
Sore hari aku baru sampai kosku. Akhirnya aku kembali ke aktivitasku sebagai mahasiswa. Tiga hari lalu aku sengaja membolos untuk liburan. Pusing rasanya kepalaku setelah kembali menjadi mahasiswa yang cukup menjadi pusat perhatian karena gosip tidak jelas itu. Terlebih saat menghadapi Alice.
Tapi selama liburan otakku pun tidak berhenti memikirkan Alice. Cewek itu selalu mendatangiku lewat mimpi. Dan anehnya? Aku suka. Dia bersikap baik di dalam mimpiku. Lucunya lagi, aku pernah merasa berdebar saat bertemu Alice. Aneh. Oh iya perlu diingat ya. Alice, hanya baik di dalam mimpi. Apa aku sedang mengalami gangguan jiwa karena sering berubah-ubah perasaan saat memikirkan Alice.
Oh iya, dua hari lalu Alice meneleponku. Tapi waktu itu aku sedang berkemas. Tau gak? Aku merasa senang ditelepon Alice? Gila kali ya aku. Tapi aku acuh ketika mengingat tatapannya. Jadi membuatku malas mengangkat teleponnya. Eh tidak, aku dari awal memang malas mengangkat teleponnya. Dia pasti akan membahas masalah kelompok.
Ting!
Ada pesan masuk. Semoga saja bukan dari Alice. Malas rasanya berhubungan dengannya. Apa lagi, sekarang aku sedang lelah. Malasnya berlipat ganda.
Oh ternyata ada pesan dari Burhan. Dia ingin mengajakku nongkrong nanti malam di angkringan favorit kami. Sudah pasti aku sangat bersemangat. Dan aku langsung menyetujuinya. Lagian rasanya sudah lama tidak nongkrong malam dengan mereka. Eh memang sudah lama, kan sudah satu tahun aku tidak bertemu mereka. Kenapa aku jadi pelupa seperti ini sih?
“Jam tujuh?” Gumamku.
Reflek aku melihat jam digital di ponselku. Ternyata sekarang masih jam empat sore. Ah masih ada waktu untuk istirahat setelah perjalanan naik motor dari rumah ku ke kos. Perjalanannya lumayan panjang karena butuh waktu empat jam lamanya.
“Rebahan dulu lah.”
***
Malam hari di angkringan dekat kosku.
Aku datang hanya dengan jalan kaki saja. Aku sengaja datang terlambat karena tempatnya dekat. Lagi pula teman-temanku adalah tipikal jam karet alias tidak tepat waktu.
“Bro!” Teriak Burhan dari kejauhan.
Aku melambai singkat. Wah, sepertinya malam ini bakalan seru. Di sana tidak hanya ada Burhan dan Rey. Ada beberapa temanku yang lainnya. Di meja mereka sudah ada kartu uno, kopi, kacang asin, dan rokok yah meski aku tidak merokok.
Karena melihat mereka. Aku jadi datang dengan tergesa-gesa. Sampai di sana aku di pukuli habis-habisan. Ini sudah seperti pesta penyambutan diangkatanku. Setiap kita bertemu dengan teman yang sudah lama menghilang, entah cuti seperti aku, atau hilang karena sibuk dengan hal lain. Kami wajib memukulinya sebagai salam selamat datang.
“Sakti banget gak kesakitan.” Ucap salah satu temanku.
__ADS_1
“Daffin mah badannya udah gak pakai tulang, tapi besi.” Sahut lainnya.
Memang sih badanku kecil tapi aku termasuk yang paling kuat di banding teman-temanku yang lain. Aku tahan sakit, saking tahannya. Kadang sampai gak terasa kalau aku sedang sakit. Aku tidak berhenti bergerak sebelum tubuhku benar-benar tidak bisa bangun dari tempat tidur. Tidak jarang teman-temanku mengatakan jika aku terlalu keras dengan diriku sendiri.
“Bro! Duduk dulu bro.” Ucap Burhan.
“Ngopi gak bro?”
“Ya, nanti aja. Main uno nih. Ada taruhannya gak?”
“Gak ada bro. Cuman buat asyik-asyikkan doang.”
“Gak seru.”
Ternyata selama aku pergi setahun ini teman-temanku sudah taubat semua. Biasanya jika ada permainan uno tidak jauh dari taruhan. Taruhannya bukan berupa uang. Tapi sebatang rokok. Sedangkan aku yang tidak merokok biasanya meminta rokok itu untuk di uangkan saja, harganya 2000/batang rokok.
“Eh bro! Kita mlipir dulu, bisnis.” Ucap Burhan.
Aku sangat tertarik ketika Burhan mengatakan kata bisnis. Aku pun langsung menurut mengikuti kemana Burhan pergi. Namun, ternyata tidak hanya Burhan. Rey juga ikut dengan kami.
“Gak. Mau nguping aja.”
Hanya Rey yang blak-blakan bilang ingin menguping. Kami pun memutuskan untuk duduk di tempat yang cukup jauh dari teman-teman. Tapi, perasaanku tidak enak. Aku merasa seperti akan diceramahi bukan membahas tentang bisnis.
Dan ternyata benar. Burhan langsung berbicara pada intinya. Dia menanyakan kenapa aku berkata kasar saat di kelas pak Budi? meski pak Budi belum datang. Kan? Ini, pasti pertanyaan yang membuat dua soibku penasaran.
Sejujurnya, kala itu aku sedang tidak stabil baik mental dan fisik. Fisikku lelah dengan tugas kuliah, karena dalam minggu itu aku harus presentasi empat mata kuliah. Sedangkan mentalku tidak aman karena. Ah sejujurnya aku mengatakannya.
Sudah beberapa hari aku tidak bertemu Alice sehari pun, membuatku penasaran dan merasa ingin melihat wajah Alice. Kalian pernah gak sih kayak gini? Kalau ketemu tuh pengen banget marah. Tapi gak ketemu kayak ada yang hilang gitu. Entahlah?
Tetapi aku tidak akan mengungkap fakta itu. Aku sudah mempersiapkannya. Dengan mudah aku menjawab. Waktu itu aku baru datang dan sedang sibuk mencari paperku. Aku lupa jika paperku di kumpulkan di kantor dosen. Entah kenapa aku jadi pelupa seperti sekarang.
__ADS_1
Alasan yang kedua aku tidak menyukai cewek yang bernama Fani itu. Awalnya dia sih ramah, tapi akhirnya dia sama seperti si Alice menyebalkan. Aku sangat membenci mahasiswi yang ada di kelas pak Budi. Bagiku semuanya sama saja seperti Alice.
Burhan dan Rey hanya bisa diam dan pasrah dengan jawabanku. Jawabanku cukup menyakinkan. Tapi aku penasaran, sebenarnya kenapa sih akhir-akhir ini beberapa orang membela Alice? Kenapa mereka tidak bertanya apa yang terjadi kepadaku? Kenapa mereka tidak mendengarkan cerita versiku. Ah sudahlah, aku muak. Jadi malas aku nongkrong sama mereka.
“Aku pulang dulu.” Ucapku ketus.
“Eh, Daf buru-buru banget.” Ucap Rey.
“Iya bro! Jangan ngambek, kayak cewek aja ngambekan.” Sahut Burhan.
Ucapan Burhan membuatku naik pitam. Tanpa basa basi aku langsung pergi meninggalkan mereka di angkringan. Bukannya mendapat kesenangan malah mendapat amarah waktu bertemu teman-temanku. Untung saja aku belum memesan kopi. Lebih baik ngopi di kos saja.
Sesampainya di kos, aku langsung tidur. Selain lelah karena perjalanan panjang tadi. Aku juga mau meredam amarahku dengan tidur. Aku tidak mau mengamuk dan membuat kosanku menjadi hancur. Setelah cuti kuliah selama satu tahun aku juga sedikit belajar mengendalikan diri.
Aku belajar bahwa di dunia mana pun baik dunia kerja, kuliah dan keseharian. Pasti ada yang membuat kita jengkel sengaja atau tidak. Dan kita tidak bisa mengendalikan orang-orang untuk tidak membuat kita jengkel meski kita baik kepada mereka.
Hidup harus terus berjalan apapun yang terjadi. Kendalikan emosi agar tidak berlebihan. Selain bisa membuat hidup kita semakin sehat. Mengendalikan emosi bisa cukup membantu kita untuk berpikir jernih agar tidak memilih jalan yang salah saat menghadapi masalah. Terutama masalah bisnis, yah itu prioritasku saat ini.
Tok tok tok.
“Daf... Daffin.”
Sepertinya itu suara Rey. Ah baru saja aku mau tidur agar tidak marah berlebihan kepada mereka. Eh malah mereka datang kemari. Memang apa yang terjadi itu tidak bisa di tebak.
Tok tok tok
Ketukan pintu semakin keras. Argh! Sekarang rasanya aku ingin mendobrak pintu itu. Menendang siapapun yang ada di depan pintu. Aku sedang berusaha keras untuk menahan emosi. Tapi kenapa mereka tidak mengerti!
“Daf! Jangan lupa ya besok sore di tunggu Alice di kafe deket sawah dulu. Aku cuma mau menyampaikan pesan dia aja. Chatku gak kamu baca sih. Dah ya.” Teriak Burhan dari balik pintu.
Setelah itu aku mendengar langkah kaki menjauh dari kamar kosku. Ah... akhirnya mereka pergi. Apa aku tidak salah dengar? Tadi Burhan menyampaikan pesan dari Alice? Oh tidak bahkan Burhan juga sudah mulai dekat dengan Alice.
__ADS_1
Tapi yah tidak heran sih, Burhan kan mempunyai hati yang lembut. Mungkin dia simpatik akan keadaan Alice dan si penyihir Alice itu memanfaatkannya. Semoga saja Rey tidak terpengaruh dengan Alice.
Entahlah, aku memilih untuk tidur saja. Lupain yang terjadi tadi. Besok harus kuliah. Lagi pula badanku juga capek sekarang. Tidak butuh waktu lama, aku pun terlelap tidur. Semoga aku bisa tidur nyenyak.