Kupu-Kupu Kampus

Kupu-Kupu Kampus
Nana


__ADS_3

Seperti biasa hari ini kami waktunya berkumpul bersama, Lintang, Arin, Helly dan Alice. Kali ini Lintang dan Helly pergi duluan ke taman favorit kami. Sedangkan Arin, masih sibuk dengan kekasihnya, biarlah. Aku ingin pergi ke taman bersama Alice. Aku menunggu Alice di gedung center di kampus kami. Pasti nanti Alice lewat sini.


Benar, dari jauh sudah terlihat dia berjalan menuju gedung center. Tunggu dulu, wajah Alice terlihat pucat. Dia berjalan sedikit lemah dan sempoyongan. Buru-buru aku menghampiri dia berlari kecil ke arahnya.


“Al? Kenapa?”


“Aku agak pusing Na.”


Reflek aku menyentuh dahinya. Wah dahinya panas, Alice demam. Aku menuntun Alice berjalan ke arah gedung center. Aku ingin dia berteduh dulu agar tidak pingsan karena terkena panas. Saat aku menuntun Alice tiba-tiba kak Burhan berjalan berdampingan dengan kami.


“Alice kenapa?”


“Pusing katanya kak.”


“Sini aku bawain tasnya.”


Kak Burhan mengambil tas punggung Alice. Sampai di anak tangga gedung center. Aku menuntun Alice untuk duduk perlahan. Yah, aku tadi membeli air mineral. Aku langsung memberikan itu ke Alice. Dan Alice meneguknya pelan.


“Kenapa nih?” Tanya kak Rey yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangku.


“Bro. Kita anter Alice pakai mobilmu ya.” Ucap kak Burhan.


“Antar ke mana?”


“Pulang lah.”

__ADS_1


“Sakit?”


“Menurutmu?”


Kak Rey langsung bergegas ke tempat parikir. Sedangkan kak Burhan meminta Alice untuk mengeluarkan kunci motornya. Dia akan membawa motor Alice sampai rumah. Aku terlalu sibuk dengan keadaan sekarang, hingga tidak tau jika ada kak Daffin di sebelahku.


“Daf, nanti bilangin ke Rey buat tunggu aku di depan. Nanti aku ikutin dia dari belakang.” Ucap kak Burhan kemudian berlalu mengambil motor Alice.


“Loh?” Ucapku reflek.


Kak Daffin hanya menatapku sambil mengangkat kedua alisnya. Aku hanya diam dan kembali fokus ke Alice. Hah aku sepertinya terpengaruh dengan gosip itu. Jujur sekarang aku tidak mau tau dan tidak sebahagia dulu saat dekat dengan kak Daffin. Tidak lama mobil kak Rey parkir tepat di depan kami.


“Yuk masuk.” Kak Rey sudah membuka pintu belakang mobilnya.


Aku menuntun Alice pelan masuk ke mobil. Alice masih bisa berjalan, meski sempoyongan dan lemas. Aku khawatir, apa dia harus di bawa ke rumah sakit?


“Enggak. Cuma pusing aja.”


Alice pun masuk.


“Woy Al, Na.” Teriak suara seseorang yang tidak asing.


Oh ternyata Arin yang berteriak. Dia berlari menghampiri kami dengan napas terenggah-enggah.


“Ada apa?”

__ADS_1


“Alice sakit.”


“Al.”


Arin menerobosku dan melihat keadaan Alice di dalam. Sama sepertiku tadi, dia menyentuh dahi Alice dan terkejut. Karena dahi Alice terasa panas.


“Udah, Alice harus cepat pulang. Bilang ke Lintang dan Helly mereka suruh pulang aja. Soalnya perjalan ke rumah Alice kan cukup lama.”


“Oke oke. Hati-hati ya kalian.”


Arin turun dari mobil dan berganti aku masuk. Saat di dalam aku terkejut, kak Daffin sudah duduk di bangku penumpang yang depan. Tunggu, jika kak Daffin ikut. Maka nanti aku pulang... Reflek aku membuka pintu mobil dan menarik paksa Arin masuk.


“Weh kenapa?”


“Temenin. Gak ada kuliah lagi kan?”


“Iya sih.”


Arin terlihat bingung. Tapi dia cukup cerdik. Dia mungkin tau alasan aku menariknya paksa masuk ke mobil.


“Sudah?” Tanya kak Rey.


“Sudah.” Jawabku.


“Oh iya aku lagi telepon tadi.” Arin sadar dari bengongnya setelah menelepon.

__ADS_1


Ternyata dia tadi sedang menelepon Lintang memberitahukan keadaan kami sekarang. Kami pun berangkat ke rumah Alice. Kak Burhan mengendarai motor Alice dari belakang. Semoga semua ini segera selesai. Ngomong-ngomong kak Daffin juga bisa peduli ya? Buktinya dia tetap ikut ke rumah Alice.


__ADS_2