Kupu-Kupu Kampus

Kupu-Kupu Kampus
Daffin


__ADS_3

Gak kerasa udah hari Rabu lagi. Sekarang aku jadi tidak suka dari Rabu karena Alice. Hah capek. Hari ini aku kebagian untuk print tugasnya. Yah aku dan Alice sudah lebih baik dalam kelompok dengan dia. Kami mulai bisa berkomunikasi.


Kali ini aku datang agak terlambat. Dan Alice sudah datang dan duduk di bangku belakang. Sepertinya itu tempat favoritnya. Jika di lihat suasananya sama seperti saat aku bertemu dengan dia waktu awal bertemu. Dia sibuk dengan ponsel dan headsetnya. Begitu aku mendekat, aku melihat layar ponselnya. Dan sama. Seperti yang lalu boyband.


“Kak Daffin.”


“Iya?”


Tiba-tiba ada yang menyapaku tapi aku tidak kenal dia. Tapi dia terlihat manis untukku. Tidak seperti nenek lampir di sampingku.


“Kak Daffin save nomorku kan.”


“Siapa?”


“Yang masukin kakak ke grup.”


“Oh iya.”


“Duluan ya kak.”


Cantiknya, batinku.


Gadis itu pergi begitu saja. Ternyata dia cantik juga. Ah sial aku tidak bertanya siapa namanya. Tidak apa, nanti aku juga akan tau saat om Budi absen. Setidaknya gadis itu lebih baik di banding Alice itu.


Sampai di kelas semua terlihat sama. Oh tidak berbeda kali ini. Awal masuk kelas ini, dulu aku menjadi pusat perhatian. Tapi sekarang. Sepertinya tidak, mereka sudah mulai sibuk dengan tugas kelompok masing-masing.


Aku langsung duduk didekat Alice. Dia itu, satu-satunya mahasiswi yang menurutku licik. Dia selalu duduk di belakang baik di mata kuliah apapun. Darimana aku tau? Oke aku sempat menemukan dia di mata kuliah lain saat aku sedang melintas di depan kelasnya. Jendela di kampus kami lebar dan pendek. Jadi akan terlihat jika ada orang lalu lalang di lorong kampus. Tunggu dulu? Rasanya aku semakin memperhatikan dia?


Tapi aku tau, di balik sikapnya itu. Dia memilih tempat paling aman saat kuliah. Dia duduk di belakang agar tidak terlalu mencolok. Karena terkadang dia tidur di kelas. Yah meski aku tidak menyukai dia. Aku terpaksa memperhatikan dia saat duduk di sebelahku. Dan sekarang dia  tertidur dengan ponsel menyala dan headset di telinganya.


“Nih.” Ucapku sambil memberikan tugas kami ke mejanya dan membangunkan dia.


Dia sempat terkejut. Kemudian kembali menatap ponselnya. Jujur, aku penasaran. Anak ini bekerja sampai pagi atau bagaimana? Dia hampir selalu tidur di kelas ini. Ah tunggu, kenapa aku penasaran? Bodoh.

__ADS_1


Tidak lama dosen datang dengan setumpuk tugas kami minggu lalu yang sudah dinilai. Seperti biasa, kami akan diabsen satu persatu. Kemudian di panggil ke depan untuk memberikan tugas terbaru serta membahas tugas kemarin yang perlu di revisi.


Sambil menunggu giliran seperti biasa om Budi menganjurkan kami untuk mendiskusikan materi selanjutnya. Kali ini presentasi tidak lama seperti sebelumnya. Cukup singkat, mungkin tugas kami semua semakin hari semakin baik.


“Mau kemana?” Ucapku ke Alice yang tiba-tiba berdiri.


“Ke kamar mandi.” Ucapnya cuek.


Wajahnya pucat, ah masa bodoh, batinku.


Yah memang seperti itu dia. Aku hanya mengangguk, berharap dia tidak lama-lama di kamar mandi. Aku menatap Alice berjalan menuju meja dosen untuk ijin. Aku melihat caranya berjalan yang sedikit sempoyongan. Aku khawatir? Iya khawatir kalau dia tiba-tiba pulang dan aku harus presentasi sendirian.


Beberapa menit berlalu. Alice belum juga kembali. Dan pak Budi sudah memanggil namaku. Mau tidak mau aku harus maju ke depan. Sampai depan pak Budi langsung menjelaskan bagian mana saja yang di revisi dengan sejuta coretan yang sempat tidak aku pahami di paper tugas minggu lalu. Tapi aku akhirnya paham sih.


“Paham?” Tanya pak Budi.


“Iya paham.”


“Nanti jelasin ke Alice ya.”


“Hah?”


Aku mendengus kesal. Sial sekali aku ini.


“Kamu kenapa sih Fin?”


“Hah?”


“Om lihat, kamu selalu kesal saat kuliah saya. Kamu gak suka sama kebetulan ini?”


Aku melirik kanan kiri sejenak. Memastikan tidak ada yang akan mendengar suara kami yang berbicara sebagai keponakan dan omnya.


“Om, bukannya gak suka sama kuliah om. Aku gak suka sama temen kelompokku. Duh kenapa harus sama dia sih om?”

__ADS_1


“Emang dia kenapa? Gak mau kerja kelompok?”


“Gak gitu om. Dia itu mahasiswa kupu-kupu. Dan dia bekerja juga. Jadi sulit kalau kelompok sama dia.”


“Kupu-kupu? Mending kupu-kupu dari pada banyak nge-gosip di kampus.”


“Om. Duh, dia kayaknya anak ansos deh. Duh sulit banget aku kerja kelompok sama dia. Tapi kasihan juga sama dia. Dia kuliah sambil kerja, pasti capek. Tapi yah dia kan juga harus mendahulukan kuliahnya. Andai aja wajahnya gak sinis gitu. Pasti om aku bisa buat dia lebih mudah kelompok sama aku.” Aku tumpahkan semua unek-unekku ke om Budi. Masa bodoh ini di kampus. Aku ingin setidaknya om Budi tau mengapa aku seperti ini.


"Lucu.” Tiba-tiba om Budi mengatakan itu.


Reflek, aku terdiam dan memberikan tugas kami. Dan mulai presentasi. Namun, di tengah-tengah Alice datang dan langsung duduk di bangku yang sudah di sediakan. Aku hanya melirik sekilas dan melanjutkan presentasi sampai habis. Kemudian, baru Alice presentasi mengenai bagiannya.


“Oh bagus, ini sama di tambah revisi minggu lalu bakalan jadi lebih baik lagi.” Ucap pak Budi.


“Terima kasih pak.”


“Alice sehat?”


“Sehat pak.” Jawab Alice dengan suara serak, membuatku menoleh reflek.


Wajahnya semakin terlihat pucat kali ini. Ada apa dengan dia?


“Kalian masih mau lanjut satu kelompok apa mau ganti kelompok?” Tiba-tiba om Budi bertanya.


Aku melirik sekilas kembali Alice. Wajahnya berubah menjadi sedikit panik. Aku juga panik sih. Ini lah yang membuatku kadang malas ada hubungan dekat dengan dosen.


“Saya masih mau satu kelompok pak.” Jawab Alice.


Kemudian, pak Budi menatapku.


“Saya juga.”


“Ya sudah di lanjutkan.”

__ADS_1


Setelah itu kami di suruh untuk kembali ke tempat duduk masing-masing. Leganya aku. Hah, tapi aku juga sebal atas pertanyaan om Budi. Aku juga menyesal sudah mencurahkan semua isi hatiku.


Aku berjalan tepat di belakang Alice. Benar, Alice sedikit sempoyongan saat berjalan. Buru-buru aku mengambil tugas yang ada di tangannya. Print out tugas kami cukup tebal. Aku tidak mau dia semakin terbebani. Meski aku tidak suka, aku tetap manusia yang memiliki belas kasihan. Dan hanya karena itu semua mata mentapku.


__ADS_2