
Suara telepon Rifki berbunyi diatas nakas kamarnya. Rifki, ia sedang mengambil bantal dan selimutnya untuk tidur di ruang tamu. Sedangkan Mita sedari tadi merengek untuk meminta tidur bersama.
Mita menyerah, ia kembali tidur meskipun pikirannya tidak tenang. Iapun merasa kesal karena semenjak menikah, Rifki sama sekali tidak disayang olehnya.
Rifki menolak, ia masih tidak mengakui bayi yang dikandung Mita adalah anaknya melainkan anak itu adalah anak Rival.
Rifki mengangkat teleponya sambil berjalan keluar dari kamarnya. Ia duduk di atas sofa kemudian berbaring sambil menyalakan tv-nya.
Kedua pengantin baru itu tinggal dirumah baru milik ayahnya Rifki. Ayahnya Rifki memiliki 2 rumah dan satu rumah itu diberikan untuk putranya.
"Assalamualaikum, Kak Rifki? Apa kabar?" tanya Putri dengan suara santai tanpa kesedihan.
"Walaikummussalam, aku... alhamdulillah baik!" Jawab Rifki dengan wajah cemberutnya.
"Selamat yah atas pernikahan Kakak sama Mita? Hmmm Mita, bagaimana kabar dia?" tanya Putri kembali.
"Baik! Kalau kamu?" tanya Rifki tampak ragu.
"Alhamdulillah, semuanya baik dan sehat! Hmm... apa kamu tahu sesuatu tentang ayahmu?"
"Atau... langsung saja ke intinya. Kamu sama Rival ternyata bersaudara, yah? Pantes saja nggak pernah akur!" Putri membuat Rifki terkejut dan detik itu juga terdengar suara motor dimana ayah dan ibunya Rifki datang.
Rifki bergegas kembali ke kamarnya sambil membawa selimut dan bantalnya karena takut ayahnya marah. Ia masih masuk ke kamar kecil untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Putri. Sedangkan Mita, ia terburu-buru keluar dari kamarnya untuk bertemu dengan ayahnya Rifki.
"Bagaimana bisa kamu tahu, kalau aku sama Rival bersaudara?" tanya Rifki tampak bingung.
"Maaf sepertinya tidak ada waktu untuk mengobrol lama dengan Kakak. Putri tidak mau membuat Mita cemburu."
"Oh iya lupa, Aku... akan dijodohkan sama papa aku. Coba tanya ayah kamu. Dia pasti tahu, siapa laki-laki yang ingin menjodohkanku." Pungkas Putri lalu mengakhiri teleponnya.
Rifki bergegas keluar dari kamarnya, ia duduk disebelah Ayah dan Ibunya yang hendak mengobrol dengan Mita.
"Pa, Ma. Apa benar aku sama Rival itu bersaudara?" tanya Rifki penuh rasa amarah dan syok.
Wajahnya tampak syok, "Maaf, Papa seharusnya memberitahumu dari dulu. Tapi Papa takut, kamu akan kembali mencari ibu kandungmu dan meninggalkan Papa. Hmmm... Mama yang disebelah kamu itu adalah mama kandungnya Rival. Papa menikah sama dia disaat umurmu masih bayi Sedangkan Rival, dia masih berumur sekitar 3 tahun."
__ADS_1
"Maksudnya? Pa! Dulu Papa cerai terus menikah sama Mama-"
"Tunggu, ini benar-benar terlalu sulit dipercaya."
"Papa kamu dan aku dulu satu kuliah... selain itu kami bersahabat sejak kecil, Nak. Usai lulus, Mama menikah sama orang Malaysa karena di jodohkan. Kemudian, di Malaysa... Mama bercerai disaat umur Rival 3 tahun. Mama kabur bersama Rival kembali ke tanah kelahiran untuk menemui Papa kamu."
.........
Dulu, Mira si ibu kandung Rival dan Umar bersahabat sejak kecil sampai kuliah. Usai mereka lulus, Mira dijodohkan oleh orangtuanya untuk menikah dengan orang Malaysa. Mira memutuskannya, ia dan Syam akhirnya menikah. Setelah menikah, Mira dan Syam akhirnya memutuskan untuk pergi ke Malaysa.
Hubungan mereka bertahan sampai 5 tahun dan memiliki anak bernama Rival. Mira dan Syam bercerai karena masalah ekonomi dan Syam menuduh bahwa istrinya lebih menyukai Umar dari pada dirinya.
Mira memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya bersama putranya saat itu umurnya masih Balita. Sesampainya disana, Mira terkejut hingga merasa sedikit kecewa karena sahabatnya Umar ternyata sudah menikah 2 tahun yang lalu.
Umar menikah dengan orang Jakarta, Nama istrinya adalah Lita. Umar dan Lita sudah memiliki bayi laki-laki dengan usia baru 5 bulan. Namanya adalah Rifki Muhammad.
Usai Mira pulang dari Malaysa, Umar selalu bertemu dengan Mira di rumahnya. Hingga hal itulah Lita cemburu sampai ingin bercerai dengan suaminya.
Lita akhirnya kembali ke Jakarta Usai bercerai. Ia tak mau mengambil hak asuh putranya karena Umar memberinya uang sebanyak 500 juta.
.........
Setelah Pak Umar menceritakan kisah masa lalunya ke Rifki. Rifki malah kehilangan kesabarannya hingga tak mau mendekati ibu tirinya. Ia ingin mencari keberadaan ibu kandungnya.
Rifki pun tidak terima Usai ayahnya mengatakan bahwa Rival akan berjodoh dengan Putri. Rifki melempar vas bunga ke arah dinding dengan wajah yang begitu geram.
"Jadi ini alasannya, kenapa Rival selalu membuat hidupku sulit di sekolah maupun di kampus."
"Dan, saya tidak terima Rival menikah dengan Putri."
"Kenapa? Karena aku tidak mengakui kalau bayi yang dikandung Mita adalah anak aku. Melainkan adalah anak si Rival!"
Mita menghentakkan meja di depannya. "Lantas, dimana buktinya kalau Rival adalah pelakunya." Bentak Mita ke Rifki.
"Akan ku cari buktinya, jadi besok pagi aku mau bertemu Rival di Makassar." Balas Rifki. Ia mengambil kunci motor ayahnya lalu pergi ke rumah Riko. Kebetulan Riko, cowo itu pulang kampung kemarin.
__ADS_1
.........
Keesokan harinya, Rival datang ke rumahku sendirian tanpa orangtuanya. Kulihat orangtuaku menerima kehadiran Rival dengan penuh rasa kasih.
Penampilan Rival tidak lagi seperti ketua Geng. Mungkin karena ia tak mau orangtuaku tahu kalau dia faktanya anak geng motor juga suka berfoya-foya.
Kami semua duduk di ruang tamu. Aku yang duduk disebelah ibuku Sedangkan Rival bersama dengan ayahku. Aku tak sabar untuk kembali ke kamar, mendengar kepolosan Rival yang begitu keterlaluan membuat ayah dan ibuku bahwa Rival memang cocok denganku.
Jam sudah menujukkan pukul delapan pagi, Rival akhirnya berpamitan kepada orangtuaku. Tiba-tiba suara pukulan didepan rumah membuat kami terkejut. Kami turun dari lantai dua dengan terburu-buru. Ternyata, Rifki memukul kaca mobil Rival dengan balok kayu sampai kacanya retak.
Aku menghentikannya. "Kak, hentikan!"
"Rifki, lo ngapain rusakin mobil gue hah!" bentak Rival, ia berusaha menahan amarahnya untuk tidak berkelahi di depan orangtuaku.
"Lo, nggak pantas buat Putri. Lo sebaiknya yang tanggung jawab sama Mita. Lo benar-benar brengsek, Val!" balas Rifki begitu tegas dipenuhi rasa emosi yang membludak.
"Mita? Mita adalah istri lo, Ki. Hah, masa bodo gue mau nikah sama Mita, kan lo suaminya dia." Rival meludah ke tanah. Ia tampak panik karena takut rahasianya terungkap.
"Gue tau, gue suaminya. Gue tunggu dia lahiran dan minta tes DNA bayi itu dan Lo. Jika benar, berarti Gue dan Putri akan kembali bersama. Jadi jangan nikahi Putri." Saran Rifki lalu mendekati orangtuaku.
Rifki berlutut sambil memohon dihadapan orantuaku dan merengek. "Tante... Om! Saya mohon sama kalian. Tolong jangan jodohkan Putri dengan Rival."
"Aku mohon Om, Tante."
Aku tidak rela melihat Rifki seperti itu. Aku membantunya kembali berdiri lalu saling berhadapan.
"Dengar aku, apapun yang terjadi. Mendingan kamu urus urusanmu dengan Mita sebagai suami istri."
"Tidak, Put!"
"Kamu harus tahu, aku masih cinta sama kamu. Demi Allah, aku masih mencintai kamu."
"Tolong jangan terima perjodohan orangtuamu dengan Rival." Rifki membuatku kembali menangis hingga rasanya ingin pingsan.
Akankah masalah ini terselesaikan?
__ADS_1
Bersambung...