Kupu-Kupu Kampus

Kupu-Kupu Kampus
Alice


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat. Baru saja dua minggu masuk kuliah. Aku sudah menjadi artis di kampus ini. Semua bergosip tentangku dan Daffin. Oh, apes. Gosip juga menyebar begitu cepat dan aku tidak peduli. Aku memiliki teman yang percaya denganku saja sudah cukup. Terlebih Nana, dia tau secara langsung apa yang terjadi minggu lalu.


Sekarang ada dua kubu. Satu berpihak kepadaku, satunya lagi masih tetap berpihak ke Daffin. Masa bodoh lah. Aku tidak peduli. Tapi rasanya sekarang aku sudah tidak punya privasi. Seolah-olah semua orang tau masalahku dengan Daffin.


Minggu ketiga ini adalah minggu pertama pengumpulan tugas. Setelah bertemu Daffin minggu lalu dan aku memintanya untuk revisi kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Rasanya tugas kami sudah selesai. Tapi ternyata aku salah. Aku lupa akan satu hal. Siapa yang print tugas itu? Karena baru ingat, aku langsung print tugas kami pagi ini. Beruntung tempat print dekat kampus sudah buka sejak pukul 6 pagi.


“Hah... untung cuma print doang kan. Gak pakai foto copy kayak presentasi.” Ucapku lega.


Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 06.50. Aku harus segera ke kelas, mencari tempat duduk paling belakang. Pagi ini aku merasa capek, karena beberapa hari aku tidur larut malam. Setelah pulang kerja pukul 11.00 malam aku langsung ke mess dan mengerjakan tugas untuk presentasi minggu ini. Badanku terasa pegal-pegal. Sepertinya aku butuh koyo. Apa istilahnya jaman sekarang? Ah... remaja jompo.


Sampai di kelas terkejutlah aku. Daffin sudah datang duluan. Tapi aku tetap bersyukur, karena dia memilih tempat duduk paling belakang. Aku langsung mengumpulkan tugas kami di meja dosen dan berjalan malas menuju bangku dekat Daffin. Yah, selama kuliah ini kami di haruskan duduk dekat dengan teman satu kelompok agar mudah untuk diskusi. Aku harus duduk bersebelahan dengan Daffin selama 3 bulan ke depan. Begitu duduk, beberapa pasang mata langsung menatap ke arahku. Ada yang melirik, ada yang terang-terangan ada yang sok cuek padahal aku tau ekor matanya ke arahku. Begini kah rasanya jadi artis? Tidak lama terdengar suara langkah kaki mendekat. Langkah kaki khas pak Budi yang terdengar nyaring. Sepatu pak Budi memang istimewa.


“Selamat pagi anak-anak.”


“Selama pagi pak.”


Kuliah pagi ini di mulai. Setelah berdoa dan absen. Pak Budi langsung memeriksa pekerjaan kami sambil memanggil satu-satu kelompok yang terdiri dua orang untuk maju. Setiap kelompok  di beri waktu 5 menit untuk mempresentasikan RPPnya. Kemudian, kelak RPP itu akan di bawa terlebih dahulu untuk di nilai lebih lanjut. Dan selama menunggu giliran. Pak Budi meminta yang lain untuk membaca materi selanjutnya terlebih dahulu.


Tapi kami yah seperti itu. Berkata iya, tapi tidak semua mau membaca materi. Ada yang sibuk main ponsel, ngobrol dan bercanda. Seperti halnya anak SMA. Itu tidak berlaku untukku, mau ngobrol sama siapa? Daffin? Yang benar saja. Mau main ponsel. Gak bisa, karena aku harus hemat baterainya. Hari ini kuliahku penuh dari pagi sampai sore. Akhirnya aku membaca materi selanjutnya.


“Kelompok Alice.”

__ADS_1


Loh sudah kelompokku tiba? Kok cepat sekali? Atau aku yang terlalu asik membaca? Entahlah. Aku pun maju, di susul Daffin. Kami duduk di bangku yang sudah di persiapkan di depan meja dosen. Saat duduk aku langsung merinding melihat tatapan mata pak Budi. Sepertinya pak Budi terlihat marah.


“Ini kok ada dua print out?”


Hah? Dua print out. Mataku langsung tertuju ke meja dosen. Benar saja, ada dua paper di sana. Oh tidak, ternyata kami sama-sama print out pekerjaan kami. Rugi aku membuang kertas untuk print out. Tapi ini juga salahku karena aku lupa. Aku hanya bisa diam dan menunduk.


“Maaf pak.” Ucap Daffin.


“Maaf pak, misscommuncation.” Ucapku sambil tertunduk.


“Ya sudah. Presentasikan.” Pak Budi terlihat kesal.


Daffin langsung mengambil alih. Dia langsung mempresentasikan tugas kami. Sejujurnya aku juga lupa hal itu. Aku lupa jika kami harus mempresentasikan tugas kami. Beruntungnya aku Daffin sudah mempersiapkan semuanya. Aku harus bersyukur dan berterima kasih kepada dia. Eh? Tidak, tidak berterima kasih. Nanti dia sombong.


“Daffin, Alice. Kalian harus kompak ya.”


“Baik.” Jawabku serentak dengan Daffin.


Tapi rasanya itu hanya akan berlaku di mulut saja. Aku masih kesal dengan Daffin yang terlihat malas satu kelompok denganku.


Kami pun kembali ke tempat duduk masing-masing.

__ADS_1


“Eh Alice. Berapa tuh biaya print mu? Aku ganti.” Ucap Daffin.


“Gak usah. Gak apa-apa.”


Aku juga salah, batinku.


“Berapa? Aku ganti.”


“Gak usah Daffin.”


Sret!


Beberapa orang menoleh ke arah kami. Ada apa? Mata mereka terlihat tajam ke arahku. Dih? Fansnya Daffin ternyata garang semua. Aku kan cuma ngobrol doang. Gak lebih. Kenapa sih?


“Oke ya udah.”


Kelas pagi ini berjalan lambat. Setelah satu persatu kelompok maju untuk presentasi. Pak Budi menjelaskan materi selanjutnya yang membuatku semakin pusing. Penjelasan itu tidak semua masuk ke otakku. Mungkin aku kelelahan? Entahlah. Ini membuat waktu terasa semakin lama. Hingga akhirnya tiba.


“Wah waktunya sudah habis. Minggu depan kumpulkan ya. Lanjutkan tugas kalian. Ini saya bawa minggu depan saya kembalikan. Jangan lupa revisi tadi juga di masukkan.”


“Baik pak.”

__ADS_1


“Baik, saya akhiri kuliah hari ini. Selamat pagi.”


“Pagi pak.”


__ADS_2