
Satu hari lagi, hubungan aku dan Rifki akan putus. Dan setelah dua hari itu, adalah dimana aku berulang tahun. Aku benar-benar merasa hancur. Kini aku sedang menyusun buku novelku di gramedia yang sudah ku cetak.
Wajahku penuh cemberut sampai tak sadar kalau air mataku menetes. Setelah aku menyusunnya, aku kembali ke tokoku sambil mengurus kedua karyawanku yang ingin menutup toko pada malam hari.
"Selamat sore, kalau kalian capek tutup saja sementara. lanjutkan habis Maghrib!"
"Serius, Kak!" Lily tampak senang.
"Serius, aku juga capek banget!" balasku sambil merangkul pundak mereka.
"Kakak akhir-akhir ini... kok kelihatan ada masalah, yah?" tanya Pingky, dia memeluk badanku dan menyandarkan kepalanya dipundakku.
"Begitukah? Pokoknya kalian tidak usah tahu. Aku pulang dulu, yah!"
"Bye!" pungkasku.
Pukul sembilan malam, aku pulang ke rumah dan kulihat Rifki sedang menyiapkan makan malam di dapurku lantai dua. Aku kembali tersenyum, tapi itu hanya paksaan. Aku tertawa seolah-olah hubunganku akan panjang.
"Terima kasih sudah menyiapkan makan malam untukku, aku memang belum makan!" Ucapku lalu melahap nasi goreng buatannya.
Setelah aku makan, aku keluar di balkon rumahku. Aku duduk dikursi sambil menangis karena tak kuat memendam rasa kecewa dan sedihku.
Setelah aku menangis, aku menyandarkan kepalaku kenpundaknya sambil menggeggam tangannya. Aku tertawa kecil karena kisahku dengannya kadang terdengar lucu.
Apakah aku sudah Gila, pikirku.
"Bagaimana, besok adalah hari terakhir kita! Kuharap besok kamu tidak menambah masalah lagi. Jadi jalani saja, percayalah aku pasti akan membantumu." Saranku.
Aku dan Rifki saling bertatap mata. Dia mengelus pipiku lembut dan memelukku sebentar.
"Padahal itu bukan salah aku!" ujarnya membuatku masih tidak percaya.
"Kembalilah ke kamarmu, aku ingin tidur, aku capek." Pungkasku lalu masuk ke kamarku dan tak lupa menguncinya.
Aku menyalakan musikku dengan volume penuh agar tak ada yang mendengar suara tangisanku. Kutatap langit-langit kamarku membuatku malah membayangkan dan memikirkan betapa indahnya kenangan aku berpacaran dengan dia meskipun hanya sebulan. Padahal ada hati yang terluka, ada rasa sayang dan penuh harap.
Jujur, aku benar-benar mencintainya, aku benar-benar tak mau berpisah dengannya. Tapi takdir merubah segalanya dan begitu sulit untuk di ubah.
Alur hidup ini sungguh tak sesuai dengan apa yang diinginkan. Namun kupikir, itulah jalan terbaik.
Aku memejamkan mataku hingga terlelap. Pagi pun tiba, aku mencium aroma sedap dari dapurku. Aku berlekas keluar dari kamarku Setelah mandi dan memakai pakaianku. Tak lupa juga memakai sedikit bedak agar wajahku terlihat tidak sudah menangis.
__ADS_1
Kulihat, Rifki sedang menyajikan bubur ayam dan roti bakar juga segelas susu putih. Aku tersenyum dan menikmati makanannya. Setelah kami sarapan pagi, kami berjalan-jalan ke Pantai Losari untuk menikmati hari terakhir liburan kami sebelum putus.
Kami sedang berfoto bersama sambil menikmati makan tradisional adat Bugis. Kami juga berkeliling di pantai dan Mall untuk membeli beberapa pakaian.
Tak terasa, malam akhirnya tiba sekitar pukul 9 malam usai nonton bioskop. Kami kembali ke pantai losari lagi. Disitulah, aku mengakhiri hubungan cinta bersama Rifki secara baik-baik.
"Hari ini sudah genap 1 bulan, yah!"
"Aku cuma mau bilang terima kasih sudah bersamaku sampai detik ini." Ucapku, mataku berkaca-kaca.
Kak Rifki memelukku. "Aku tak bisa, Put! Aku tidak mau melepaskanmu."
"Jujur, bagaimana bisa aku meninggalkan kamu untuk kembali ke Mita. Padahal, aku masih sayang sama Kamu."
"Kak Rifki, takdir tidak bisa diubah. Sebaiknya Kakak bertanggung jawab atas perbuatan Kakak sama Mita."
"Mita itu... orangnya baik, kok. Dia kan pernah pacaran sama Kakak. Aku yakin, setelah Kakak menikah sama Mita. Hubungan Kakak sama Mita pasti akan samawa selamanya."
Detik itu, pesan masuk di HP aku. Aku membacanya, rupanya Mita mengirimkan pesan lagi kepadaku. Aku membacanya lalu memasukkan kembali ke tasku.
"Besok kita masih ada waktu, ayo pulang."
"Besok, kita bertemu disini pagi-pagi."
Tak lama kemudian, Mita datang bersama dengan kedua orangtuanya. Rifki syok hingga panik. Dia tak ingin melepaskan genggam tangannya kepadaku.
"Kenapa dia datang?"
"Tenang, ada aku!"
Kini kami sedang duduk bersama-sama. Kulihat raut wajah orangtua Mita begitu penuh kecewa hingga rasanya seperti ingin menyerang Rifki.
"Jadi kamu yang membuat anakku seperti ini?"
"Berani-beraninya kamu, hah!" bentak ayahnya Mita.
"Maaf, Om! Aku tidak melakukannya sama sekali." Ucap Rifki kepada ayahnya Mita.
"Keterlaluan kamu!" ibunya Mita langsung menampar pipi kanan Kak Rifki.
"Sudahlah, tante dan Om jangan marah. Jangan melawan, mari dibicarakan saja secara baik-baik. Rifki akan bertanggung jawab, Kok!"
__ADS_1
"Iya kan?" tanyaku kepada Kak Rifki sambil menggenggam tangannya diam-diam.
"Tapi, Putri. Itu bukan ulah aku!"
"Aku yakin itu ulah si Rival!" balas Kak Rifki tidak terima.
"Hush!"
"Mita, bolehkah kamu menelepon Rival sekarang?" tanyaku ke Mita.
Mita mengangguk, dia menelepon Rival dan Rival pun akhirnya mengangkat teleponnya.
Aku meraih telepon itu dari tangan Mita lalu berbicara dengannya.
"Halo, Val! Ini aku, Putri."
"Ada apa nelpon gue pagi-pagi. Oh pasti ini tentang Mita, Kan!"
"Iya!"
"Astaga... bukan aku, saat itu aku mengajak Mita ke kelab terus si Rifki yang membawanya pulang."
"Mana bisa jadi kalau aku pelakunya."
"Udah deh, gue masih mau tidur." Rival menutup teleponnnya hingga membuat Kak Rifki kehilangan kesabarannya.
"Brengsek lu, Val! Jujur Riva sama aku itu bermusuhan banget. Dia dulu kakak kelas aku waktu SMP. Aku pernah dikunci di toilet perempuan sepulang sekolah. Aku terkunci sampai sore, untung saja ada satpan yang sedang mencari topinya di kantor." KataRifki kepadaku.
"Mulai sekarang, kamu Rifki... pulang kampung dan bilang ke orangtuamu hal ini!" Tegur ayahnya Mita kepada Rifki.
Rifki akhirnya memutuskannya meskipun wajahnya penuh kecewa tidak terima. Dia mengendus kasar lalu melepaskan genggaman tanganku.
Aku berusaha tersenyum begitupun kulihat wajah Mita tersenyum lega. Mita beranjak dari tempat duduknya. Aku berdiri lalu menyuruh Mita untuk duduk di sebelah Rifki.
"Aku pamit dulu, yah. Aku harus membuka toko ku!" pungkasku lalu berjalan cepat menuju ke mobilku.
Sampailah aku didalam mobil, aku mulai menangis tersedu-sedu hingga dadaku terasa sesak. 5 menit kemudian, aku melihat Mita sedang memeluk lengan Rifki melalui kaca spion mobilku. Setelah itu aku mulai mengemudikan mobilku menuju ke toko butik milikku.
Sampailah disana, aku semakin menangis hingga Pinky dan Lily berusaha menenangkan aku.
"Sabar, yah kak!"
__ADS_1
Bersambung...