Kumpulan Cerpen Romantis

Kumpulan Cerpen Romantis
Anaya & Ghino (Mengikhlaskan.)


__ADS_3

Hari ini adalah hari pemakaman Lita di pagi hari. Anaya sedang memeluk nisan Neneknya sambil menangis sejadi-jadinya. Semua orang-orang yang melayat sudah pulang kecuali Budi yang sedang menemani Anaya disebelahnya.


"Nek, Hari ini Anaya berusaha mengiklashkan kepergian Nenek. Semoga Nenek tenang di alam sana, Yah."


"Aamiin... aamiin," guman Budi.


Budi merangkul pundak Anaya lembut. "Nay, ayo pulang. Langit mulai mendung, sepertinya hujan akan turun."


Anaya hanya menggelengkan kepalanya. "Aku tak mau. Aku tak mau ninggalin Nenek sendirian."


"Nenek kamu sudah pergi, Nay."


Budi menyentuh kedua pipi Anaya. "Lihat aku, Nay. Ada aku untuk kamu. Ayo pulang!"


Anaya mengangguk ia berdiri dibantu oleh Budi, sahabatnya. Mereka akhirnya pulang setelah memberi salam ke makam Lita. Disepanjang Jalan menuju ke rumah, Budi kembali mencerna perkataan Lita waktu itu di Rumah Sakit.


"Tolong jaga Anaya, yah! Jangan buat dia sedih dan jangan buat dia marah apalagi kamu selalu bercanda sampai membuatnya menangis."


"Nenek mau pamit, Semalam Nenek melihat orangtua Nay menunggu Nenek disana."


Budi tak habis pikir dengan perkataan Lita waktu itu kepadanya, ia bahkan berpikir bahwa orangtua Anaya sudah meninggal. Ia bahkan sampai berpikir kalau ayahnya juga meninggal karena dulu ayahnya pergi bersama dengan orangtua Anaya.


Sampailah di Rumah, Anaya menyisir semua isi kamar milik neneknya termasuk ruang dapur. Ia membayangkan betapa indahnya kenangan itu dan hanya tinggal dikenang.


Anaya sedang duduk ditempat tidur neneknya sambil memandang foto berduanya bersama Lita. Dimana saat itu umur Anaya dari bayi sampai remaja.


"Kenapa hanya ada aku dan Nenek di foto ini. Kemana orangtuaku, Tuhan?" tanya Anaya kepada dirinya.


Sedangkan, Budi dan ibunya bernama Kinara Ayudia. Mereka sedang berdiri di ambang pintu dengan raut wajah masih sedih. "Bunda, Sekarang Nay sendiri. Bunda, bagaimana kalau kita menyuruh Nay tinggal serumah dengan kita?"


Tanpa berpikir panjang, Kinara menyetujui permintaan putranya. Anaya di mata Kinara sudah menjadi anak keduanya setelah Budi. Mereka sangat akrab dan saling membantu dalam tetangga.


Kinara duduk disebelah Anaya lalu menyadarkan kepala Anaya di pundaknya. "Nay, jangan sedih terlalu lama dan menangis. Nanti kamu sakit. Ada Aku dan Budi menemani kamu."


"Sekarang, Kamu panggil Aku Bunda jangan panggil Tante lagi."


Budi mendekati Anaya, ia berlutut di depannya sambil menggeggam kedua tangan Anaya diatas pangkuannya. "Nay, Budi kan sekarang sibuk kuliah di Jerman. Jadi... Nay harus tinggal di rumah Aku untuk menemani Bunda."

__ADS_1


"Tinggal 1 bulan lagi, Budi lulus kuliah dan kembali ke sini. Aku janji akan buat hidup kamu lebih berwarna. Okay!"


Anaya mengangguk pelan dan tersenyum sumringah. "Makasih yah, Bud. Dan Tante... Terima kasih sudah menerima Anaya untuk hadir di hidup Tante."


"Hush, panggil Bunda. Jangan panggil Tante lagi." Balas Kinara sambil mencubit pipi lembut Anaya. "Anak cantik Bunda sekarang sudah besar."


"Coba sekarang panggil Aku, Bunda."


Anaya tampak ragu, ia mulai mengucapkan usai melihat Budi mengangguk. "Terima kasih banyak, Bunda."


Kinara kembali mencubit pipi Anaya karena tampak gemas. "Gitu, doang."


Sudah seminggu, Anaya bekerja di Gramedia milik Pak Cleo Xenlye. Anaya, kini terlihat baik-baik saja karena memiliki teman baru bernama Karina. Karina Ansaliya, teman baru Anaya. Orangnya extrovert dan suka malu-maluin. Badannya sedikit gemuk, suka makan, dan hobi nonton drama korea.


Semua karyawan Pak Cleo sedang berkumpul di lapangan. Pak Cleo sedang menyampaikan bahwa besok adalah hari ulang tahun perusahaannya yang ke 50 tahun. Usai menyampaikan pesan kepada para karyawannya. Pak Cleo memanggil Anaya untuk bertemu di kantornya.


Anaya bingung Sedangkan Karina malah kesenangan setelah memikirkan bahwa Anaya pantas gajinya dinaikkan dua kali lipat. Anaya memang anak rajin, ia bahkan pernah bertemu idolanya yang kini naik daun karena buku novel karyanya sedang viral.


Sisi lain Anaya, selain rajin bekerja. Ia adalah penulis remaja sudah 2 tahun dan hanya memiliki satu karya novel yang belum selesai ia tulis. Seandainya, Anaya memiliki waktu luang, novelnya benar-benar sudah tamat. Kenapa? karena jadwal kesibukan Anaya begitu banyak.


Anaya menarik tangan Karina sampai didepan pintu kantor Pak Cleo. "Tunggu aku disini, yah!"


"Apa kamu peramal? Apa kamu bisa membaca pikiran orang?" Keluh Anaya sembari mencubit pipi gembul Karina.


"Sudahlah, masuk sekarang." Karina membuka pintu buat Anaya lalu mendorongnya masuk.


"Bye-bye!" gumam Karina sambil mengintip di balik pintu itu.


Anaya duduk didepan Pak Cleo, wajahnya tampak canggung dan tak berani melihat wajah bosnya. "Ada apa, Pak?"


"Apa kami jomblo?" tanya balik Pak Cleo seketika membuat Anaya syok dan matanya membulat.


"Tunggu, apa aku nggak salah dengar?" batin Karina yang sedang mengintip dibalik pintu. Ia menyelipkan rambutnya ketelinganya dengan benar. "Nggak-nggak, gue nggak mau sahabat baru gue pacaran sama om-om!" gumamnya tampak jijik.


"Mak- maksud Pak Cleo?" tanya Anaya makin panik dalam diam.


"Saya jomblo, Pak. Tapi... saya tidak suka sama om-om!" Imbuhnya, Anaya membuat Pak Cleo ketawa puas.

__ADS_1


"Benar, Nay. Kamu tidak cocok banget sama Om-om apalagi dia, kegemukan." Batin Karina, ia ikut tertawa hingga suaranya sampai ke telinga Anaya.


Anaya berbalik badan ke arah Karina lalu menhadap ke Pak Cleo, "Apa sih! Ini nggak lucu." batinnya tampak kesal.


"Ya ampun, Pak! Ini tidak lucu loh, Pak." Anaya ingin kabur, namun Pak Cleo mulai menujukkan foto putranya lewat HP.


"Ini foto putra tunggal aku, namanya Ghino. Bapak mau memperkenalkan kamu dengan dia dirumah sakit malam ini." Jawab Pak Cleo, ia masih tertawa karena perkataan Anaya tadi.


"Kok di rumah sakit, Pak? bukannya di rumah. restoran, atau cafe kek?" tanya Karina, cewe itu malah masuk dan mengintip poto Ghino di HP milik Pak Cleo.


"Tampan banget!" batin Karina tampak kagum.


Karina duduk di sebelah Anaya sambil berdeham, "Nay, katakan Yes." gumam Karina memberi kode untuk menyetujui permintaan Pak Cleo.


"Jadi kamu yang tertawa di depan pintu, kayak kuntilanak loh." tegur Pak Cleo ke Karina.


"Bagaimana, Anaya. Mau, Nggak?" Pak Cleo kembali bertanya dan wajahnya penuh harap.


"Iya, Pak! Batin Naya berkata mau. Percaya sama saya, Saya itu punya indera keenam loh, Pak. Bisa lihat hantu dan-"


Pak Cleo memotong pembicaraan Karina. "Hush, Bapak nggak ngomong sama kamu."


"Baik, Pak. Saya mau!" jawab Anaya membuat wajah Pak Cleo kembali kesenangan.


"Sudah kuduga." Gumam Karina merasa menang.


"Tumben, Bapak bahagia banget mukanya. Biasanya cemberut mulu." ledek Karina, cewe yang satu ini sangat berani membuah bos tempat kerjanya naik darah hampir setiap hari.


"Bapak selalu cemberut karena Ghino selalu ditolak sama cewek."


"Loh, padahal dia tampan kok!"


"Kalau aku jadi Anaya, tak langsung nolak loh pak. Yah, kalau bisa langsung Gas ke pelaminan Hahaha." Karina dan Pak Cleo tertawa terbahak-bahak karena ia masih memikirkan perkataan Anaya sebelumnya.


"Saya jomblo, Pak. Tapi... saya tidak suka sama om-om!" ledek Karina, menirukan suara Anaya tadi.


Anaya tampak malu sampai menutupi wajahnya. "Jangan malu-maluin sahabatmu ini, Kawan!"

__ADS_1


Anaya menatap sinis wajah Karina. "Nggak lucu!"


BERSAMBUNG...


__ADS_2