
Hai... aku Burhan, cowok paling tampan yang mempesona, salam kenal.
Hlah, jauh jauh ke sini cuman lihat mereka tatap tatapan. Mana gagal mabar juga. Mana tuh cewek si Alice kuat banget sampai si cewek manis merintih kesakitan. Duh pengen peluk si manis itu deh. Tapi, ya mau gimana lagi. Alice juga harus kerja sambil kuliah sih, makanya kuat.
“Han, kenapa Daffin ke sini cepet-cepet?” Tanya Rey.
“Entah. Eh kita belum pesen loh. Kalau udah kesini bawaanya pengen rice bowl.”
“Makan mulu.”
Aku tersenyum lebar karena memang lapar. Oh ya, aku terlalu asik mengobrol dengan Rey hingga gak sadar kalau Daffin udah duduk di dekat Alice. Hmmm... mereka terlihat canggung sekali.
“Duduk dulu kak.” Ucap si cewek manis.
“Boleh boleh.”
Aku langsung antusias mendekat, dan sialnya Rey menarikku kemudian dia duduk terlebih dahulu di banding aku. Wah, jangan-jangan Rey suka sama si manis. Wih, mulai berani dia. Gak apa-apa lah. Aku ikhlas gak kenalan sama si manis.
“Jangan modus. Kita ke sini tadi mau ngawasin Daffin. Kali aja sifat aslinya keluar. Kita kan tau Daffin bisa meledak kapan aja, apa lagi berurusan sama Alice yang....” Ucap Rey.
Oh iya aku sampai lupa tujuan utama kami mengikuti Daffin. Kami tidak ingin Daffin tiba-tiba meledak karena tidak bisa mengontrol emosinya. Di balik misteriusnya dan dinginnya. Dia punya sisi menyeramkan. Dia tidak segan-segan ngotot dan main fisik ketika marah. Tapi itu berlaku untuk cowok. Kalau ke cewek palingan ucapannya kasar dan menusuk.
Tidak banyak yang tahu sifat asli Daffin ini. Karena Daffin hanya menunjukkan sifat itu kepada kami. Dia termasuk orang yang cuek di luar saat circle kami. Gengsinya juga tinggi. Apa lagi emosinya. Tapi sepertinya nyali Daffin menciut saat berada di dekat Alice. Itu sudah terlihat jelas jika dia sedikit kaku.
Aku mengeluarkan sebatang rokok dan juga korek gas dari saku jaketku. Aku sudah siap untuk menyalakan batang rokok ini. Namun, seklias aku melirik ke arah si manis. Kelihatannya dia tidak suka bau rokok. Baiklah, aku mengalah. Lagi pula aku ini tamu di sini.
“Bro, Daffin kayaknya aman-aman aja.” Bisikku.
“Tapi, itu dia kayaknya gak paham deh apa yang di omongin Alice.” Bisik Rey yang sudah mendekat di sampingku.
Sekilas aku melirik si manis yang belum aku ketahui namanya. Dia melihat kami dengan tatapan aneh. Aku langsung menjauh dari Rey. Jaga jarak dong sama Rey. Ntar di kira apa-apa lagi.
__ADS_1
“Kenapa?!” Seru Rey.
“BAU! Belum sikat gigi ya.”
Rey langsung menutup mulutnya. Dia terlihat salah tingkah. Apa dia memang belum sikat gigi? Ih jorok. Tapi, aku hanya menahan tawa melihat Rey yang sedang salah tingkah. Akhirnya dia memilih untuk bertukar tempat denganku. Kenapa gak dari tadi sih tukar tempat?
“Hai... namanya siapa?” Tanyaku tanpa basa basi.
“Nana kak.”
“Oh bagus namanya. Kamu satu kelas sama mereka?”
“Enggak kak, awalnya satu kelas. Tapi ada perubahan jadwal jadi pindah kelas.”
“Oh gitu.”
“Emmm... ka....”
Ucapanku terpotong, karena Daffin tiba-tiba berdiri. Berdirinya Daffin menyita perhatian Nana. Cewek di sampingku ini menatap Daffin dengan heran. Sebenarnya bukan Nana saja. Aku dan Rey juga heran kenapa Daffin berdiri.
“Udah selesai.” Daffin buru-buru menjawab dan pergi.
Apa?! Kok cepet banget dia kerja kelompoknya. Waktu berjalan begitu cepat, atau memang mereka yang kerja kelompoknya singkat? Reflek aku mencari ponselku untuk melihat jam sekarang. Tapi, belum sempat merogoh ke dalam tas Rey sudah menarikku.
“Ayoh!” Rey menarikku kasar kemudian berlari duluan menyusul Daffin.
Aku masih bingung dengan keadaan ini. Aku sempat menatap Nana dan Alice. Aneh, Alice terlihat kecewa. Sebenarnya apa yang terjadi? Rumit sekali sih Alice dan Daffin.
“Duluan ya Nana.” Ucapku sedikit berteriak.
Aku buru-buru menyusul kedua sahabatku yang sudah hilang dari area kafe. Mereka itu jalan kaki apa berlari sih? Baru beberapa menit sudah menghilang. Apa mereka hantu? Aku berlari kecil mengejar ketinggalan. Ternyata mereka tidak jauh. Aku pun langsung menyusul.
__ADS_1
Aku langsung menerobos jalan di antara Rey dan Daffin. Aku tatap mata Daffin. Dia terlihat datar seperti biasanya. Kemudian, aku menoleh ke Rey. Wajahnya terlihat menyebalkan karena kami tidak sengaja saling menatap mata.
Duh, kenapa sih dari tadi Rey seperti itu kepadaku. Jijik bro! Aku segera membuang muka menatap ke lurus ke depan.
“Kita balik ke kos tanpa beli makan siang gitu?” Ucapku.
“Mampir nasi padang lah.” Sahut Rey.
“Kalian aja makan di sana, aku bungkus aja makan di kosan. Capek!” Daffin semakin ketus.
Wah sepertinya ada seseorang yang akan meledak. Siapa lagi jika bukan Daffin. Aku dan Rey saling memberi sinyal.
“Oke kita bungkus.” Ucap Rey.
***
Akhirnya kami sampai di tempat kos.
Aku dan Rey ke dapur umum untuk mengambil piring. Aku sengaja mengajak Rey. Bukan karena takut, tapi karena ingin berbicara sesuatu dengan anak ini.
“Bro! Dari tadi Daffin diem mulu. Mana kerja kelompok cepet banget. Gak sampai lima belas menit loh tadi.”
“Capek-capek jalan ke sana eh cuma gitu doang. Tau gitu kita tunggu Daffin di kos aja.”
Aku meluapkan semua kekesalanku ke Rey. Dan Rey merespon dengan tenang sambil mengambil piring dan sendok.
“Kita tadi udah lihat kan gimana keadaan Daffin sama Alice pas ketemu. Mereka terlihat canggung, dan pas pertama ketemu si Alice kelihatan galak banget tuh. Dan lagi, Daffin tuh gak paham apa yang di bicarain Alice. Orang dia gak konsen gitu.”
Seketika aku teringat momen di mana Rey berbisik kepadaku. Aku langsung merinding mengingat momen menyebalkan tadi. Jujur, aku tadi tidak memperhatikan Daffin setelah aku duduk, aku lebih fokus ke Nana si manis teman Alice itu.
“Nanti kita tanya pelan-pelan.”
__ADS_1
“Gak usah. Urusan dia. Makan dulu yang penting.” Ucapku.
Aku ingin memastikan terlebih dahulu apa yang membuat Alice terlihat kecewa. Aku belum ingin membicarakan apa yang aku lihat saat sebelum pergi dari kafe tadi. Aku mengambil piring dan sendok membawanya pergi ke kamar. Aku sudah sangat lapar dan ingin segera pulang. Hari ini terasa cukup berat bagiku.