
Sampai rumah aku langsung di antar ke kamar oleh kedua sahabatku. Arin dan Nana. Syukurlah aku sudah membersihkan kamar ku minggu lalu. Jika tidak aku akan malu karena sahabatku mengetahui bagaimana keadaan kamarku yang acak-acakan.
“Alice kenapa?” Tanya ibuku.
“Pusing katanya buk.” Ucap Nana.
“Owalah. Sudah makan belum?”
“Belum.” Jawabku lemah.
Kemudian ibuku pergi entah kemana meninggalkan aku dan kedua sahabatku di kamar. Arin dan Nana terlihat khawatir dan ekspresi aneh. Aku hanya tersenyum melihat mereka. Wajah mereka terlihat lucu saat ini.
Wajah mereka terlihat lucu karena aku tau. Mereka pasti memikirkan bagaimana cara mereka pulang. Selama di perjalanan aku bisa membaca ekspresi mereka satu sama lain. Mereka merasa tidak nyaman jika pulang bersama Daffin dan teman-temannya.
“Kalian balik kampus bareng Daffin?” Tanyaku.
“Nah itu dia. Gak enak Al kalau balik kampus sama mereka. Takut di kira aneh-aneh sama anak-anak.” Ucap Nana.
__ADS_1
Padahal aku tahu jika Nana sebenarnya sering salah tingkah saat berdekatan dengan kak Rey. Entah sejauh mana hubungan mereka. Yang pasti ada sesuatu diantara mereka.
“Iya, nanti cowokku mikir apa coba? Kita naik mobil online aja lah ya.” Ucap Arin.
“Boleh tuh.”
“Terima kasih ya udah repot-repot antar sampai rumah.”
“Ehh? Kaya sama siapa aja.” Ucap Nana.
“Nah tuhh.” Arin menyahut.
“Makan dulu. Terus minum obat. Pasti kecapekan kerja kuliah ini.”
“Iyaa.” Aku menjawab malas.
“Ya sudah buk. Kami pamit pulang.” Ucap Arin.
__ADS_1
“Loh Arin, Nana kok langsung pulang. Makan siang dulu ya, sama mas- mas di depan tadi.”
“Oh gak usah bu. Gak usah repot-repot. Kami jam satu ada kuliah lagi soalnya.”
Aku tau Arin berbohong. Aku hanya diam sambil menyantap makananku. Akhirnya ibuku meloloskan mereka dan mengantar mereka keluar. Kedua sahabatku pun pergi meninggalkan aku di kamar sendirian. Entah bagaimana mereka setelah ini? Besok saja lah aku bertanya.
Badanku sudah terasa tidak nyaman sejak pagi. Tapi aku tetap memaksakan kuliah. Oh iya, aku harus minta ijin tidak masuk ke dosenku di jam kuliah selanjutnya. Aku meraih ponselku dan langsung mengirim pesan ke dosenku.
“Selesai.”
Kemudian, aku lanjut makan. Baru saja beberapa suap ibuku sudah mengomel. Ibuku pikir aku tidak makan. Tapi, aku makan hanya lambat saja karena tidak napsu. Akhirnya ibuku masuk dan langsung menyuapiku. Setelah itu aku minum obat dan mulai bersiap untuk tidur.
Aku berbaring di atas kasurku menatap langit-langit kamarku. Aku masih penasaran saat kuliah tadi. Kenapa tiba-tiba pak Budi bertanya seperti itu? Apa yang Daffin katakan selama aku belum datang tadi?
Setelah dari kamar mandi, tadi aku langsung menuju bangku ku. Ketika aku menyadari Daffin dan tugas ku tidak ada di tempatnya aku tau jika Daffin sudah di depan untuk presentasi. Aku buru-buru menghampri Daffin. Aku melihat perubahan ekspresi pak Budi yang aneh.
Setelah aku duduk di dekat Daffin ternyata Daffin sudah mulai presentasi. Aku duduk di sebelahnya menunggu giliranku presentasi bagianku. Selama menunggu aku memperhatikan ekspresi pak Budi lagi. Aneh, sekarang terlihat seperti biasanya.
__ADS_1
“Ah tauk lah. Gak peduli lah tadi Daffin mau bilang apa? Toh penting tugasnya baik-baik saja.” Kesalku dan aku tertidur.