
Yah, setelah pertemuan itu. Aku lebih bisa berkomunikasi baik dengan Daffin. Meski sejujurnya, aku masih penasaran. Apa yang membuatnya ngotot mengerjakan tugasnya sendiri. Padahal, walaupun kami punya bagian masing-masing untuk di kerjakan. Tidak jarang, kami membantu teman lain. Selain mempermudah, kami juga ingin tugas kami cepat selesai.
Akibat dari itu, aku hanya bisa merevisi pekerjaan Daffin sebisaku. Untuk selanjutnya, aku serahkan ke Fani dan Mira. Mereka hanya kagum melihat pekerjaan Daffin. Mereka bilang papernya jadi berubah drastis. Mereka tidak begitu pusing untuk merevisi pekerjaannya.
Dan karena itu juga. Ada gosip baru bermunculan. Fani dan Mira penasaran apa yang terjadi di antara aku dan Daffin di kafe itu. Aku sudah menjelaskan semuanya, tapi mereka tidak percaya.
Fani dan Mira percaya jika aku dan Daffin jadian? Emmm... mereka itu sebenarnya hanya ingin mendengar apa yang mereka dengar.
Dua minggu terakhir menuju UAS. Kelompok kami membaik, bahkan sampai di puji oleh pak Budi. Mungkin karena saking kontroversi nya kelompokku ini.
Hingga pada hari pengumpulan projek UAS. Kalian tau, kami yang pertama mengumpulkannya. Pak Budi hanya memberi kami batas waktu sampai pukul dua belas siang di hari matakuliahnya berjalan. Tapi, kelompok kami mengumpulkan pukul tujuh pagi.
__ADS_1
Dan di meja pak Budi masih bersih. Belum ada kelompok lain yang mengumpulkan. Betapa bangganya aku dan kelompokku. Waktu itu yang mengumpulkan hanya aku dan Fani. Mira dan Daffin tidak ikut.
“Eh Al, beneran gak ada apa-apa sama Daffin si songong tuh?” Tanya Fani.
“Enggak.”
“Jujur aja lah. Daffin juga berubah, kelihatan lebih santai gitu gak kayak pas awal-awal.”
“Ciye malu-malu kucing ciyee.”
Dan begitu lah gosip semakin menyebar. Dan aku semakin terkenal hingga anggatan di atasku. Tapi aku memilih untuk diam tidak menanggapinya. Seperti biasa, cukup sahabatku Lintang, Arin, Hely dan Nana saja percaya bahwa aku tidak ada apa-apa dengan Daffin sudah cukup. Toh mereka juga melihat apa yang terjadi waktu itu.
__ADS_1
Sedangkan Nana, dia jadian sama kak Rey. Cocok sih emang mereka berdua. Semenjak Nana sering curhat tentang perlakuan Daffin di kelas ke Rey. Dia jadi nyaman dan sering ketemu. Akhirnya mereka jadian deh.
Kak Burhan? Tetap sama playboy nya. Tapi, sekarang aku tau sisi lain dari kak Burhan yang memiliki hati super lembut. Dia sangat menghargai wanita. Pantas banyak yang suka. Dan itu juga yang membuat kak Burhan besar kepala dan menjadi playboy.
Daffin? Emm... sekarang, dia terlihat lebih santai. Sepertinya dia juga tidak menanggapi gosip terbaru ini. Dia tetap acuh bahkan terlihat seperti tidak terjadi apa-apa. Dia tetap menjadi idola kampus. Masih banyak yang menyukainya meski sifatnya yang kasar itu mencuat. Banyak yang bilang badboy lebih menarik.
Oh iya, julukanku bukan menjadi mahasiswa kupu-kupu lagi. Melainkan menjadi pawang harimau kutub. Yah, siapa lagi kalau bukan si Daffin. Imagenya yang galak, kasar dan dingin seperti harimau kutub.
Andai saja, aku bisa mengulang waktu. Aku memilih diam dan tidak berbuat apa-apa dengan apapun yang terjadi. Tau gak? Setelah kejadian kemarin Perasaanku gak karuan. Entah kenapa ini?
Yang aku yakini sekarang, mungkin aku sedang jatuh cinta sama dia. Tapi aku sadar aku tak sepadan dengan dia. Kita juga memiliki sifat yang bertolak belakang. Biarlah ini menjadi gosip.
__ADS_1
-Terima kasih sudah di sempatkan untuk mampir membaca cerita saya-