
Aku sangat beruntung. Setelah berlama-lama di perpustakaan bersama Nana. Aku mendapat buku referensi membuat RPP dari temanku yang baru saja mengembalikan bukunya. Syukurlah, aku tidak harus foto copy buku. Yah meski tujuanku sebenarnya ke sini untuk mencari bahan untuk presentasi makalah lain.
Aku bergegas membaca buku itu. Mencoba memperhatikan setiap halamannya. Aku sedang mengamati buku LKS siswa kelas 11. Aku mengamati bukunya, melihat KD yang tertera di halaman depan kemudian membaca materi pada KD itu. Itu bisa menjadi referensi untuk membuat RPP.
Mumpung aku masih punya banyak waktu sekarang. Aku langsung mengambil tasku dan mencatat beberapa hal penting. Saat mencatat, aku teringat seseorang. Iya, Daffin. Bukan karena apa-apa. Aku ingat karena dia teman satu kelompokku. Aku sudah membagi tugas kepadanya. Aku khawatir dia tidak bisa mengerjakan. Bisa berantakan nanti RPP kelompok kami.
Jujur, selama pelajaran pak Budi aku belum sepenuhnya paham tentang cara pembuatan RPP. Aku bertanya ke Nana, Lintang, Helly dan Arin. Mereka juga tidak sepenuhnya paham. Tapi karena sepenggal-sepenggal dari yang mereka paham itu membuat kami menjadi lebih paham seutuhnya setelah berdiskusi.
“Wih kebetulan banget. Pas nih, aku juga ikut catat ah. Biar gak pinjam buku lks nya” Ucap Nana.
Aku tersenyum. Kemudian, aku melanjutkan mencatat dan sekaligus membuat coret-coretan untuk pembuatan RPP.
Tidak terasa sepuluh menit berlalu. Aku harus segera bersiap untuk ke kampus. Karena lima menit lagi kelasku lain di mulai. Aku meninggalkan Nana yang masih sibuk merancang RPPnya di perpustakaan.
“Na, nanti aku pinjam catatanmu boleh?”
“Boleh lah neng.”
“Ya udah, duluan ya. Soalnya ada kelas.”
“Okey.”
***
Sekarang aku sudah berada di tempat kerja. Kebetulan pekerjaanku sedang sepi. Jadi aku bisa mencuri-curi waktu untuk main. Biasanya aku dan rekan kerja ku mengobrol hal acak. Topik kami beragam, mulai dari gosip, pendidikan, bahkan kadang hingga ke bisnis. Meski kita belum paham betul ilmu tentang bisnis.
__ADS_1
“Oh iya.”
Tiba-tiba aku teringat Daffin ketika teman-temanku mengucapkan kata ‘ilmu’. Buru-buru aku mengambil ponselku dan mengirim pesan ke Daffin. Sekali lagi aku tekankan ini karena aku tidak mau karena RPPku berantakan. Katanya pak Budi terkenal agak sulit nilai. Makanya aku harus berusaha agar RPPku baik.
^^^[Daffin, sudah paham tentang RPP nya?]^^^
[Siapa?]
Aku mengernyit. Aku ingat betul beberapa waktu lalu aku mengirim pesan ke nomornya untuk mengirim materi pak Budi. Lalu kenapa dia masih tanya?
^^^[Alice]^^^
[Oh... agak bingung sih.]
^^^[Jadwal kuliahku.Pdf]^^^
^^^[Nih jadwalku. Kamu kosong hari apa?]^^^
[Aku kosongnya sore.]
[Aku ambil kelas siang sampai sore.]
^^^[Aduh kalau sore aku gak bisa.]^^^
^^^[Aku kerja sore sampai malam.]^^^
__ADS_1
^^^[Gimana dong?]^^^
[Emang gak ada liburnya?]
^^^[Ada. Hari Rabu.]^^^
^^^[Tapi hari Rabu aku kuliah dari pagi sampai sore]^^^
[Aku kalau Rabu kuliah pagi doang.]
^^^[Gitu ya, kalau jam 12 bisa?]^^^
^^^[Waktu istirahat]^^^
[Gak bisa.]
^^^[Ya udah kalau gitu.]^^^
^^^[Kita kelompok via chat aja gimana?]^^^
^^^[Kalau ada yang gak bisa kita bahas di chat.]^^^
[OK]
Percakapan itu berhenti begitu saja. Ini kah yang di namakan cowok dingin? Kenapa orang-orang mengejar laki-laki seperti dia. Apa sih untungnya? Bikin sakit hati saja menurutku. Ah ya sudah lah. Pokoknya kami sepakat untuk mengerjakan melalui chat. Semoga semua berjalan lancar.
__ADS_1