
Satu minggu kemudian, Rifki akhirnya pulang kampung di ikuti oleh ibunya. Rifki berhasil menemukan ibunya bahkan ibunya merasa senang namun sayang ia sudah memiliki suami dan seorang putra masih berumur 10 tahun.
Rifki membawa ibunya ke rumah dimana ayah dan ibu tirinya ada di sana yang sedang asyik nonton TV pada sore hari.
Pak Umar dan Mira tampak syok kedatangan tamu yang tak terduga. Kini Lita duduk di ruang tamu bersama dengan suami dan putranya. Begitujuga Rifki tak berhenti memeluk badan ibu kandungnya.
"Apa kabar Mas Umar dan Bu Mira?" tanya Lita lembut. Sedangkan, Mita sedang menyiapkan teh untuk tamunya.
Wajah Mira tampak syok hingga merasa malu. Ia berusaha tegas namun matanya berkaca-kaca karena merasa bahwa ia adalah penghancur rumah tangganya dulu.
"Ba- baik..."
"Rifki, bagaimana bisa kamu membawa ibumu jauh-jauh kemari?" tanya Umar sedikit menegur.
"Dia mau ketemu sama orangtua Putri, Pa. Katanya Putri diterima bekerja di perusahaan suaminya Mama." Jawab Rifki santai.
Wajah Mira tampak sedih, ia tak tahan melihat kedekatan Rifki dengan ibu kandungnya. Kenapa? Karena Mira yang merawat Rifki sampai besar.
Detik itu, Putri akhirnya datang sambil membawa beberapa berkas untuk diberikan kepada suami Lita. Nama suami Lita adalah Imran. Imran menyapa Putri begitu ramah.
"Silahkan duduk disini, Putri." Suruh Imranย ke Putri. Putri akhirnya duduk di ruang tamu itu sambil menyerahkan berkas surat lamarannya untuk bekerja di perusahaan suami Lita.
"Maaf, Pak Imran. Kenapa anda bisa disini? Saya kaget waktu dapat kabar baru-baru kalau Bapak ada disini?" tanya Putri tampak bingung.
Sambil menunjuk Lita dan Rifki. "Anak ini membawa kami kesini."
Putri menunjuk Lita. "Jadi dia ibu kandungnya Kak Rifki, bukan?"
"Benar, dia ibu kandungku." Sambung Rifki.
"Selamat, kamu bekerja di perusahaan ibuku." Tambah Rifki tampak bahagia.
"Terima kasih!" Balas Putri dingin.
"Rifki, jadi kamu ingin ikut ke ibumu?" tanya Umar khawatir.
Rifki mengagguk membuat Mira hampir pingsan. "Iya, Pa."
Suara gelas terjatuh didapur. "Mama..." teriak Mita meringis.
Umar, Mira, dan Rifki berlari ke dapur. Ia terkejut melihat Mita terbaring dan terdapat darah di kakinya.
Sepertinya Mita akan melahirkan.
Keesokan harinya, suasana semakin memanas. Rival dan bayi yang barusaja di lahirkan Mita akhirnya melakukan tes DNA atas perintah paksa Rifki dan Lita.
Hasilnya akhirnya keluar setelah 5 jam menunggu di ruang tunggu. "Jadi bayi ini... ayah yang sebenarnya adalah mas Rival bukan Rifki." Ungkap perawat itu.
"Aku mau cerai dan aku mau Rival yang menafkahi Mita dan Anaknya karena dia adalah pelakunya." Pinta Rifki yang masih berdiri di sebelah ibu kandungnya.
Sedangkan Putri tidak ada disana, ia berada di rumahnya karena tak mau melihat pertengkaran Rival dan Rifki lagi.
__ADS_1
Rival akhirnya menyerahkan diri ke Ayahnya, Umar. Ia berlutut meminta maaf sambil mengakui kesalahannya beberapa bulan yang lalu.
Ke esokan harinya, Rifki akhirnya berpamitan untuk ikut ke ibu kandungnya. Ia masih kecewa dan tidak mau melihat Rival. Kini Rifki sedang dipesawat bersama ibu kandungnya, Lita. Rifki tampak bahagia karena Imran mau menerimanya sebagai putra keduanya.
Sebulan kemudian, Rifki sedang bekerja di perusahaan ibunya sebagai manager. Tentang perusahaan itu adalah menjual beberapa pakaian mahal dan juga pakaian dari luar negeri. Tak hanya itu, Imran juga memiliki restoran bintang lima dan apartemen pribadi di dekat perusahaannya.
"Besok kita kedatangan karyawan baru. Tolong ajarkan dia lebih banyak hal tentang perusahaan ini." Pinta Lita ke putranya. Mereka sedang menikmati makan malam di restoran itu.
"Siapa, Ma?" tanya Rifki penasaran.
"Lihat aja besok! Oke Mama ada rapat pertemuan penting malam ini. Kamu pulang duluan, yah!"
"Iya, Ma. Semangat!" Ucap Rifki lalu mencium punggung tangan ibunya.
Pagi sudah tiba, langit Jakarta begitu cerah dan sejuk. Beberapa karyawan baru sedang berbaris rapi di perusahaan milik Lita. Karyawan itu ada sekitar 10 orang, mereka berbasis tepat di depan Rifki yang ingin memberi arahan dan beberapa pelajaran.
Mata Rifki tiba-tiba berbinar usai melihat kehadiran seorang wanita dengan pakaian rapi. Siapa lagi kalau bukan Putri. Rifki mendekati Putri yang hendak memperbaiki hijabnya.
"Selamat pagi, Pak!"
"Maaf, jilbab saya sedikit bermasalah." Ucap Putri, ia akhirnya kembali berdiri tegak.
"Kenapa kamu lama sekali." Balas Rifki dengan tatapan dinginnya.
"Lama apanya, Pak. Saya sama sekali tidak terlambat." Putri tampak bingung.
"Maksudnya, kenapa kamu tidak menyusul aku bulan lalu?" Pertanyaan itu seketika membuat karyawan lainnya malah membubarkan barisannya dan menonton Putri dan Rifki yang sedang berdebat.
"Itu... aku belum siap dan paspor aku juga belum beres, Pak!" Putri ingin mencubit pinggang Rifki.
Putri tersenyum lebar, ia memeluk Rifki hingga membuat karyawan lainnya baper.
"I miss you, Kak!"
"Maaf, aku salah menilai Kakak waktu itu."
Rifki membalas pelukannya. "Jangan dibahas lagi, mari kita memulai lembaran baru. Siapa tau tidak lama kamu bekerja disini kamu akan kujadikan manager untuk membantu ibuku."
"Selain itu...,"
"Selain itu? Apa, Kak?" tanya Putri usai memeluk Rifki.
"Selain itu, aku mau menikahi kamu."
Suara tepuk tangan dari karyawan temasuk Lita dan suaminya. Apakah ini adalah akhirnya yang tak memiliki masalah lagi?
Putri sungguh bahagia melihat Rifki yang bebas dari masa lalu yang kelamnya itu. Lita mendekati Rifki dan Putri lalu merangkul pundak mereka.
"Ibu senang melihat kalian berdua dipertemukan kembali."
"Hmm... kenapa Ibu bisa tahu?" tanya Putri, ia menatap malu wajah Rifki.
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan Rifki yang bilang semuanya."
"Mulai sekarang kamu langsung kuangkat menjadi managerku asalkan kamu mau menerima cinta putraku."
"Yang benar saja doang, Ma! Iya kan Putri?" tanya Rifki tampak kesenangan.
Putri hanya mengangguk. "Bagaimana dengan Kak Rifki? Dia kerja apa?"
"Kalau Rifki... sekarang dia ada di posisi suami Mama. Dia bekerja sebagai menager di restoran bintang lima milik suami Mama."
"Tak ada waktu mengobrol banyak, sekarang kita semua mulai bekerja. Rifki, kamu temui Papa dan Putri ikut Mama ke kantor pribadi." Imbuhnya.
"Huh, padahal belum 10 menit aku bertemu sama Putri udah di pisahin aja." Keluh Rifki membuat Putri tertawa kecil.
"Kan kalian mau nikah, ya ampun gini amat hidup kamu." Omel Lita ke putranya.
"Sudah, beri saja mereka waktu satu hari untuk mengobati rasa rindunya." Kata Imran yang barusaja muncul. Ia merangkul pundak Istrinya.
"Serius, Pa?"
"Yes!"
"Ma, aku libur dulu yah!"
Rifki menarik tangan Putri menuju ke mobil milik Imran. Rifki membawa Putri ke tempat spesial yaitu menaiki kapan Ferrari di pulau Jakarta.
"Kamu kenapa tiba-tiba ajak aku kesini?" tanya Putri sambil menggeggam tangan Rifki.
"Karena awal bertemu kita di pantai kan? Jadi... awal lembaran baru kita sebelum menikah adalah menikmati pulau indah ini."
"Terima kasih sudah bertahan dan menahan rasa sakit hatimu karenaku, Put!"
Putri mengangguk. "Sama-sama!"
"Semoga hubungan kita bertahan sampai ajal menjemput."
Dear Rifki...
...Terima kasih sudah hadir sebagai pacarku meskipun hanya sebulan......
...Terima kasih kepada sang maha pencipta karena mepertemukan aku dan lelaki yang kuinginkan......
...Aku tak butuh hartamu setelah menikah karena aku juga bisa bekerja......
...Aku hanya butuh perhatian, rasa kasihmu, dan rasa sayangmu......
...Itu saja.......
...I Love you forever!...
...END...
__ADS_1
...Oke Jangan lupa Cerpen Selanjutnya, Teman-teman!...
...๐๐๐...