke rumah sakit. "Kak bawa dia ke mobilku. Kita harus membawanya ke Rumah Sakit."
"Tidak usah, disini ada UKS!" Dia menolak hingga membuatku marah. Kak Rifki hanya berdiri diam mematung sambil menggenggam tanganku.
"Ayo, dia terlihat tidak baik-baik saja." Tegurku, Kak Rifki akhirnya mengikuti perintahku.
Sampilah di rumah sakit dan satu jam kemudian, dokter menyarankan kepadaku bahwa Mita tidak boleh malas makan dan tidak boleh memakan mie instan dalam keadaan hamil.
Aku sungguh kecewa, ingin rasanya memberitahu Rifki namun lubuk hatiku tak terima.
Dua jam kemudian, Mita akhirnya sadar. Ia langsung memelukku sedangkan Kak Rifki hanya duduk diam di luar ruang inap dimana Mita dirawat.
"Bagaimana? Apakah bayinya baik-baik saja?" tanya Mita tampak cemas.
"Dia baik-baik saja dan kamu harus menjaga pola makanmu." Saranku sambil memberinya uang satu juta rupiah kepadanya.
__ADS_1
Mita menolak, ia lebih memilih untuk menemui Kak Rifki secepatnya. "Aku lebih baik bertemu Kak Rifki, Put. Daripada membebanimu terus-terusan. Aku tak tahan lagi, Put. Aku tak bisa mengurus diriku seorang diri di kost-kostsan."
Aku menetesakan air mataku dan menarik napasku pelan-pelan lalu menghembusnya sedikit kasar. "Oke, aku panggil dia sekarang. Dia ada di luar."
"Serius!"
Aku keluar dari ruang inap, aku menarik tangan Rifki masuk ke ruang itu dan menyuruhnya berdiri di sebelah Mita dimana ia terbaring. Mita terbagun dan tiba-tiba memeluk badan Rifki hingga membuat hatiku teriris. Tak hanya itu, akupun tak kuasa menahan air mataku yang akan lolos.
"Jangan peluk aku!" Rifki menjauhi Mita dan mendekatiku.
"Kak Rifki, Haruskah aku memberitahumu sekarang?"
"Apakah Kakak ingat kejadian 4 bulan yang lalu? Waktu di kelab?" tanya Mita sambil memperlihatkan foto dimana Mita sedang memeluk Rifki di kelab itu lewat HP-nya.
"Terus foto itu kenapa?" tanya balik Rifki ke Mita dengan wajah penuh kecewa.
Mita tertawa kecil sambil meghempaskan kertas hasil USG-nya ke arah Rifki. "Aku hamil, anak kamu. Kamu harus tanggung jawab sama aku termasuk orangtua aku."
"Jika tidak, aku akan bunuh diri setelah melapor masalah ini ke polisi."
Masalah semakin menjadi-jadi, aku hanya diam saja. Tak tahu kata apa yang harus kukeluarkan agar pertengkaran mereka berhenti.
"Jangan asal ngomong kamu, yah."
"Aku menemuimu karena Riko meneleponku. Dia bilang kamu di kelab bersama Rival. Waktu itu kamu mabuk berat. Aku membawamu pulang ke kost-kostsan kamu tapi sayang pagarnya sudah terkunci. Jadi aku memutuskan untuk membawamu ke kost-kostsan aku."
"Jujur, aku nggak ngapa-ngapain kamu waktu itu Mita!"
"Terus bagaimana bisa aku hamil?" Teriak Mita sambil mengacak-acak rambutnya.
"Entahlah, kamu yang lebih kejam. Waktu itu kita masih pacaran tapi kamu malah mabuk-mabukan sama si Rival!" Gertak Rifki ke Mita.
"Putri, jangan percaya sama omongan dia. Percayalah sama omongan aku!" Ucap Mita sambil bermohon kepadaku.
Aku tiba-tiba menangis dan meninggalkan mereka. Aku keluar dari ruang inap itu dan langsung meninggalkan Kak Rifki dari Rumah Sakit.
Di sepanjang jalan tanpa tujuan, aku menangis sampai tidak mempedulikan hujan turun begitu sangat deras. Hatiku sungguh berkecamuk, pikiranku sungguh tidak tenang, dan perasaanku sangat sesak.
__ADS_1
Siapa sih, yang tidak kecewa. Aku benar-benar bodoh lebih bodoh dari pada orang Gila. Seharusnya aku tidak berharap lebih, aku sungguh kecewa besar.
Bersambung....