
Wah ternyata seperti itu aku di mata Alice. Apa dia tidak tahu jika kesan pertamanya juga sangat menyebalkan dengan sorot matanya yang tajam. Apa? Alasan jaga jarak karena baru kenal. Halah, gak! Buktinya dia bisa tuh dekat sama Burhan. Bahkan sempat titip pesan pula. Tapi, jika di lihat dari cara berpakaiannya yang polos tidak aneh-aneh. Bisa jadi sih.
Kalian tau? Badanku terasa aneh? Tiba-tiba aku bisa sedikit mengontrol amarahku. Bahkan aku sempat berkata lembut kepada Alice yang tadi berkali-kali menarik jaketku. Rasanya, Aku tidak ingin marah saja. Meski otakku ingin aku marah. Aneh kan?
Oke, setelah si Alice mengeluarkan semuanya. Aku juga akan mengeluarkan semua keluh kesahku. Namun, tidak semuanya juga. Jujur aku tidak terima ketika dia bilang aku hanya suka sama yang good looking? Wajarlah, cowok cari yang cantik. Kalau pun gak cantik, sedap di pandanglah. Gak seperti cewek di depanku ini.
“Permasalahannya, matamu yang tajam itu membuatku malas. Lalu....”
Ingin sekali aku mengatakan masalah good looking. Tapi, tidaklah aku menahannya. Aku tidak mau menambah masalah dengan menyakitinya. Terlebih sebentar lagi juga UAS. Dia juga mengancamku tentan projek terakhir untuk UAS. Menyebalkan!
“Lalu?” Tanyanya penasaran.
“Aku memang kasihan sama kamu, karena kamu itu kerja sambil kuliah. Aku gak mau ngerepotin kamu. Aku tau capeknya kerja, di tambah lagi capeknya kuliah. Tau banget rasanya. Tapi kalau gak percaya ya udah. Gitu aja.”
Alice yang tadi kaku, melotot dan cemberut perlahan lemas. Bahkan sempat salah tingkah juga. Mungkin dia menyadari bahwa aku tulus mengatakan itu. Dan anehnya hanya itu saja yang bisa aku katakan. Yang lain tentang kebencianku ke dia seakan-akan hanya berhenti di otakku. Hey? Aku kenapa?
“Dan, aku gak mau tanya ke temen-temen angkatanmu karena satu hal. Hah... aku malu. Dan aku juga udah males juga sih sama isi kelas itu. Semua mata tertuju kepadaku. Sama seperti mu aku juga tidak nyaman di lihat terus-terusan, menjadi pusat perhatian. Aku tidak nyaman.” Lanjutku.
Kan tentang kebencianku yang melihat Alice yang terlihat sombong itu tidak bisa keluar dari mulutku. Aku kenapa? Aku gila ya?
Aku menghela napas panjang dan ku hembuskan.
__ADS_1
“Lagi pula, aku bisa kok mengerjakan sendiri. Tapi, kalau salah ya maaf.”
Dan akhirnya aku luluh juga. Padahal tadi aku gak ingin lebih jujur kepadanya. Tapi, mau gimana lagi. Apa yang ada di otakku tidak mau keluar melalui mulutku. Lagi pula Nanti kalau aku terlalu egois bisa-bisa nilaiku di kelas om Budi jelek dong. Karena om Budi juga menilai mahasiswanya dari sikapnya.
Kemudian, aku mantap Alice sekilas. Lagi-lagi tatapannya menyebalkan. Dia seperti meragukan ucapanku. Padahal aku sudah jujur. Ah lebih tepatnya keceplosan jujur untuk beberapa kata sih.
Untung Alice tidak tanya perihal aku ngomong kasar di kelas. Waktu itu aku sedang emosi karena capek itu yah itu yang kemarin ya, aku udah bilang kan. Dan capek dengan gosip yang seakan menyudutkanku. Waktu itu aku tidak bisa mengontrol emosiku hingga meledak begitu saja.
“Oh...” Jawabnya singkat.
Hah... syukur, aku harus banyak bersyukur. Tapi sepertinya dia masih dendam terhadapku. Tatapannya sih tidak setajam biasanya. Tapi aku yakin, dia masih merasa aku berbohong dengan apa yang aku ucapkan kalau aku kasihan kepadanya.
Masa bodo, aku tidak bisa mengontrol pikiran orang. Apa yang mereka pikirkan ya sudah lah. Biar mereka pikirkan, yang penting aku sudah berkata jujur dan tulus.
Aku juga tahu, jika Rey dan Burhan ada di sini untuk mengawasiku. Saat pertama datang aku melihat motor kedua anak itu terparkir di sana. Sampai segitunya mereka mengawasiku. Hah... aku sudah perlahan berubah, aku sekarang mulai belajar mengendalikan emosi kok. Gak kayak dulu yang marah langsung tebas. Dan tidak di pungkiri, Alice sedikit merubahku. Tentang caraku menatap dunia dan ketegarannya itu. Weh?! Mulai ngelantur lagi aku.
“Ya udah, aku balik ke kos dulu.” Ucapku.
Sret!
Alice kembali menarik jaketku. Apa tidak bisa dia memanggil namaku? Dengan penuh kesabaran dan perasaan yang sedikit lega karena aku sudah meluapkan semua. Aku menoleh, dengan tatapan biasa saja. Tidak ada perasaan malas menatap Alice lagi.
__ADS_1
“Tunggu kak. Emmm duduk dulu kenapa sih.” Ucapnya.
Kak? Dia memanggilku kak? Tumben dan aneh?! Aku pun menurut lagi. Aku duduk di pinggiran gazebo tanpa melepas sandalku.
“Gini deh, kalau kakak kesulitan. Terus kakak malu tanya ke temen-temen. Tanya ke aku aja deh. Gak apa-apa. Kalau mau tatap muka ya hari Rabu kayak gini. Soalnya hari itu aku libur kerja. Jadi bisa stay di kampus sampai sore.” Jelasnya.
Oh dia menjadi terlihat manis. Apa karena bersalah atas ucapanku tadi? Sepertinya iya. Tapi, aku tidak terpengaruh. Aku tetap pada pendirianku. Mengerjakan tugas ini sendiri. Meski tawarannya menggiurkan. Kan aku bisa ketemu setiap hari Rabu lah minimal. WOY! Dafiin sehat? Duh?!
“Gak, aku bisa kok cari contoh di internet dan kerjain sendiri. Cuman tolong kamu koreksi aja lah sebelum aku setor ke Fani. Gimana?” Tanyaku dengan perasaan berdebar. Hey! Aaaa aku kenapa?
“Oke deal!” Ucapnya sambil tersenyum. Oh manis sekali.
Kami pun sepakat seperti itu. Kenapa dia tidak mengajakku berbicara seperti ini sejak dulu sih? Kan enak kalau dari dulu dia ngomong gini. Dan kenapa dia baru ngomong sekarang kalau dia ada hari libur kerja.
Andai dia ngomong dari awal. Aku gak akan kesusahan seperti sekarang, dan gak akan ada gosip-gosip tidak jelas seperti sekarang. Yah, semua sudah berlalu. Aku hanya bisa pasrah dengan yang akan terjadi di detik terakhir menuju UAS.
Dan setidaknya, aku harus bersyukur. Mungkin jika pak Budi tidak menyuruh Alice mencariku untuk tanda tangan. Aku tidak akan mengeluarkan unek-unekku. Tapi aku masih tidak percaya dengan Alice.
Ekspresinya berubah-ubah sangat cepat. Apalagi ekspresinya sekarang yang, terlihat manis. Jangan-jangan dia suka sama aku? Nah kan aku ngawur lagi. Wah aku harus jaga jarak nih.
“Ya udah, aku balik kek kos.” Ucapku.
__ADS_1
Aku langsung bergegas pergi dari kafe ini tanpa ada salam perpisahan. Perasaanku cukup lega dan tenang sekarang. Tadi rasanya ahh tidak bisa di jelaskan. Meski ada yang mengganjal yaitu, dari mana sih gosip itu menyebar? Gosip yang membuatku terpojok sekarang.
Mungkin ini juga ulah Alice. Maklum cewek kadang curhat ke temannya. Eh bilangnya bisa jaga rahasia. Tapi ternyata bisa nyebar kemana-mana. Dasar cewek, ember deh mulutnya.