Kumpulan Cerpen Romantis

Kumpulan Cerpen Romantis
2. Anaya & Ghino. (Kehilangan.)


__ADS_3


Januari...


Semesta, terima kasih sudah mendukung suasana hatiku. Hari ini adalah hari kerja pertamaku sebagai karyawan di Gramedia Jakarta Selatan. Aku benar-benar bersyukur bekerja disini meskipun gagal mengejar cita-citaku sebagai dokter.


Namaku Anaya Claudya, panggil aku Naya dan umurku 18 tahun. Aku hanya tinggal bersama seorang nenek yang sudah tak bisa melihat dan jalan. Tentang orangtua-ku? Mereka sedang merantau di negeri bambu atau China. Sudah 17 tahun aku ditinggalkan dan hanya di besarkan oleh seorang nenek.


Nama Nenek aku adalah Lita Kanaya. Umurnya sudah 80 tahun, dia hanya bisa terbaring di rumahnya. Dia adalah ibu keduaku dan waktu aku masih kecil, dia banyak mengajarkan aku sebagai pribadi yang lebih mandiri karena kedua orangtua-ku tidak ada.


"Nenek, Naya berangkat kerja dulu. Nenek tetap disini, yah! Ada Budi yang jagain Nenek." Aku mengelus rambutnya, mencium keningnya, dan tak lupa mencium punggung tangannya.


"Hati-hati, Nak! jangan pulang kemalaman." Sahutnya lirih sambil mencium pipiku.


"Naya, kamu nggak usah khawatir. Budi akan menjaga Nenek sampai kamu pulang. Pergilah, Budi masih banyak libur kuliah." Budi merangkul pundakku sambil berjalan keluar dari rumah.


Rumah yang kami tempati terlihat sangat sederhana sedangkan rumah yang lain tampak mewah. Rumah kami disekelilingi orang-orang kaya, mereka baik apalagi Budi, sahabat kecilku.


Budi Arrival, Umur 23 tahun dan berdarah Indonesia China. Dia adalah sahabatku sekaligus saudaraku namun tak sedarah. Dia orangnya baik, perhatian, ganteng, dingin, dan sama sekali belum memiliki pacar.


"Bud, Papa kamu kapan pulang kampung? bukankah Nenek pernah bilang kalau Bapak kamu yang membawa mama sama papa aku ke China untuk merantau?" tanyaku, kami saling berhadapan sembari merapikan rambutnya yang masih acak-acakan.


"Belum ada kabar, Nay. Selama bertahun-tahun, akupun sama sekali tak pernah berkabar sama papa aku. Mama bilang, papa aku sibuk banget."


"Udah... sekarang kamu dapat kerja." Sambil menunjuk ojek di depan rumahku. "Aku sudah pesan ojek buat kamu. Pergilah, nanti kamu telat. semangat!"


Aku mengangguk senang sambil melambai tanganku ke arahnya. "Makasih, yah!"


.........


Lima orang karyawan baru termasuk Anaya sedang berbaris rapi didepan CEO atau pemilik Gramedia di Jakarta. Namanya adalah Pak Cleo Xenlye, umurnya sekitar 50 tahun. Badannya gemuk dan wajahnya tampak murung seperti ada masalah.

__ADS_1


Pak Cleo memberi arahan, saran, dan peraturan untuk karyawan barunya diruang meeting atau rapat. Setelah itu, Anaya mulai bekerja. Mulai dari menyusun buku, membersihkan buku-buku agar tak berdebu dan juga tak lupa mengecek buku-buku yang kosong di tempatnya.


Pak Cleo memantau gerak gerik Anaya lewat CCTV hampir 7 jam. Tak hanya itu, karyawan lainnya juga. Tujuan untuk menilai bagaimana kefokusan, ketertiban, juga keramahan karyawan baru kepada pelanggan yang datang.


Sore tiba, pukul empat. Anaya masih terlihat bertenaga dan wajahnya sama sekali tidak terlihat capek. Anaya memang wanita kuat dan tangguh, ia mandiri sejak kecil dan pandai mencari uang untuk menghidupi kebutuhan pokoknya setiap hari bersama nenek kesayangannya.


Anaya sedang duduk ditaman depan tempat kerjanya sambil menikmati sebotol air aqua. Apakah nenek baik-baik saja, pikirnya. Bagaimana tidak khawatir, nenek Anaya sudah sebulan selalu saja bertingkah aneh. Oleh karena itu, ia selalu lupa dengan cucunya sendiri termasuk si Budi.


Suara telepon berdering, Anaya mengangkat teleponnya dengan wajah kesenangan. "Ada apa, Bud?"


Anaya berjalan menuju ke halte bus tidak jauh dari tempat kerjanya. "Aku lagi dekat halte, nih. Mau menunggu bus datang."


"Nay, kamu sekarang ke Rumah Sakit yah!" jawab Budi seketika membuat Anaya Syok.


Detik itu, hujan turun mulai dari gerimis sampai deras. Anaya tampak kesal, bus tidak ada yang datang. Ia memutuskan untuk berlari mencari ojek untuk mengantarnya ke rumah sakit. Air mata Anaya sudah keluar sejak menutup telepon dari Budi. Ada apa?


Saat ini, Anaya berada Rumah Sakit. Ia berjalan dengan kedua kakinya lemas dan seluruh pakaiannya basah menuju ke ruang inap. Dibukanya pintu kamar itu dimana ada seorang perempuan tua yang sudah berbaring memejakan mata. Suara histeris Anaya memecahkan seisi kamar itu.


"Nenek,"


"Kok Nenek ninggalin Anaya secepat ini. Padahal, Anaya belum bertemu sama papa dan mama dari perantauannya."


"Selama ini, Sampai detik ini. Nenek cuma bilang kalau papa sama mama hanya merantau. itu saja. Bahkan Nenek tak pernah memperlihatkan bagaimana raut wajah papa sama mama ke Anaya."


Anaya memeluk Neneknya yang sudah tiada, "Nenek!" suaranya mulai serak hingga membuat Budi ikut sedih. Budi, ia merasa kehilangan Nenek Anaya juga. Tak ada lagi yang omel-omel ke Budi saat Budi lagi buat Anaya nangis, pikirnya.


"Nenek, bangun! Anaya sekarang sendirian, Nek." Anaya menguncang tubuh Neneknya sambil menangis.


Anaya tiba-tiba pingsan, wajahnya pucat dan airmatanya masih keluar. Budi dengan sigap menggendong Anaya ke kamar inap lain diikuti oleh seorang perawat dibelakangnya.


Anaya sekarang terbaring, ia akhirnya sadar setelah hampir satu jam. Ia kembali menangis sesegukan dipelukan Budi. "Bud, Nenek kenapa bisa ning- ninggalin Anaya?"

__ADS_1


Usai berpelukan, Budi menatap wajah Anaya lekat sambil menyentuh kedua pundaknya. "Aku juga tidak tahu, Nay. Dia tiba-tiba sesak nafas lalu pingsan."


Flasback...


Jam menujukkan pukul tiga menjelang sore. Budi sedang duduk dikursi sebelah tempat tidur Neneknya Anaya, Lita. Budi sedang mengobrol hingga banyak tawa karena Lita sedang menceritakan tentang Anaya, cucunya.


Lita juga pertama kali menceritakan ke Budi bahwa Anaya nanti ingin memiliki suami seperti Budi. Hanya sampai disitu pembicaraan Lita hingga tiba-tiba napasnya sesak.


"Nek, Nek Lita kenapa?" tanya Budi mulai panik.


Budi dengan sigap meneriaki sopirnya lewat jendela kamar Lita untuk menjemputnya sekarang. Budi membawa Lita naik ke mobil lalu membawanya ke Rumah Sakit.


Sesampainya disana, Budi semakin panik usai melihat Neneknya Anaya dipasangi alat pernapasan dan juga impus. Sekitar dua puluh menit kemudian, Budi kembali masuk membujuk Lita yang sedang terbaring.


"Nek Lita, Bangun. Jangan buat Anaya sedih." Ucap Budi sambil mengelus punggung tangan Lita yang mulai dingin.


Detik itu, Lita akhirnya sadar. Ia membuka alat bantu pernapasannya karena ingin mengobrol dengan Budi. "Nak, Nenek sudah melihat kedamaian yang membuat hati Nenek sangat senang."


Budi meneteskan air matanya. "Maksud Nenek apa? Ayolah, Nek. Jangan bilang seperti itu."


"Tolong jaga Anaya, yah! Jangan buat dia sedih dan jangan buat dia marah apalagi kamu selalu bercanda sampai membuatnya menangis."


"Nenek mau pamit, Semalam Nenek melihat orangtua Nay menunggu Nenek disana." balasnya, ia kembali sesak napas.


"Dokter!" teriak Budi tiga kali.


Dokter Frans akhirnya datang, ia memeriksa kondisi Lita yang sudah semakin buruk. Usai dipasang kembali alat bantu pernapasan itu, Lita akhirnya mengehembuskan napas terakhirnya.


"Maaf, Nenek kamu kelihatannya tadi benar-benar sudah sekarat." Sambil melihat jam tangannya. "Nenek kamu meninggal pukul empat lewat lima menit." Jawab Dokter Frans lalu menyuruh perawat itu melepaskan alat pernapasan dan impus di tubuh Lita.


Budi menelepon Anaya dan menyuruhnya untuk menuju ke rumah sakit. Ia berusaha tidak lagi menangis karena tak mau membuat Anaya ikut sedih. Namun hasilnya nihil karena dipikiran Anaya sudah menebak kenapa Budi menyuruhnya ke rumah sakit.

__ADS_1


Kehilangan seseorang yang selalu kita lihat setiap hari begitu sangat menyedihkan. Karena kenangan, kebaikan dan kebahagiaan di memori pikiran kita tidak akan terlupakan.


Bersambung...


__ADS_2