
Pukul 11 malam, Anaya akhirnya sampai depan rumahnya. Iya tak lupa pamit kepada Pak Cleo dan Ghino. Wajah Pak Cleo sungguh senang melihat putranya pulang kerumah.
"Nay, terima kasih!" ucapnya penuh tulus.
"Sama-sama, Pak." Anaya turun dari mobilnya tanpa menyapa ke Ghino.
Apa dia lupa kalau aku ada disini juga? pikir Ghino, iya mengikuti Anaya keluar dari mobilnya.
"Heh, ini rumah kamu?" tanya Ghino sambil menunjuk rumah kinara yang tampak seperti istana.
"Iya, jujur yang disebelah itu," sambil menunjuk rumah neneknya, "Adalah rumah nenek aku. Aku tinggal dan besar dirumah itu. Usai Nenek aku tiada, aku diterima sama ibunya sahabat kecil aku." jawab Anaya tidak ragu.
"Sahabat kamu! siapa?"
Detik itu Budi membuka pintunya, wajahnya tampak marah menangkap sosok Cowo tampan dan tinggi sedang berhadapan dengan Anaya begitu dekat. Budi mendekati Anaya dan merangkul pundaknya, "Lama banget perginya! ingat kamu perempuan. Kamu harus hati-hati."
"Bud, jangan bilang begitu." Bisik Anaya ke Budi.
"Salken sama dia." suruh Anaya ke Budi.
"Gue Budi, Salken!" ucap Budi ke Ghino, ia tidak mau berjabak tangan dan wajahnya cuek.
"Ghino, calon pacar Anaya." Balas Ghino membuat Budi melotot ke arah Anaya.
"Kenapa?" Anaya syok sambil menyintak kepala Budi.
Budi langsung menarik tangan kanan Anaya masuk ke rumahnya padahal Anaya belum pamit ke Ghino. "Bud, kamu ngapain sih. Belum gue pamit lo paksa gue masuk kerumah."
Budi bergeleng heran. "Wah, udah nggak sopan ini anak!"
"Ngapain lo mau pacaran sama orang skit-sakitan?"
"Idiiih, yang benar saja doang."
"Maksud kamu apa sih. Bud. Yang benar apanya?"
"Udah deh,"
"Sana tidur aja, awas kalau besok kamu telat bangun pagi. Gue ninggalin lo ke mall beliin bunda bahan kue buat ultahnya." perintah Budi dengan wajah tampak dingin.
"Yaelah, Kak! kenapa harus repot-repot. Kenapa nggak beli kue ultah yang jadi aja. Terserah kamu deh, Bud. Anaya mendingan hias dekorasi untuk ulang tahun aja disini buat Bunda."
Budi berkacak pinggang, "Oke!" tegur Budi, ia kembali ke kamarnya dilantai dua.
__ADS_1
"Apasih, galak banget!" batin Anaya lalu masuk ke kamarnya.
Anaya menghempaskan tubuhnya kekasur tempat tidurnya. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan wajah tampak sedih. Anaya kembali mencerna perkataan Ghino tadi di Rumah Sakit.
"Haahaha... Hanya karena kamu OCD, cewe-cewe pada jauhin kamu. Huh, ndk ada yang bisa mengalahkan kesabaran aku."
"OCD, siapa bilang begitu?"
Ayana sedikit syok. "Eh, ayah kamu!"
"Bukan OCD tapi aku... tumor otak dan selalu terkena serangan jantung." Jawab Ghino seketika membuat Anaya kembali menangis. Ia mengingat kembali neneknya. Dulu waktu Lita masih muda, ia mengidap penyakit seperti yang dikatakan Ghino tadi.
"Harapanku ingin mendapatkan kekasih seperti Budi namun takdirku malah mempertemukanku dengan Ghino." batin Anaya lalu memejamkan matanya.
Jam delapan pagi, Budi sudah berada di depan pintu Anaya dari tadi. Budi sudah mengetuk berulang kali pintu kamar Anaya, tetap saja tidak ada suara dari dalam. Apakah Anaya sudah pergi? pikirnya.
Budi terpaksa memutar knot pintu kamar Anaya lalu membukanya. Wajahnya kembali bergeleng sedikit marah karena diatas tempat tidur Anaya tidak ada. Anaya, kamu dimana? pikirnya.
Budi memutuskan untuk pergi ke mall sendirian. Sedangkan ibunya, Kinara akan pulang hari ini dari Bali usai menjalankan bisnis produk kecantikan.
..........
Wajah Budi tampak malas dan cemberut, ia sedang memilih bahan kue ultah di mall. Usai membayarnya di kasir, Budi kembali di rumahnya dan terkejut melihat sosok pria tampan. Siapa lagi kalau bukan Ghino. Anaya dan Ghino sedang memasang hiasan dekorasi ulang tahun di dekat kolam renang milik Kinara.
Ghino dan Anaya sedang meniup balon, mereka tampak seru dihiasi canda tawa. Wah... Wah... Ghino kayaknya mulai suka deh sama Anaya. Cowo itu tak pernah absen menyentuh pipi Anaya setiap jamnya. "Kamu lucu," batin Ghino tersenyum lebar kearah Anaya yang sedang meniup balon.
Usai Anaya dan Ghino membuat dekorasi untuk ulang tahun ibunya Budi. Mereka masuk ke ruang dapur untuk mengamati gerak-gerik Budi. Tampaknya Budi saat ini diluar dugaan Anaya.
"Ya ampun, Bud." teriak Anaya terkejut sedangkan Ghino berusaha mendatarkan wajahnya.
Wajah tampan Budi sudah tak nampak lagi, dimana terigu dan coklat menghiasi wajah dan bajunya. Budi bahkan lupa memakai clemek dan membuat Anaya ingin sekali memukulnya seperti anak kecil.
Anaya mendekati Budi, ia berdiri disebelahnya. "Sudah kubilang kalau ada yang mudah malah cari yang susah dan merepotkan pula, hiks!"
"Ghino mendingan kita yang buat kuenya." Panggil Anaya lirih, ia menarik tangan Ghino dan berdiri di sebelahnya.
"Apa lo lihat!" gumam Budi ke arah Ghino sembari mengaduk adonan kuenya memakai sendok sayur.
Ghino menggigit bibirnya agar tawanya tidak terlepas, "Nay, pemandangan ini lebih asik daripada menonton master chef di TV." bisiknya membuat Anaya tertawa lepas.
Posisi Anaya saat ini berada di tengah dimana di sebelah kanan dan kiri ada cowo tampan. Budi menatap sinis wajah Ghino seakan-akan lomba penting dimulai. Anaya mencubit pinggang Budi untuk fokus. "Sekarang kita buat kue ultahnya."
"Budi, kamu ambil baskom besi dibelakang kamu," Anaya sedikit menegur Budi hingga membuat Budi tak enak hati.
__ADS_1
"Ghino, kamu yang campur bahannya." perintah Anaya lembut ke Ghino.
"Nay, kok kamu sopan banget sih sama dia?" tegur Budi kelepasan.
"Iyalah, diakan tamu kita. Mana ada tamu dibentakin." Balas Anaya sambil menatap sinis wajah Budi.
"Huh, terserah lo!" gumam Budi menyerah. Memang, perempuan selalu benar, iya kan!
Saat ini Anaya sedang mengajar Ghino mencampur bahan kuenya. "Kita lihat saja resepnya lewat HP, yah!"
"Masukkan 4 butir telur, 150 gr gula pasir, 150 gr margarin, 50 ml minyak sayur, 200 gr terigu, 1 sdm sp, 1 bgks vanili, 1 sdm coklat bubuk, 1 bungkus SKM. Habis itu kita mixer masukkan ke Loyan lalu open."
(Btw, ini resepnya beneran yah Friend!)
"Oke." Balas Ghino.
Ghino sedang memasukkan bahan makanannya sedangkan Anaya memandang wajah Budi yang masih dipenuhi terigu dan coklat. Anaya mengambil tissu, "Budi, sini sebentar." Panggil Anaya ke Budi.
Budi mendekati Anaya, "Apa?"
Anaya menarik kerah baju Budi hingga membuat Budi syok. bibirnya sedikit lagi menyentuh kening Anaya. "Aku mau bersihin muka kamu, jelek dilihat kayak badut!"
Budi tertawa tipis sampai kedua lesung pipinya kelihatan. Budi begitu senang, ia pertama kali memandang wajah Anaya begitu dekat. "Thank you, Nay!"
"Ya, diam!"
Detik itu, Ghino tak nyaman melihat Anaya begitu dekat sekali dengan Budi. Ghino berdeham, "Nay, terigunya berapa gram yah tadi kamu bilang?"
Anaya hendak mengambil kembali HP-nya tapi Budi meraih duluan. "200 gram!" sambung Budi cuek, ia masih menikmati wajahnya dibersihkan oleh Anaya.
"Apa lo bilang?" tanya Ghino pura-pura tak dengar.
"200 gram." Jawab Budi super sabar.
"Apa? gue nggak dengar?" tanya Ghino kembali, suaranya lirih namun membuat Budi kehilangan kesabarannya.
"200 gram, woy." Teriak Budi kelepasan.
"Ngajak gelut si, Lo!" imbuhnya.
Bagaimana kisah selanjutnya?
BERSAMBUNG...
__ADS_1