Kumpulan Cerpen Romantis

Kumpulan Cerpen Romantis
Love In Pantai Losari (Sakit Tapi Tak Berdarah!)


__ADS_3

Sudah dua minggu hubungan kami berjalan dengan lancar dan Aku tidak berhenti memikirkan keadaan Mita. Tinggal 3 minggu lagi, Aku berusaha kuat demi melihat dia bahagia dengan caraku menenangkannya.


Dua minggu itu, Rifki sudah bekerja sebagai karyawanku di Mall. Diapun merasa senang karena kemarin dia pindah menjadi anak kost-kostsanku.


Kamarku berada di lantai dua sedangkan lima kamar lainnya berada di lantai satu. Di lantai satu sudah termasuk 2 kamar kecil dan 2 ruang dapur untuk dipakai memasak. Selain itu, Rifki hampir setiap hari membelikanku cemilan untuk kumakan setiap malam saat menulis Novel.


Hari ini adalah hari senin 10 januari 2022 dimana kami berdua sedang berada di tempat wisata alam sambil menikmati indahnya air terjun dan sungai yang sangat indah. Kami berfoto sambil menikmati makanan ringan yang dibeli di tempat itu.


Dibawah pohon, kami berdua menebar tikar sambil duduk mengobrol. Meskipun jarang bertengkar karena Aku yang mulai. Dia tidak pernah menyerah dan tetap saja ingin bersamaku selamanya.


Bagaimana nih? Satu bulan saja padahal hubungan begitu dipenuhi rasa kasih sayang tulus dan perhatian.


Didalam hatiku, aku merasa tidak rela untuk memutuskan hubungan cintaku dengan Rifki. Tapi bagaimana lagi? Mita, Nama itu tidak hilang dari pikiranku.


Aku ingin menanyakan ke Rifki tentang masalahnya, tapi... aku tidak mau, di relung hati ini selalu tertunda untuk menanyakan hal terpenting itu kepadanya.


"Kak Rifki, terima kasih yah udah mau pacaran sama aku?" ucapku sambil menatap air terjun itu dari kejauhan.


"Aku yang seharusnya berterima kasih, karena udah mau mengobati luka hati dan perasaan aku." Balasnnya, sambil mengenggam tanganku kananku.


Mataku berkaca-kaca dan berusaha tersenyum. "Hmmm Ngomong-ngomong aku pertama kali kesiniĀ  loh. Aku merasa senang banget."


"Kamu pernah ajak Mita kesini nggak?"


Pertanyaan itu merubah suasana kami, hingga melihat wajah Rifki tampak sulit menjawab. Ia meneguk sedikit minumannya lalu menjawab pertanyaanku.


Ia mengangguk tanpa memandang wajahku. "Iya, aku sama Mita tidak sengaja bertemu di sini. Saat itu Mita putus dengan Rival terus Rival meninggalkannya. Usai putus, aku mendekatinya sama seperti caramu mengobati luka hati dan perasaanku."


Rifki menatap wajahku begitu dalam. "Mohon jangan ada kata putus diantara hubungan kita, yah!"


"Separah apapun masalah yang kita buat, jangan putus. Jujur, aku suka caramu dan cara kita berpacaran. Sangat dewasa dan kamu setiap ada masalah kamu sabar dan menyerah begitujuga aku. Aku suka dan aku cinta sama kamu, Put."


Semua perkataan itu, membuatku sedih hingga tertarik. Namun hanya bisa bertahan satu bulan hubunganku dengan Rifki. Kutarik napasku dalam-dalam, lalu tersenyum lebar sambil mengusap ujung rambutnya.


"Jadi gini yah namanya pacaran, hmmm... aku juga sayang sama Kakak. Kuharap hubungan kita-"


"Sampai ke pelaminan!" Sambungnya membuatku tertawa puas.


"Ih, apaan sih kak. Sampai memikirkan itu." Wajahku memerah dan membuatnya tampak gemas.


"Ternyata menjadi karyawan di tokomu lebih santai, yah. Tinggal ngatur baju habis itu tunggu customer datang." Ujarnya membuatku terkekeh.

__ADS_1


"Masa, kalau begitu mau rasakan bagaimana capekya menjadi seorang penjahit."


"Iya,"


"Pasti capek banget, yah!"


"Bentar malam kamu naik di lantai dua, aku kerja disitu. Karena ruangannya cukup luas. Lantai dua hanya memiliki satu kamar."


"Serius! Ayo pulang!"


Malam pun tiba, sekitar pukul tujuh. Kami berdua sedang makan mie ramen kemudian Rifki membantuku menggunting kain yang akan kujadikan pakaian.


"Setelah di cut, habis itu di jahit yah?" tanya Kak Rifki kepadaku. Aku sedang menjahit.


"Iya, tapi dibenarkan dulu sisinya. Gimana capek, kan?" tanyaku dengan suara sedikit serak.


"Tentu saja, capek banget. Lihat deh, tak terasa sudah jam 10 malam. Kamu biasanya tidur jam berapa?" tanya balik Kak Rifki, ia berdiri di depanku.


"Jam 3 pagi. Aku... hampir setiap hari tidurnya cuma 4 jam." Jawabku membuatnya kaget.


"Hah! Cuma 4 jam."


"Kenapa?"


"Gombal kamu! Udah deh, Kakak besok Kakak kuliah. Mendingan Kakak kembali tidur saja." Pintaku, dia menolak dan kembali membantuku menggunting kain itu.


"Nggak pokoknya aku harus menyelesaikan ini bersama-sama."


Jam sudah menujukkan pukul 12 malam, aku tiba-tiba sangat mengantuk karena kemarin aku tidak tidur sampai pagi akibat memikirkan masalah tentang Mita yang menyuruhku pacaran cuma satu bulan.


Aku memejamkan mataku diatas mesin jahit hingga tak sadar kalau Kak Rifki menggendongku masuk ke kamar. Saat dia meneyelimutiku, aku membuka mataku dan tekejut melihat wajahnya yang begitu ingin mencium keningku.


"Selamat malam!" Ucapanya lalu ingin keluar dari kamarku.


"Terima kasih sudah mencintaiku sampai detik ini." Balasku, Rifki kembali berlutut di pinggir tempat tidurku. Aku terbangun lalu memeluknya sambil menangis.


"Jangan tinggalin aku, yah! Sebesar apapun masalah yang akan datang kedepannya. Mohon jangan tinggalin aku!" Ucapku tersedu-sedu.


Wajahnya tampak bingung. "Kamu kenapa? Ada masalah?"


"Aku janji, nggak akan ninggalin kamu kok."

__ADS_1


Tanpa sadar, Kak Rifki berbaring d sebelahku dan tak lupa membatasi bantal guling di tengah-tengah. Kami saling berhadapan, bertatapan, dan juga Aku merasa gugup.


"Jangan takut, aku disini cuma temani kamu sampai tidur."


"Tidurlah, jangan menangis lagi!"


Jantungku berdebar tidak karuan. Aku malah memikirkan Mita yang kini mengandung anak Rifki.


"Kakak keluar aja, Aku mau tidur kok!"


"Aku bukan pria mesum, imanku kuat kok. Aku tidak mau merusak anak orang. Apalagi kamu, kamu adalah masa depanku." Usai mengatakannya, aku beranjak dari tempat tidurku. Aku menarik keluar tangannya dari kamar.


"Turunlah, besok aku harus ke gramedia lagi mencetak buku."


Ia mengangguk. "Oke, selamat malam!"


Kak Rifki akhirnya turun dari lantai dua kamarku. Aku terburu-buru masuk ke kamar lalu menguncinya.


Kemudian melompat ke tempat tidur dengan wajah kembali berpikir banyak.


"Astaga jantungku, hampir copot!"


"Kok Mita bisa hamil, sih. Padahal tadi Kak Rifki mengatakan hal baik-baik kepadaku."


"Uh, 3 minggu lagi! Hubungan kami akan berakhir."


Pagi, pukul 05:40. Aku bersiap-siap membuka toko ku di Mall sebelum berangkat ke gramedia. Tiba-tiba, suasana hatiku mendadak tidak nyaman setelah mendengar suara Mita yang datang menemuiku pagi sekali.


"Putri!" Panggil Mita kepadaku.


Aku berbalik badan. "Mita, ada apa? Pagi-pagi kesini?"


"Aku ingin mengobrol sama kamu sebentar." Pinta nya.


Aku menerima kehadirannya. Aku mengobrol di depan tokoku. Dia berkata bahwa dia butuh biaya.


"Apa! Kamu butuh susu hamil dan buah-buahan." Aku kaget, baru tahu kalau orang hamil itu selalu mengidam makanan.


"Aku mengidam, banyak yang ingin ku makan. Uang kuliahku sedikit lagi karena makanan terus dan susu untuk ibu hamil pun mahal-mahal semua." Ujarnya penuh keluhan.


Tanpa ragu, Aku menyogokinya uang sebanyak 500 ribu. "Ambillah, beli yang benar-benar saja. Jangan sampai kamu sakit!"

__ADS_1


"Terima kasih yah, Put. Aku sedih, kamu masih mau berteman sama aku." Ucapnya membuat lubuk hatiku malah terpaku.


Bersambung...


__ADS_2