
Minggu ini adalah minggu keempat mengumpulkan tugas. Minggu kedua pengumpulan tugas, kami sama-sama print out paper kami. Yah memang itu salah ku juga karena aku tidak bilang jika aku sudah print out papernya. Jadinya, kami di marahi oleh pak Budi karena mengumpulkan dua paper.
Minggu ke tiga, Daffin di panggil maju dulu, kemudian aku. Kami duduk depan berdampingan. Anehnya, kami seperti sedang di sidang. Pak Budi menanyakan kinerja kelompok kami. Bahkan dia juga bertanya kepada kami untuk melanjutkan kerja kelompok atau di kerjakan secara individu. Dan akhirnya kami tetap memilih kerja kelompok. Entah apa yang di katakan Daffin sehingga pak Budi mengatakan itu.
Minggu empat, minggu ini sudah tidak kelompok berdua. Kami di gabung dengan kelompok lain untuk membuat RPE ( Rencana Pekan Efektif) dengan menghitung hari Efektif sekolah sambil membagi KD (Kurikulum Dasar) untuk setiap pertemuannya. Kami di haruskan berpikir dengan teliti membagi waktu agar semua KD bisa masuk dalam satu semester.
Jujur aku lelah setelah tiga minggu saling salah komunikasi dengan Daffin. Tapi kuliah masih tetap berjalan. Aku bersyukur karena sekarang aku tidak kelompok berdua dengan Daffin.
Karena materi ini bagian tersulit maka, kami di buat menjadi empat anggota dalam satu kelompok. Kebetulan hari ini kami pindah kelas, karena seharusnya kemarin, kelas kami libur karena hari libur nasional. Sehingga di ganti sekarang.
Kami sudah mendapatkan kelas kosong dan mulai duduk di bersama kelompok masing-masing. Tidak lama kemudian, pak Budi datang dan memulai kelasnya. Seperti biasa kami di panggil satu persatu hingga nama Daffin di panggil.
Namun, sayangnya Daffin tidak hadir. Entah dia lupa atau apalah? Aku tidak peduli. Tetapi, tidak lama kemudian. Fani teman satu kelompokku mengatakan kalau Daffin mengirimnya pesan untuk bertanya dimana kelasnya.
Sontak teman satu kelompokku menoleh ke arahku. Aku mengangkat bahu. Aku sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran mereka.
“Kenapa gak tanya kamu? Kan kamu kelompok asalnya.” Tanya Fani.
Tuh kan benar? Aku diam dan tersenyum. Malas aku menjelaskan. Mungkin dia juga tidak menyimpan nomorku. Karena aku tidak pernah tau SW nya (Story Whatsapp). Fani yang baru saja memasukkan dia ke ruang obrolan untuk kelompok kecil ini saja tau SW Daffin dan aku tidak peduli.
Tidak lama kemudian Daffin masuk. Pak Budi mempersilahkannya. Beruntung aku duduk di pojokan dihimpit oleh Fani dan Mira. Jadi aku tidak duduk dekat Daffin. Kami duduk melingkar dengan laptop di depan kami masing-masing.
Pak Budi mulai menjelaskan materi selanjutnya. Hingga pada akhirnya, kembali ada tugas lanjutan. Sisa dua puluh menit untuk mendiskusikan tugas ini. Fani bertindak cepat langsung membagi tugas kami masing-masing kemudian, meminta kami untuk mengirim file tugas kami ke ruang obrolan grup yang baru minggu lalu di buat.
“Oke, siap.”
“Kalau ada yang kesulitan langsung tanya ke grup aja ya.” Ucap Fani.
Hah... aku tersenyum tipis mendengar kata-kata itu. Yah mudah-mudahan dengan begini kelompok ini akan berjalan dengan lancar. Lagi pula, kini kami juga sibuk dengan bagian masing-masing.
***
Minggu berjalan begitu cepat. Lama-kelamaan Fani dan Mira merasakan apa yang aku rasakan. Daffin sama sekali tidak bertanya di grup chat. Dia langsung mengirimkan tugasnya begitu saja. Namun, setelah di cek tugasnya begitu rumit dan cukup berantakan.
Aku tidak tau apa yang ada di pikiran Daffin. Ini tugas kelompok, tanggung jawab bersama. Tapi entah kenapa Daffin bisa seenaknya seperti itu.
Lama kelamaan, gosip yang memojokkan ku menjadi gosip yang mendukungku. Banyak mahasiswi lain bertanya gimana sih rasanya satu kelompok sama Daffin? Kenapa Daffin bisa seperti itu? Dan masih banyak lagi. Tapi, tidak jarang masih ada yang membela Daffin karena bagi mereka aku sombong dan jutek.
Yah, setidaknya di sini aku sadar kalau ternyata wajahku terlihat sangat jutek setelah di beritahu Nana. Dulunya aku pikir, karena kau tidak cantik. Tapi ternyata karena wajahku jutek dan tatapanku tajam. Yah aku menyesal baru sadar dan memahami itu.
Hingga akhirnya pada pertemuan terakhir kelas ini. Kami semua di kejutkan dengan sikap Daffin yang meledak-ledak. Waktu pak Budi meminta itu salah satu mahasiswa di kelas untuk mengambil beberapa RPP, PROTA, dan PROMES yang ada di kantor dosen. Tapi kebetulan di kelas itu tidak ada mahasiswa hanya ada mahasiswi di sana.
__ADS_1
Akhirnya Fani berangkat untuk mengambil tumpukan RPP, PROTA, dan PROMES di kantor dosen. Fani tidak sendiri ada beberapa mahasiswi membantunya. Tidak lama kemudian, Daffin datang. Dia langsung duduk di pojokan kelas. Dan beberapa menit kemudian beberapa mahasiswa dan mahasiswi memenuhi kelas.
Fani dan dua teman lainnya susah payah membawa tumpukan kertas dari ruang dosen. Dengan sigap beberapa mahasiswa datang membantu kecuali Daffin.
“Eh! Jadi cowok yang gentle dikit dong. Ada cewek kesusahan diem aja.” Teriak Fani.
Memang kebetulan di kelas ini lebih banyak mahasiswinya di banding mahasiswanya. Hanya ada tiga mahasiswa di kelas ini.
“BACOT!” Teriak Daffin.
Sontak seisi kelas langsung terdiam mendengar teriakan itu. Aku juga terkejut dan takut dengan teriakan Daffin yang menggema. Setelah kejadian itu. Kelas kami menjadi acuh kepada Daffin. Banyak mahasiswi yang simpatik kepadaku. Mereka memberiku dukungan untuk tetap sabar.
Aku sih tetap sabar, lagi pula aku juga tidak begitu berhubungan baik dengan Daffin. Kami lebih berkomunikasi melalui obrolan grup.
Hingga hari ini tiba, hari dimana aku tau alasan Daffin seperti itu. Hari ini pak Budi memanggilku ke ruangannya. Beliau memanggilku karena ternyata dalam kelompok kami ada satu komponen yang kurang.
Aku berjalan menuju ruangan pak Budi. Sampai di sana pak Budi sudah siap dengan setumpuk kertas di depannya.
“Pagi pak.”
“Pagi, duduk.”
“Ini kok gak ada tanda tangan Daffin? Sama ini mintakan tanda tangan Daffin untuk absen. Kalau bisa sekalian mahasiswa lain ya Alice. Bapak minta tolong.” Ucap pak Budi.
“Iya pak.”
“Oh iya Alice, benar kamu kuliah sambil kerja?” Tanya pak Budi tiba-tiba.
“Benar pak.”
“Oh... saya dengar juga. Daffin itu marah-marah ya waktu di kelas minggu lalu.”
“Iya pak.”
“Kamu hati-hati ya sama Daffin. Kadang emosinya bisa meledak-ledak. Anaknya kalau di rumah itu suka meledak-ledak karena kurang perhatian dari orang tuanya. Tapi, sebenarnya dia itu baik. Dia itu gak enak kalau ganggu kamu. Karena waktu kamu gak banyak. Jadi dia berusaha sendiri. Makanya dulu saya tanya mau kelompok apa individu?” Jelas pak Budi.
“Dia itu kasihan sama kamu.” Lanjutnya.
Aku hanya tersenyum kaku. Sama sekali aku tidak tersipu. Mana ada Daffin kasihan kepadaku. Omong kosong! Dia saja malas menatapku. Tapi kenapa pak Budi tau keseharian Daffin di rumah?
“Maaf, bapak kok tau Daffin di rumah meledak-meledak?”
__ADS_1
“Ya saya itu omnya Daffin. Tapi Daffin di kampus selalu bersikap seperti orang asing. Gak mau dia terlihat dengan dengan saudara di kampus. Takut di perlakukan spesial.” Jelas pak Budi.
“Oh iya pak.”
Kemudian aku mengambil paperku dan kertas absensi kelas kami.
“Oh ya Alice. Jangan bilang siapa-siapa kalau Daffin keponakan saja. Soalnya saya sudah janji sama dia.”
“Oh baik pak.”
“Terima kasih sudah menjaga rahasia.”
“Saya permisi dulu pak, mau cari dia.”
“Iya, silahkan. Nanti kalau sudah langsung di kumpulkan ya.”
“Baik.”
Aku pergi meninggalkan ruangan itu. Di luar aku langsung menelepon Daffin. Aku harap dia langsung mengangkatnya.
Tuuutt tuuutt tuuutt.
Telepon berdering ke sekian kalinya. Sepertinya Daffin tidak sedang memegang ponselnya. Ya sudah lah, aku matikan teleponnya.
“Eh Alice.” Sapa kak Burhan.
“Oh hai kak Burhan. Kak tau Daffin gak?”
“Oh dia lagi di luar kota. Pulang kampung dia.”
“Apa?! Ini kan belum liburan kampus.”
“Ya gak apa-apa. Kita kan punya jatah 3 kali absen kan. Liburan di tengah perkuliahan itu wajar. Kenapa kangen ya?”
“Idih najis.”
“Tapi Senin dia udah balik kok.”
“Bilangin ke Daffin ya kak. Senin sore jam empat, aku tunggu di kafe minggu lalu deket sawah itu. Mau minta nih tanda tangan dia. Kemarin main pergi aja habis kelas. Kan aku jadi yang repot.” Kesalku pada kak Burhan.
Kak Burhan hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Kemudian, aku berpamitan untuk pergi. Mau kemana? Pulang saja lah. Aku harus menghemat energiku untuk bekerja nanti.
__ADS_1