Kupu-Kupu Kampus

Kupu-Kupu Kampus
Daffin


__ADS_3

Aku segera meluncur ke tempat, berharap mendapat pencerahan dari Alice. Aku meninggalkan Rey dan Burhan di kosku. Namun ternyata mereka menyusulku.


Begitu sampai di kafe aku melihat dari kejauhan, mendadak aku lupa wajah Alice. Berhenti sejenak menatap satu persatu gazebo yang terisi. Dan aku rasa Alice tidak ada di kafe ini. Oh ada satu gazebo yang berisi dua orang, tapi satunya membelakangi arah datang kami. Dia sedang melihat sawah di belakang kafe ini.


Mungkinkah itu Alice? Aku coba memastikannya. Aku berjalan perlahan menghampiri gazebo itu dengan rasa penasaran. Saat aku sampai di depan gazebo itu tiba-tiba ada kejadian mencengangkan.


Cewek yang sedang menghadap sawah itu, tiba-tiba mencengkram kuat tangan cewek lain dengan kuat hingga merintih kesakitan. Apa mereka sedang bertengkar?


“Eh mbak?!” seruku.


Dan ternyata cewek yang melihat sawah tadi adalah Alice, oh dugaanku benar. Namun, kenapa Alice melakukan itu ke temannya? Cukup mengagetkan, tapi yah dia juga mengelus-elus tangan temannya yang dia cengkram tadi. Aku menghembuskan napas lega karena tidak terjadi pertengkaran.


Tiba-tiba temannya Alice memutar paksa kepala Alice hingga menatapku. Aku langsung memalingkan wajah ke teman Alice.


“Gak apa-apa mbak? Tadi kayaknya kesakitan?”


“Gak apa-apa kok kak Daffin.” Jawabnya lirih.


“Oh....”


Tunggu dia tau namaku? Apa aku sangat populer? Ah ini membuatku semakin besar kepala. Stop! Aku kesini untuk kerja kelompok bukan untuk tebar pesona.


Aku pun menatap Alice dengan senyuman yang kaku karena aku memaksakannya. Dia kini menatapku datar. Dia memang cewek aneh, dia yang memintaku datang kesini tapi dia juga yang jutek.


“Jadi kelompok?” Tanyaku mengalah.


Dia diam sejenak, sepertinya berpikir. Hah... sungguh aneh sekali cewek ini? Aku menyesal datang ke mari.


“Emmm... jadi, tapi aku gak bawa laptop. Cuma bawa flashdisk.” Jawabnya cukup lembut.

__ADS_1


Oh dia juga bisa lembut juga. Untung saja aku membawa laptopku.


“Aku bawa kok.”


Alice pun menggeser duduknya. Aku langsung menaruh tas laptopku di sana. Saat aku membuka tas itu, sempat aku melirik Alice.


“Naik aja ke gazebo.” Ucapnya sambil mundur, memberiku cukup ruang untuk duduk.


Dia juga bisa ramah, tapi kenapa aku masih kesal dengan wajahnya. Jujur wajahnya itu cocok sekali memerankan tokoh antagonis level maksimal. Tatapannya itu tajam banget. Aku langsung membuka laptopku dan menunjukkan paperku.


Alice melihatnya dengan seksama. Dia mengangguk, dan menunjukkan flashdisknya memintaku untuk menancapkannya ke laptopku. Kapan dia mengambil flashdisk itu? Cepat sekali tangannya.


Aku mengambil flashdisk itu dan menancapkannya ke laptopku. Membuka satu persatu folder di dalamnya. Foldernya cukup banyak. Aku bisa memperkirakan jika flashdisk ini sama sekali belum pernah di kosongkan. Terlihat jelas dari nama foldernya semester satu sampai semester empat. Dan ketika membuka folder semester empat masih ada folder lagi sesuai dengan nama mata kuliah.


Hah... ternyata tidak hanya aku saja yang malas mengosongkan isi flashdisk. Masih ada orang yang sama sepertiku.


“Jadi yang ini salah?” Ucapku sambil menunjukkan papernya yang dulu.


“Iya.”


Oh mungkin ini alasan dia mengajak ku kerja kelompok dadakan. Karena ternyata dia merevisi papernya. Kemudian, dia meminta ijin kepadaku untuk meminjam laptopku untuk merubah paper ku.


Jelas aku melarangnya, aku membuka halaman baru dan memintanya untuk copy paste di sana. Aku takut jika dia copy paste di paper ku, itu bisa membuat paperku berantakan. Karena di paperku ada beberapa gambar yang di gunakan sebagai contoh pembahasan soal.


Alice menurut, dia melakukan apa yang aku minta. Kemudian, gantian aku yang copy paste paperku ke halaman baru. Benar sesuai dugaanku, gambarku menjadi kocar kacir di halaman lain. Segera aku mengeditnya.


Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku hingga tidak memperhatikan Rey dan Burhan. Saat aku masih asik mengedit tiba-tiba Alice berbicara lirih.


“Kayaknya kesulitan ya kerjain papernya?” Tanyanya lirih.

__ADS_1


Deg!


Jantungku berdebar kencang. Suaranya lirih dan lembut membuatku terprsona sesaat. Eh eh gak gak. Rasanya suaranya yang lirih tadi sudah seperti suara hantu yang mengerikan. Aku juga merasakan aura gelap datang dari Alice. Cukup membuatku merinding.


“Enggak kok.” Jawabku berusaha tegas meski sebenarnya aku masih belum paham.


“Emmm.” Jawabnya singkat tapi bisa membuatku sesak napas.


Aku sudah tidak nyaman berada di sini. Aku harus segera pergi. Toh kebutuhan dia cuma perbaiki papernya yang barusan di revisi kan? Oke, aku harus segera menyelesaikan sesi editing dan pulang kembali ke kos.


Tidak butuh waktu lama, paper sudah rapih kembali. Aku menunjukkan sekilas hasil editan ku. Alice menatapnya, kemudian dia scroll ke atas dan kebawah. Melihat keseluruhan paper kami. Kalian tau? Rasanya sekarang seperti sedang berada di dekat dosen killer. Sudah matanya tajam, gak banyak bicara, terus auranya bikin orang merinding.


“Oke, siap.” Ucapnya.


“Ya udah, cuman gitu aja kan. Aku balik dulu ya.”


“Beneran nih gak kesulitan kerjain papernya?” Tanya nya kepadaku sekali lagi dengan tatapannya yang tajam dan mengerikan.


Duh ni cewek tu cewek apa kuntilanak sih? Siang bolong gini bikin orang ketakutan merinding, matanya juga itu. Bikin aku pengen tutupi pakai kacamata kuda.


“Gak.”


Kemudian, aku mematikan laptopku dan pergi meninggalkan kafe itu. Aku mengajak Burhan dan Rey yang sudah duduk manis di dekat teman Alice.


“Kenapa bro?” Tanya Rey.


“Udah selesai.”


Aku pergi duluan meninggalkan mereka. Tidak lama Rey menyusulku. Dan seperti biasa Burhan ketinggalan. Di tengah perjalanan ke kos. Burhan meminta untuk mampir ke rumah makan padang. Aku sedang tidak mood untuk makan di sana. Aku ingin segera pulang ke kosku.

__ADS_1


__ADS_2