Kupu-Kupu Kampus

Kupu-Kupu Kampus
Alice


__ADS_3

Beruntungnya aku hari ini, ternyata kelasku hari ini kosong karena dosen sedang ada rapat dadakan dengan beberapa petinggi kampus yang mengakibatkan kelasku di liburkan mendadak. Aku sangat bersyukur, tapi juga sedih karena aku harus menunggu satu jam empat puluh menit lagi untuk menunggu kelas berikutnya.


Hah... aku mau ngapain ya? Ke perpustakaan kah? Tapi, malas juga karena sudah siang hari. Otakku sudah lelah untuk membaca. Atau aku tetap diam di kelas saja ya seperti yang lain.


Tring!


Tiba-tiba ponselku berbunyi, secepat kilat aku membuka kunci layar ponselku karena memang saat ini aku sedang menggenggam ponselku. Mataku langsung berbinar melihat pesan dari layar ponselku. Ternyata di kelas Nana juga sedang kosong karena dosen yang mengajar juga ikut rapat dadakan


Aku sangat bersyukur hari ini. Langsung saja aku menelepon Nana memintanya untuk menemaniku sebentar saja sambil menunggu kelas selanjutnya. Dan Nana menyetujuinya. Aku pun langsung mengemas tasku dan pergi meninggalkan kelas.


***


Sampai lah aku dan Nana di sebuah kafe terbuka. Tempat kafenya sih lesehan, duduk di gazebo yang di sediakan. Selain itu, kami juga bisa menikmati sejuknya udara yang berasal dari sawah di belakang kafe ini.


Baru pertama kali aku ke tempat seperti ini. Dan baru pertama kali juga aku mengunjungi tempat hits di kampus. Kalian tau lah, aku kan mahasiswa yang setelah kuliah langsung pulang tanpa menengok ke kanan maupun kiri.


“Kayak gini ya tempat hits yang di bilang anak-anak.” Ucapku kagum.


“Iyap. Biasanya, anak-anak ke sini sambil kerjain tugas gitu. Enak kan suasananya adem, sejuk, semriwing deh pokoknya. Betah kerjain tugas sampai tamat.” Jelas Nana.


Aku tertawa melihat cara Nana yang bercerita dengan hebohnya. Biasalah, Nana selalu membuat suasana menjadi cair dan menyenangkan.


Tidak lama kemudian, pesanan kami datang. Wah, cepat sekali. Aku kira akan lama datangnya. Makanan tersaji di depan mata yang membuatku kelaparan. Aku memesan rice bowl isi cumi saus BBQ dengan taburan biji wijen di atasnya, sedangkan Nana memesan rice bowl berisi ayam suwir kecap dengan tambahan krupuk di atasnya. Minumnya, minuman legenda es jeruk peras.


“Ah mantap!” Seruku.


“Eh, kenapa gak ketemuan sama kak Daffin. Sekalian menyelesaikan permasalahan kalian.” Ucap Nana santai sambil melahap makanannya.


Aku terdiam sejenak memikirkan ucapan Nana. Ada benarnya juga, mumpung ada waktu untuk bertemu. Tapi... apa dia mau? Dia saja terlihat malas menatapku. Sungguh, kesan pertama aku bertemu si Daffin itu sangat menyebalkan. Meski begitu, aku mengirim pesan ke Daffin. Pesan singkat, sesingkat mungkin. Begitu terkirim aku menatap Nana yang terlihat kesal.


“Telepon aja sih.” Ucap Nana.


“Telepon?”


“Iya biar cepet beres Al.”


“Gak mau! Dia pasti gak mau datang. Dia tuh gak suka sama aku. Dia kelihatan ogah-ogahan tuh satu kelompok sama aku. Orang dia gak bisa aja gak mau tanya ke aku, padahal kan aku udah menawarkan bantuan.” Jelasku sewot.


Nana hanya menggelengkan kepalanya. Dan aku langsung mengalihkan pandang. Aku tidak mau kehilangan selera makanku. Aku membelakangi Nana dan makan sambil menikmati hijaunya persawahan di belakang kafe ini.


Untung saja sawahnya tidak sedang panen. Kalau sedang panen, entah apa yang akan bisa mengalihkanku dari pikiran tadi. Setelah pikiranku tenang, benar juga ucapan Nana. Sebaiknya aku menelepon Daffin. Ini adalah masalah yang harus segera di selesaikan demi kelancaran tugas kelompok. Akhirnya aku berbalik, mengambil ponselku kembali dan menelepon dia.

__ADS_1


“Ngapain?” Tanya Nana dengan ekspresi aneh tapi menyebalkan.


“Telepon Daffin.”


“Hilihh!” Nana melanjutkan makannya.


Duh sial. Teleponku di tolak oleh Daffin. Baru masuk ke dering ke dua dia sudah menolaknya. Memang sebenci itu dia ke aku. Ah sudah lah. Kalau orang udah gak suka ya mau gimana pun tetep gak suka. Aku merasa bodoh menuruti saran Nana. Aku meletakkan kembali ponselku ke dalam tas. Rasanya malu telah melakukan hal bodoh.


“Di tolak.” Ucapku Datar.


“Iya nih, kayaknya kak Daffin sensi deh sama kamu.” Jawab Nana.


Aku memproses apa yang di ucapkan Nana. Tapi, Nana malah terlihat lahap makan tanpa memperdulikan aku. Ah sudah lah. Mungkin aku yang sedang darah tinggi saja. Mendengar ucapan Nana seperti itu saja hampir membuatku marah. Tapi sepertinya benar, Daffin emang tidak suka aku.


Drrttt Drrrtt Drrrtt


Ada ponsel bergetar, entah punya siapa. Yang pasti bukan punyaku. Tiba-tiba Nana merogoh tasku dan mengambil ponselku. Dan aku masih tidak peduli.


“Woh! Kak Daffin telepon balik nih Al? Nih nih nih.” Ucap Nana heboh sambil menyodorkan ponsel di depan mataku.


Aku melirik sekilas layar ponsel itu dan benar, di sana tertera nama ‘kakel RPP’ di sana. Tunggu dulu, nama kontak itu sepertinya tidak asing. Aku langsung menatap intens layar ponsel di depan mataku itu. Lah ini kan ponselku?


“Kok di telepon?” Tanya ku kebingungan.


“Hah?”


Aku masih bingung dengan apa yang tejadi. Namun, secepat kilat Nana mengangkat telepon itu dan menaruhnya di telingaku.


“Jawab!” Bisiknya.


Aku melotot. Perasaanku tidak karuan. Jujur aku belum siap dengan keadaan ini. Sedangkan dari sana terdengar suara berisik, seperti ada orang mengumpat, marah dan sepertinya di sana ramai sekali.


“Hallo.” Akhirnya suara Daffin terdengar.


“Oh Hallo.” Jawabku singkat.


“Suruh ke sini.” Bisik Nana yang masih setia menempelkan ponsel di telingaku.


Dan anehnya aku seperti terhipnotis oleh Nana. Aku mengangguk dan mengatakan agar Daffin ke sini.


“Bilang, mau diskusi RPP, mumpung  bisa ketemu.” Bisik Nana lagi.

__ADS_1


Lagi-lagi aku menuruti ucapan Nana dengan lancar. Hey! Kenapa aku merasa seperti telah di kendalikan oleh Nana. Oh tidak, Nana ternyata bisa menghipnotis ku.


Dan aku pun tersadar setelah mendengar Daffin menyetujuinya. Apa?! Bahkan Daffin dengan mudah menyetujuinya. Ini benar-benar tidak masuk akal. Aku buru-buru menutup teleponnya.


Aku membeku sejenak memikirkan apa yang telah terjadi. Sedangkan Nana, wajahnya sangat menyebalkan. Dia tersenyum puas sambil menyantap makanannya dengan lahap.


“Senyum terus, senyum! Seneng pasti mau ketemu kakak Daffin.” Ucapku dengan nyinyir.


“Iya dong! Selain itu, ah aku bahagia bisa menyatukan kalian. Pengen tau, kalian kalau berinteraksi kayak gimana.”


“Dia itu menyebalkan! Kan aku udah bilang! Sok ganteng! Maunya sama yang good looking!” Kesalku.


Nana menggelengkan kepalanya pelan. Terlihat di wajahnya dia sedang menahan emosi karena aku memaki idola kampus kesayangannya itu. Oh bahkan di hari libur kerjaku saja aku gak bisa tenang. Ini semua gara-gara ulah Nana.


Sekarang nafsu makan ku hilang begitu saja. Rice bowl yang tadi terasa nikmat, kini rasanya biasa saja. Aku makan tidak selahap tadi. Pokoknya, ini semua gara-gara Nana.


Aku harus melakukan ritual setelah menghabiskan makanan ini. Iya, ritual tarik napas dalam, di tahan sebentar kemudian di hembuskan perlahan. Ritual yang selalu aku lakukan ketika amarahku mulai memuncak.


Aku harus menenangkan diri. Aku tidak boleh marah-marah karena nanti aku bisa saja hilang kendali. Ketika aku marah, biasanya aku mengeluarkan kata-kata kasar yang menyakiti si pendengar. Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa bisa aku atasi.


Begitu selesai makan, aku menghadap pemandangan sawah yang menyegarkan mataku. Aku melakukan ritualku dengan tenang. Pemandangan ini mempercepat penurunan amarahku. Lagi-lagi aku sangat bersyukur dan merasa beruntung hari ini.


Meski merasa beruntung, aku juga merasa sial bersamaan karena akan bertemu dengan Daffin. Oh tidak, apa yang akan terjadi nanti? Bagaimana aku menghdapi ekspresi Daffin yang menyebalkan itu? Terlebih si Nana. Jujur aku sangat kecewa dengan perbuatan Nana tadi.


Beberapa saat kemudian, Nana menarik lenganku begitu kencang hingga aku hampir terjungkal. Dan juga aku reflek mencengram tangan Nana. Nana pun meringis kesakitan.


“Eh mbak,” terdengar suara laki-laki.


“Aduh Nana. Bikin kaget.” Ucapku sambil mengusap tangan Nana yang aku cengkram tadi.


“Sorry ya Na.” Lanjutku.


Mataku masih fokus dengan tangan Nana. Aku merasa sangat bersalah karena gerak reflek tadi. Jujur saja cengkramanku begitu kuat. Selain ingin berjaga-jaga karena gerakan mendadak, aku juga menyalurkan emosiku yang belum tuntas ke cengkraman itu.


Dan tiba-tiba Nana menepis tangannya dan memutar paksa kepalaku menghadap arah lain. Aku... sedikit terkejut. Ternyata di sana ada Daffin dan dua orang lain, mungkin temannya.


“Gak apa-apa mbak? Tadi kayaknya kesakitan?” Tanya Daffin menghadap Nana.


Oh ternyata tadi suara Daffin. Aku juga ikut menatap Nana yang sekarang tersipu malu. Tuh kan, benar. Si Daffin itu cuma mau sama yang good looking. Hah... dasar cowok populer ya gitu lah. Mlilih yang setara. Eh!! Hey, kenapa sih pikiranku selalu buruk tentangnya?


“Gak apa-apa kok kak Daffin.” Ucap Nana lirih karena malu.

__ADS_1


“Oh....” Jawab Daffin singkat padat dan jelas.


Kemudian, matanya menatap ke arahku dengan tatapan yang sama seperti biasanya. Tatapan malas, namun kali ini dia terlihat memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


__ADS_2