
Hari hari berjalan seperti biasanya. Kuliah, pulang, kerja, pulang. Berulang seperti itu setiap hari. Kecuali hari Rabu sih. Khusus hari Rabu aku akan seharian di kampus berangkat pagi pulang sore. Yah, memang aku memilih hari Rabu untuk full kuliah karena libur kerja ku hari Rabu.
Hari ini adalah hari Rabu, dimana aku akan berada di kampus dari pagi jam tujuh hingga sore pukul setengah empat. Jadi, hari ini ada empat kelas mata kuliah yang harus aku masuki. Dan aku juga sengaja memilih kelas ini berurutan tanpa ada yang kosong di jam tertentu.
“Pagi Alice!!!” Teriak Nana dari belakangku.
“Pagi?! Ini udah siang kali. Udah jam dua belas, waktunya istirahat.”
“Pagi, biar tetep semangat di pagi hari.”
Aku dan Nana berjalan ke tempat biasa kami beristirahat. Biasanya kami istirahat di taman dekat kampus sambil membawa beberapa camilan. Biasanya kami membawa cemilan dari rumah. Tapi kali ini kami memilih untuk membeli jajanan kampus. Seperti batagor, siomay, pentol, cireng, gorengan.
“Pagi!” Teriak Nana lagi.
Nana memang anak yang penuh dengan energi, berbanding terbalik denganku yang tenaganya terkuras ketika berada di keramaian dan punya tenaga penuh saat berada di tempat sepi.
Kalian belum kenal kan dengan circle ku. Perkenalkan ada Lintang, si introvert sepertiku. Tapi dia orangnya gak enakan. Saking gak enakannya, sering tuh di manfaatin orang lain. Ada juga Helly dia juga introvert sepertiku, tapi dia lebih pendiam dari aku. Kalau di ajak ngobrol sering jawab iya iya aja, Jujur, aku gak bisa menebak apa yang ada di pikirannya. Karena dia selalu iya iya doang gak pernah membantah pendapat kami. Ada yang terakhir, Arin dia si ekstrovert kayak Nana. Asik sih orangnya, tapi kalau ngomong kadang suka langsung nusuk sampai ke jantung gitu. Bisa bikin nahan napas beberapa detik.
Oke, sekarang kami duduk di atas gazebo bukan di atas rumput di bawah pohon rindang seperti kemarin. Karena siang ini sangat panas, kami memutuskan untuk berteduh dari panas di gazebo ini yang kebetulan masih kosong. Karena biasanya, gazebo akan cepat terisi saat jam istirahat kampus.
“Eh gimana gimana Al? Aku denger kamu satu kelompok sama kak Daffin ya?” Tanya Arin penuh semangat.
“Wih, udah denger?!” Tanya Nana lebih antusias.
Sedangkan Lintang dan Helly hanya tersenyum aneh seperti tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Arin. Dan aku? Menatap datar teman-temanku yang sedang melihatku dengan mata yang berbinar-binar. Menunggu jawaban dariku.
“Hmmm.” Aku berdehem.
“Wiihh gass aja Al, Gass! Kesempatan emas tuh bisa gebet kak Daffin.” Ucap Arin.
“Nah, kan Gass!!! Yah walau aku harus saingan sama sahabatku gak masalah deh kalau dia pilih kamu. Ikhlas aku tuh.” Sahut Nana.
“Wih kak Daffin. Aaaa, jadi iri deh.” Ucap Lintang.
__ADS_1
“Ayo Al, kita mendukungmu.” Ucap Helly.
Apa? Bahkan Helly juga mengatakan hal demikian. Oh tidak, si Daffin itu sudah merubah teman-temanku. Aku menggeleng pelan menolak semua ucapan teman-temanku. Gila kali kalau aku mau mendekati si cowok idola kampus, aku cukup sadar diri. Lagi pula, kami tidak cocok satu sama lain setelah kesan pertamaku kepadanya.
Aku buru-buru mengalihkan topik, membahas salah satu mata kuliah yang katanya tersulit di semester ini. Namun, nyatanya tidak mempan. Teman-temanku masih saja membahas si Daffin itu. Aku hanya diam pasrah mendengar ocehan mereka yang terdengar seperti ejekan bagiku.
Tidak lama kemudian aku tersadar. Dari mana Arin tau kalau aku satu kelompok dengan Daffin? Ah mungkin dari Nana. Tapi, tunggu dulu. Kalau dia tau dari Nana, ekspresinya tidak akan terlihat sangat terkejut seperti tadi. Dan Nana tadi juga sempat terkejut dengan pertanyaan Arin.
“Btw, tau dari mana kalau aku satu kelompok sama Daffin?” Tanyaku tegas.
“Siapa sih yang tau gosip itu. Ah paling orang-orang kudet (kurang update) kayak Lintang dan Helly yang gak tau gosip itu.” Jawab Arin sambil menyantap makanannya.
Benar kan? Arin memang kadang ngomongnya gak di saring dulu. Pasti Helly dan Lintang sakit hati dengan ucapan Arin. Tapi, biasanya juga mereka melupakannya begitu saja.
“Iya emang aku gak tau.” Ucap Lintang.
“Iya, aku juga.” Sahut Helly.
Tapi tunggu, kenapa aku harus panik? Biasa saja lah, toh cuma sekedar teman kelompok. Gak lebih juga. Aduhh... Dasar idola kampus, ada apa-apa dikit langsung nyebar ke mana-mana. Andai mereka tau apa yang aku rasa in pas deket dia. Pasti mereka gak akan senang, karena semua terjadi pasti tidak seperti yang mereka bayangkan.
“Udah udah gak usah bahas dialah.” Ucapku kesal.
“Iya,” Sahut Helly yang kelihatannya juga mulai kesal karena di anggap kudet tidak tau gosip kampus.
“Mari kita makan teman-teman.” Ucap Nana mencarikan suasana.
Kami pun makan makan yang kami bawa bersama-sama. Sesekali kami saling mencicipi makanan satu sama lain. Kami memang sering berbagi makanan juga. Sambil makan, kami mengobrol topik yang tidak jauh dari kampus.
Lintang dengan keluhannya yang gak enak sama kelompoknya, karena dia hanya kebagian buat PPT. Nana dengan ceritanya yang hiperbola, Arin dengan ceritanya yang nyentrik mengkritik cara salah dosen menyampaikan materi yang ‘katanya’ seperti berdongeng. Sedangkan Helly, yah dia tetap menjadi pendengar setia keluhan kami sambil iya iya saja.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba sudah pukul satu kurang sepuluh menit. Itu tandanya, kami harus kembali ke kampus untuk bersiap kelas kuliah berikutnya. Kami kemas beberapa bungkus makanan sisa, membuangnya ke tempat sampah. Kemudian, berjalan beriringan ke kampus.
“Eh Al, kepo nih. Kamu kelompok sama kak Daffin kayak gimana kelompoknya?” Tanya Nana.
__ADS_1
Dengan santai aku menjelaskan bahwa kita kelompok dengan melalui chat aja. Bertemu untuk kelompok tatap muka sulit banget buat ketemuan, karena jadwal kuliah kita bentrok. Lagian, dia bisa tatap muka kalau sore waktu kelas terakhir. Ya, aku gak bisa dong. Kan aku kerja.
Nana mengananguk-angguk paham. Kemudian, dia mendekat sedikit kepadaku, dan membisikkan sesuatu. Bisikannya lirih sekali membuatku spontan berkata ‘apa?’ untuk memintanya berbicara lebih keras.
Sontak, Lintang, Arin dan Helly menoleh ke belakang. Nana memukul bahuku keras hingga aku hampir saja jatuh dari trotoar. Dia memukulku sambil tertawa terbahak-bahak. Apa sih? Aku gak paham dengan Nana. Kemudian, Lintang, Arin dan Helly kembali menatap ke depan.
“Duh! Gak peka banget sih, kalau aku bisikin tandannya itu penting.” Ucapnya kesal.
“Maaf, maaf. Ada apa sih?” Ucapku tak kalah lirih.
Nana kembali mendekat dan berbisik di telingaku. Kali ini suaranya sedikit keras. Kami berjalan pelan-pelan sambil mencoba tetap mendekat satu sama lain.
“Apa?” Ucapku terkejut tapi lirih.
“Iya, beneran. Dia itu, angkatan kita yang jadi admin di grup kelas itu. Nah dia itu masukin kak Daffin ke grup. Otomatis dia harus simpan nomornya kan. Eh ternyata kak Daffin juga simpan nomor dia. Akhirnya, pas kak Daffin bikin story, dia bisa lihat.” Jelas Nana.
“Tapi, dia gak pernah tanya sama aku. Bahkan pas aku tanya, bagian mana yang sulit? Nanti kita cari bareng-bareng jawabannya. Eh si Daffin itu bilang gak ada. Ya aku gak salah dong. Lagian aku gak pernah tuh lihat story whatsappnya. Hah.. bahkan nomorku aja gak dia simpan. Parah tuh orang.”
Nana hanya mengangkat bahunya, kemudian menepuk punggungku pelan. Dia mencoba menenangkan ku dari amarah yang mungkin bisa membuatku badmood seharian.
Bagiamana tidak, ternyata Nana mendengar jika Daffin itu sedang kesulitan mengerjakan tugas mata kuliah membuat RPP. Dia membuat status bahwa sedang kesulitan dan tidak ada yang bisa membantu.
Jelas aku marah mendengar itu. Padahal aku sudah bertanya kepadanya. Tapi dia menjawab tidak ada, jadi tidak ada masalah tentang materi itu. Jujur saja, awalnya aku masih tidak paham cara membuat RPP. Bahkan aku juga bertanya ke mahasiswi lain termasuk Lintang, Helly, Arin dan Nana.
Mereka semua juga sempat merasa kebingungan namun akhirnya kami bisa memahaminya. Alasan aku menanyakan ke Daffin, apakah dia kesulitan adalah itu. Karena mungkin dia butuh teman lain untuk membantunya memahami pembuatan RPP itu. Karena akan cukup sulit bekerja dengan orang yang juga belum paham sepenuhnya materi yang di sampaikan.
Memang awalnya aku takjub dengan Daffin yang bisa dengan mudah memahami materi itu. Perlahan aku mulai mengurangi kesan pertama negatif terhadapnya. Namun, setelah mendengar ucapan Nana. Kesan negatifku jadi bertambah dua kali lipat.
“Udah siapa aja yang tau itu?” Tanyaku kepada Nana.
“Belum banyak sih, tapi mungkin sebentar lagi bakalan banyak yang tau.” Ucap Nana.
Tidaakkk! Aku benci ini, pasti orang-orang yang mendengar cerita itu akan berpikir hal yang buruk tentangku. Dasar Daffin sialan!
__ADS_1