
Seperti biasa aku bersama Rey dan Burhan di kafe kebanggaan dekat kampus. Aku sedang menatap layar monitor laptopku sambil berpikir dan scrol up/ scrol down halaman pekerjaan yang sudah aku kerjakan semalam.
Sebenarnya aku masih ragu dengan hasil pekerjaanku ini. Aku masih belum paham bagaimana cara mengerjakan tugas ini. Membuat RPP secara kelompok itu sulit karena sebenarnya kami memiliki cara berpikir masing-masing.
Seharusnya mengerjakan tugas ini harus dengan cara tatap muka, agar kita bisa saling mengeluarkan pendapat masing-masing dan mencapai kesepakatan. Namun, begitu aku tahu bahwa si Alice ternyata bekerja sepulang kuliah. Membuatku tidak tega mengajaknya bertemu untuk mengerjakan kelompok.
Kini aku tahu alasan kenapa Alice sering di juluki mahasiswi kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Bahkan Rey dan Burhan yang dulu menertawakan ku karena satu kelompok dengan mahasiswi kupu-kupu itu, sekarang menjadi iba dengan keadaan Alice dan tentunya keadaanku.
Bagaimana mereka tidak kasihan kepadaku? Aku saja tidak begitu memahami materi ini. Aku sudah bertanya kepada mereka yang lebih dulu mengambil mata kuliah ini. Dan kalian tau apa jawaban mereka? ‘aku lupa, udah satu tahun lalu tuh.’ Tidak bisa di pungkiri juga Rey dan Burhan mengerjakannya dengan cara copy paste dari internet dan kemudian mereka revisi sebaik mungkin menggunakan bahasa mereka.
Ini sangat tidak patuh untuk di contoh yaa. Dan juga tidak semua mahasiswa seperti Rey dan Burhan. Masih ada banyak mahasiswi dan mahasiswa yang mengerjakan sungguh-sungguh sesuai dengan pemahaman mereka.
Saking frustasinya, aku membuat sebuah story Whatsapp yang mengatakan bahwa aku tidak paham sama sekali materi kali ini. Berharap ada teman-temanku yang mau mengajariku tentang cara membuat RPP yang baik dan benar.
Dan dugaanku ternyata salah, mereka malah langsung mengirimkan paper mereka yang sudah jadi dan selesai tanpa ada penjelasan terperinci. Hey! Aku tidak ingin mencontek hanya ingin penjelasan dari materi ini. Ah sudah lah, mereka sudah membantuku dengan memberi referensi berupa paper mereka di masa lalu saja sudah harus bersyukur kan.
“Gimana bro? Udah dapet kan paper anak-anak. Copas (Copy Paste) aja lah ntar tinggal revisi bahasa doang. Lagian si Alice kan sudah kirim tuh bagian KD (Kompetensi Dasar) dan Indikator. Tinggal cari soal yang sesuai sama KD nya, dan Alice minta di teliti lagi kesalahan, penulisan, soal yang mungkin gak cocok sama KD nya.” Jelas Burhan.
Aku hanya menghela napas panjang. Tanpa penjelasan dari Burhan pun aku juga sudah tau, jika Alice memintaku untuk merevisi pekerjaannya dan aku mencari soal tambahan di KD yang belum ada contoh soal. Hanya saja, bagaimana caraku mengatakan ke Alice bahwa ada yang salah atau sudah benar jika aku tidak paham tentang KD dan Indikatornya.
Rey pun tidak sabar, dia merebut laptopku dan mengotak-atik pekerjaanku. Dan aku hanya diam terpaku melihatnya. Jujur, otakku terasa lebih ringan sedikit karena berpikir mungkin Rey sedang mencoba merevisi tugasku dan segera menjelaskan mana yang salah dan mana yang benar atau malah, dia mengerjakan tugasku.
Namun, mataku membelalak ketika Rey membuka pekerjaan teman-teman lain yang aku jadikan referensi dan melakukan tindakan COPAS (Copy Paste). Aku langsung mencegahnya dengan mencengkram kuat-kuat lengannya.
“Heh! Aku calon pebisnis jujur, aku gak mau mencoreng namaku kelak kalau aku sukses.” Ucapku tegas.
Rey pun diam membeku seolah-olah sedang tersihir/terpana/terkesima/kagum dengan perkataanku barusan, entah bagaimana istilahnya. Yang pasti itu salah satu istilahnya.
__ADS_1
Seperdetik kemudian, aku melepaskan cengkramanku dan Rey sudah tidak menyentuh laptopku. Matanya masih menatapku dengan tatapan yang sama seperti tadi.
Aku sih cuek-cuek saja, bahkan tidak peduli. Buru-buru aku rebut laptopku dan menutup semua jendela yang terbuka di layar. Kemudian, aku matikan laptopku dan berkemas untuk pulang ke kos. Aku sudah merasa pusing dan tidak memiliki mood untuk mengerjakan tugas ini.
“Dih kayak cewek! Ngambekan.” Ucap Burhan.
“Enggak ngambek, cuma udah pusing aja. Pengen mabar di kos aja sambil rebahan.” Jelasku sambil mengemas.
Aku lihat Rey dan Burhan juga ikut mengemas barang-barangnya. Rey sedikit buru-buru menghabiskan camilan dan kopi yang mereka pesan. Dan burhan juga mematikan rokoknya dan menyeruput sisa kopi hitamnya dan menyisakan bubuknya yang sudah rendam.
Oh iya, kali ini kami memilih untuk duduk di luar kafe ya. Karena Burhan ingin merokok, dan juga kafe ini bukan kafe yang seperti kalian bayangkan. Di sini menu andalannya adalah Kopi. Mulai dari kopi hitam, americano, espreso hingga kopi susu ada. Serta beberapa camilan kentang goreng, jamur krispy, nuget dll.
Selesai mengemas, kami langsung bergegas menuju kos ku. Kalian tau, begitu berdiri aku melihat si Alice berjalan melewatiku bersama temannya. Terlihat wajahnya yang masam dan sepertinya penuh dengan amarah. Aku penasaran apa yang terjadi dengannya? Eh tunggu dulu. Itu privasi dia. Kok aku jadi gini sih? Dan kenapa aku memperhatikan dia sampai segitunya?
“Itu anaknya?” Tanya Rey ke Burhan.
“Iyee... kelihatan kan galak, sombong, pantes dia gak punya temen.” Ucap Burhan.
“Nah, kalau udah bahas ini merasa tak berguna lah saya. Merasa jadi beban keluarga. Aku mah apa di banding cewek sekuat dia. Udahlah kasihan dia kita gunjingin terus. Kuy lah Mabar!”
Baru saja dia mencela, kemudian langsung luluh ketika sadar dengan apa yang barusan di ucapkan. Burhan memang seperti itu, meskipun di luar terlihat datar, dingin dan kesan bad boy karena perokok. Dia memiliki hati yang lembut seperti kapas. Dia itu orangnya gak tegaan. Makanya, banyak cewek kecantol sama dia karena perhatiannya.
“Gas!” Ajak ku semangat.
Kami berjalan menuju kosku. Kami berjalan tepat di belakang Alice. Jujur saja, aku sebenarnya penasaran dengan apa yang membuatnya marah. Entah mendapat firasat dari mana? Aku rasa dia sedang marah kepada ku. Perasaan macam apa ini?!
Akhirnya kami sampai di pertigaan sebelum belokan ke kosan. Alice dan temannya berjalan lurus menuju kampus. Mataku masih saja tidak bisa jauh dari Alice dan temannya.
__ADS_1
“Woy! Naksir ya sama dia. Cie...” Goda Burhan.
Bug!
Tinjuku langsung mendarat di bahu Burhan. Reflek saja sih. Aku tidak menggubris ucapan Burhan dan berjalan lurus menuju kosku. Kalau di pikir, masak iya aku naksir si cewek itu? Gak! Ini karena aku kasihan sama dia.
Sesampainya di kosku. Aku menaruh tasku di meja kecil di kamarku dan mulai mencari posisi paling nyaman untuk mabar. Sedangkan Rey dan Burhan masih sibuk mencari tempat paling nyaman mereka untuk mabar.
Kami pun memulai permainan dengan seru, hingga tidak sadar kami sedikit berteriak. Beruntung kami masih bisa mengontrol ucapan kami sehingga tidak keluar kata-kata kasar. Namun, di tengah permainan ada pesan masuk yang membuatku tidak fokus.
Aku mendapat pesan dari Alice. Dia memintaku untuk bertemu secara langsung sore ini. Aku heran, ternyata dia bisa menemui ku di luar jam kampus. Awalnya aku mengabaikannya dan berniat untuk membalasnya nanti saat break time.
Tetapi, sepertinya Alice tidak sabar. Beberapa menit kemudian. Dia meneleponku dan tidak sengaja aku membatalkan teleponnya. Itu adalah gerak reflek ketika aku main game online. Dan baru pertama kali aku terkejut dengan gerak reflekku sendiri.
“Aduh!” Kesalku.
Aku pun buru-buru keluar dari permainan. Dan langsung menelepon balik Alice. Jika tidak ada yang penting dia tidak akan meneleponku. Pasti ini ada yang penting. Sedangkan Rey dan Burhan sudah naik pitam karena aku keluar dari permainan tiba-tiba.
“Daff! Aduh! Kenapa keluar?!” Kesal Rey yang masih sibuk dengan ponselnya.
Dan Burhan? Dia sudah mengeluarkan sumpah serapah sejak aku keluar dari permainan. Meski sekarang dia masih konsentrasi penuh dengan ponselnya.
Aku tidak peduli itu. Aku tunggu teleponku tersambung, ini sudah dering ke lima. Jika sampai aku mendengar suara operator. Aku akan kembali ke permainan dan mengabaikan Alice dan menganggap tadi dia tidak sengaja menelepon aku.
“Hallo! Sekarang?!”
Aku melirik jam dinding kamarku.
__ADS_1
“Oke, di mana?”
“Oke siap.”