Kumpulan Cerpen Romantis

Kumpulan Cerpen Romantis
Anaya & Ghino (Maaf!)


__ADS_3

Budi menuju ke tempat dimana sekumpulan para tamu pernikahan sedang berdansa. Langkah kakinya terhenti mendengar Ghino menyatakan cintanya ke Anaya. Wajah Budi tampak sebal, ia ingin menemui mereka namun Kinara dan Hanna merangkul tangannya.


"Lepasin,"


"Bunda, lihat... Anaya."


"Kenapa?"


"Kuharap Anaya menerima cintanya, mereka tampak serasi."


"Iya kan, Hanna?" tanya Kinara ke Hanna.


Hanna mengagguk dan tersenyum kecil. "Iya, kuharap endingnya tidak sad!"


"Lalu aku bagaimana, Bunda?" tanya Budi ke Ibunya, wajahnya begitu tampak tidak terima jika Anaya berkencan dengan Ghino.


"Bagaimana apanya? Kamu kan sekarang sudah punya Hanna. Biarkan dia merasakan yang namanya pacaran juga." Ancam Kinara, ia tak terima jika Budi menyukai Anaya.


Usai Budi mendengar Anaya berkata "Ya, aku mau!"


Hati dan perasaan Budi seperti teriris menyakitkan. Budi hanya bisa mengendus kasar sedangkan Hanna melirik Budi yang tampak cemburu dan merasa menang.


Hanna menatap wajah Budi sejenak lalu meyandarkan kepalanya di pundak Budi. "Kenapa? kamu seharusnya senang melihat sahabat kecilmu berkencam."


"Hanna, gue tetap nggak suka sama lo. Jadi pergi, lah. gue nggak bakalan cinta sama lo."


"Gue nggak mau menyerah, Bud. Gue tetap berusaha buat lo jatuh cinta dan sayang sama gue,"


"Kebetulan Anaya yang kau bilang dulu ke teman sebangkumu bahwa Anaya itu sahabat rasa pacar. Dan sekarang Anaya memilih yang lain, percuma lo mau kejar Anaya lagi kalau hatinya hanya buat Ghino."


"Nggak usah sok tau, lepasin tangan lo!" bentak Budi masih marah.


"Yuk!" Hanna.


"Kita beri selamat sama mereka, gue senang sahabat lo akhirnya punya pacar juga. Kayaknya dia pacar pertamanya." Imbuhnya lirih.


Hanna mengajak Budi untuk berdasa tepat di sebelah Ghino dan Anaya. "Hanna!" gumam Anaya, alisnya berkerut terkejut melihat kehadiran Kakak kelasnya waktu SMA.


Anaya sampai tak fokus berdansa dengan Ghino. Cewe itu tiba-tiba terjatuh lalu menutup kedua telinganya.


"Nay, kamu kenapa?" tanya Ghino, ia menyentuh kedua pundak Anaya dan wajahnya tampak panik.

__ADS_1


Anaya tiba-tiba pingsan hingga membuat Budi syok. Budi mendorong tubuh Ghino lalu menggedong Anaya kembali ke apartemen dimana Anaya menginap..


Kini Anaya terbaring diatas sofa dengan wajah tampak pucat. Budi berusaha membangunkan Anaya dengan cara mengoleskan sedikit minyak kayu putih ke bawah hidung Anaya.


"Nay, kamu nggak apa-apa kan?"


"Nay, mohon bangunlah. Sepertinya kamu belum sarapan pagi, yah!"


Budi begitu panik, dan memeluk Anaya yang masih belum sadar. Budi megelus rambut Anaya dan tubuhnya dingin membuat Budi makin panik.


"Nay, bangun!"


"Nay, kok kamu dingin banget yah!"


Detik itu, Ghino datang bersama Kinara. Ghino meraih pundak Budi ke belakang dengan wajah tampak geram. "Lepasin dia!"


Ghino memeluk Anaya lembut dan akhirnya Anaya sadar, Anaya membalas pelukan Ghino erat. Mereka dibuat bingung, Anaya tiba-tiba menangis ketakutan tidak berani melihat kehadiran Hanna di depannya.


Ada apa? Sepertinya Anaya pernah menjadi korban Bulli Kakak kelasnya, Hanna? Pasti, Anaya pun tak mau melihat kehadiran cewe itu, Hanna.


"Gino, bawa aku pergi jauh! Bawa aku pulang, aku takut!" Pinta Anaya sambil merengek tiga kali.


Kini hanya ada Anaya dan Ghino di balkon apartemen, keadaan Anaya sedikit membaik. Sedangkan Ghino tiba-tiba mimisan tepat di hadapan Anaya. Anaya mengambil tissu diatas meja balkon lalu membersihkan darah itu dari hidung Ghino.


"Kamu mimisan, Gin. Kamu baik-baik aja? Apa kepala kamu sakit lagi?"


Ghino kembali mengelus pipi Anaya lembut. "Aku baik-baik aja, Nay!"


"Aku cuma penasaran, tadi kamu kenapa?" tanya Ghino serius.


"Hanna,"


"Perempuan itu! Dulu, dia selalu membulli-ku." Jawab Anaya dengan tatapan kosongnya.


"Kenapa dia Bulli kamu?"


"Dulu, Aku sama Budi dekat bak saudara karena kami bertetangga. Dulu kami pergi sekolah bareng dan pulang bareng. Meskipun berbeda kelas, aku kelas 10 ipa doa 12 Matematika. Aku tetap menunggu dia sampai pulang."


"1 tahun, aku menjadi korban bulli secara diam-diam karena tak mau jika Budi tahu hal ini. Hanna suka sama Budi, Hanna sama Budi satu kelas, Hanna jatuh cinta namun Budi menolak dan tetap dekat denganku. Itulah awal mula Hanna bulli aku selama setahun sampai dia tamat." Curhat Anaya membuat Ghino tidak sabar untuk menyuruh Hanna meminta maaf kepada Anaya.


Anaya menyentuh lengan Ghino dan memohon untuk merahasiakan ceritanya barusan. "Aku minta, tolong rahasiakan ini. Ini hanya masa lalu aku, jangan di ungkap lagi. Meskipun lukanya masih membekas dan terbayang dipikiran aku. Aku pasti bisa melewati semua ini."

__ADS_1


Ghino mengagguk mengerti. "Ya!!"


Anaya berdiri sambil memandang indahnya kota Singapura. "Indah banget!"


Ghino bangkit dari kursinya lalu berdiri disebelah Anaya. "Nay, bagaimana jika hubungan kita tidak bertahan karena kondisiku, penyakitku mematikan."


Anaya menjitak kening Ghino. "Tega yah kamu bilang begitu. Pastinya hubungan kita bertahan sampai tua banget."


Ghino tersenyum kecil. "Tua banget! Maksud kamu, nanti kita akan menjadi suami istri."


Anaya hanya mengagguk serius, ia sama sekali tidak memikirkan Budi, "Aku pernah kok diposisi itu, Nenek. Diam-diam Nenek aku menyembunyikan penyakitnya persis sperti penyakit kamu sampai ajalnya datang,"


"Jadi sekarang kamu. Tolong bertahan dan buat aku bahagia begitupun masih banyak cara yang ingin kutunjukkan untuk kamu."


"Cara apa?" Ghino menatap Anaya lekat.


"Cara mencintai dan sayang!"


"Bukankah itu membuahkan kebahagiaan."


"Itulah yang aku butuhkan."


"Saat ini." Jawab Anaya, matanya berkaca-kaca lalu menggenggam tangan Ghino.


Budi saat ini masih tampak cemas menunggu kondisi Anaya. Anaya akhirnya keluar dari kamar apartemennya bersama Ghino. Budi menyentuh kedua pundak Anaya lembut. "Nay, kamu nggak apa-apa kan?"


Anaya melirik Hanna dan melihat wajahnya tampak sinis. Perlahan Anaya melepaskan tangan Budi lembut.


"Aku baik-baik aja, Kok. Aku... lupa sarapan pagi tadinya. Sepertinya aku harus makan siang dulu, aku pergi dulu yah!"


Budi menggandeng tangan Anaya. "Biar aku yang temani, takut nanti kamu pingsan lagi."


Kinara berdeham untuk memberi kode ka Hanna. Hanna kembali merangkul lengan Budi lembut. "Aku ikut, aku juga belum makan pagi."


"Dia kan udah punya pacar, lagian kamu kenapa urus sahabat kecil mu yang sudah berpawang itu." Imbuhnya membuat Budi perlahan melepaskan tangannya dari Anaya.


Apakah Budi mencintai Anaya? Wajah Budi masih sebal dan tak terima. Ia hanya pasrah, melihat Anaya pergi bersama Ghino.


Kinara tersenyum puas, ia memang menyukai Hanna sebagai calon menantunya untuk putranya, Budi. Kinara bahkan sudah berencana menyuruh Budi untuk melamar Hanna segera.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2