Kupu-Kupu Kampus

Kupu-Kupu Kampus
Daffin


__ADS_3

Akhirnya kuliah hari ini selesai. Karena hari ini cuma ada kelas pagi. Aku langsung ke kos ah. Sarapan, karena tadi aku lupa sarapan. Entah akhir-akhir ini aku sering malas bahkan lupa sarapan.


Ting! Ada pesan dari Rey.


[Posisi bro?]


^^^[OTW kosan.]^^^


[Oke.]


Aku berjalan menuju warung dekat kampus untuk beli makanan untuk sarapan. Di jalanan kampus menuju kosku banyak sekali ruko berjejer. Jalanan ini rasanya surga bagi mahasiswa/mahasiswi kampus. Ruko di sini di isi oleh bermacam-macam dagangan. Mulai ruko makanan berat, makanan ringan seperti toast dan boba, penjual alat tulis, tukang foto copy dan print, dan masih banyak lainnya. Semua sudah tersedia di ruko dekat kampus.


Selesai membeli sarapan aku langsung ke kos. Masuk ke kos yang lumayan besar ini. Kosku memang agak mahal. Tetapi fasilitas di sini lengkap. Bahkan ada dua tempat duduk kayu di setiap depan latar kamar. Sudah seperti hotel.


Di depan kamar kos ku sudah duduk manis dua makhluk pengganggu hidupku selama kuliah. Tapi aku sangat menyukai dua makhluk itu. Suka sebagai teman ya.


“Woy!” Sapaku.


“Parah, katanya otw. Eh baru dateng.” Kesal Burhan.

__ADS_1


“Kenapa sih? Kalian kan biasanya molor waktunya tuh.”


“Wih beli sarapan gak ajak-ajak. Gak setia kawan.” Kesal Rey.


Aku hanya tersenyum dan membuka pintu kamar. Tanpa di persilahkan masuk, Rey dan Burhan langsung masuk begitu saja. Dasar mereka. Aku langsung ke dapur umum untuk mengambil minum dan piring. Di kos ini alat makan terbuat dari plastik sudah di sediakan pihak kos. Tapi tidak jarang beberapa orang membawa alat makannya sendiri.


Saat kembali aku terkejut. Rey yang tadi protes ternyata juga sudah membeli sarapannya sendiri. Nasi kotak, berisi Kentucky geprek sama seperti milik Burhan. Nah? Kalau sudah begini siapa yang tidak setia kawan? Untung aku sudah membeli sarapan.


“Awas! Awas!” Ucapku.


“Badan kecil aja, bilang awas awas!” Ucap Rey.


Dua soibku memang suka membentuk tubuh mereka. Aku? Tidak, aku suka aku apa adanya. Walau badanku kecil jika di banding mereka. Badanku cukup lah jika di banding orang lain. Aku tinggi, tidak besar dan tidak kurus, sedang. Tapi orang sekitarku mengatakan badanku kecil.


“Makan apa bro?”


“Nasi oseng-oseng kangkung sama ayam bakar.”


“Wih mantap.”

__ADS_1


Kami pun makan dengan tenang. Lalu seperti biasa Rey selesai duluan. Dia langsung pergi ke dapur umum untuk cuci tangan. Saat kembali dia langsung bertanya pertanyaan yang membuatku tersedak.


“Gimana Alice?”


“Uhuk uhuk uhuk!”


“Bwahaha.” Burhan tertawa puas. Kemudian pergi karena makannya sudah selesai.


“Duh, duh duh. Minum dulu nak.” Rey memberiku minum.


Aku segera minum air yang di tawarkan Rey. Memang ya pertemanan yang dekat kayak  gini. Gak bisa kalau lihat soibnya tenang. Aku hanya berdehem dan melanjutkan makan. Rey hanya menganguk-anguk saja.


Setelah Burhan kembali. Dia langsung mengeluarkan laptopnya. Seperti biasa dia mau numpang mengerjakan tugas di sini. Sedangkan Rey, dia masih saja membahas Alice. Apa dia suka sama Alice?


“Eh bro! Gosip udah menyebar kemana-mana nih. Katanya kamu itu, anaknya gengsian. Gak mau tanya ke kelompok sendiri.” Jelasnya.


Aku hanya berdehem lagi dan lanjut makan. Aku lirik sekilas Burhan. Dia tetap fokus ke laptopnya. Sepertinya karena beberapa hari lalu itu. Burhan sudah tidak peduli tentang Alice dan aku.


Karena Rey merasa aku abaikan. Dia langsung menuju kasur dan tidur di sana. Padahal sudah di peringati berulang kali jangan tidur setelah makan. Nanti asam lambungnya bisa bisa naik ke kerongkongan. Tapi dia tetap ngeyel. Memang sedikit bebal soibku yang satu ini.

__ADS_1


Ngomong-ngomong tentang Alice. Sejujurnya aku kasihan karena tadi dia juga print out tugas kami. Ini salah ku karena aku gak ngomong ke dia kalau udah aku print. Mau ganti rugi dia gak mau. Kalau di pikir-pikir yang gengsian itu aku apa dia sih? Entahlah. Eh tunggu kenapa aku memikirkan dia? Hus hus pergi jauh. Kenapa ini terjadi lagi?


__ADS_2