
“Eh? Ada apa nih kok rame-rame?” Tanyaku pada Lintang dan Arin.
“Gak tau.” Jawab Lintang dan Arin kompak.
“Uuuuhhh.” Aku mengejek mereka.
Siang ini seperti biasa kami berkumpul untuk melepas penat. Di tempat biasa juga, di taman dekat kampus. Karena aku hari ini keluar duluan. Maka aku langsung pergi mencari tempat teduh. Di awal perkuliahan yang masih tiga minggu ini. Biasanya spot spot taman mulai penuh akan mahasiswa/mahasiswi yang berjubel ingin berteduh sambil mengerjakan tugas.
Aku datang duluan, kemudian di susul Lintang dan Arin. Alice dan Helly sepertinya akan menyusul. Dari kejauhan aku melihat ada ramai-ramai. Aku, Lintang dan Alice penasaran. Tapi kami tidak mau pindah dari gazebo ini. Takut nanti di pakai orang.
Kemudian, mataku menyipit. Mencoba fokus ke sosok yang datang ke mari. Oh ternyata dia adalah Helly. Ku lihat dia sempat melirik ke arah yang ramai itu. Kemudian, dia berlari kecil menghampiri kami. Ada apa? Apa yang Helly lihat. Sampai di gazebo Helly kehabisan napas. Kami buru-buru menyuruhnya mengatur napas.
“Ada apa sih?” Tanyaku khawatir.
Helly terlihat masih mengatur napasnya. Setelah merasa baikan dia langsung bercerita.
“Tadi, aku kan lewat di gerombolan itu. Ternyata mereka lagi kerja kelompok praktik permainan itu, buat kelas yang mata kuliahnya isinya buat mainan anak-anak. Kuliah kita semester kemarin.”
“Iya, ingat. Terus kenapa kamu lari?” Arin bertanya.
“Karena gosip tentang Alice. Awalnya aku gak tertarik. Tapi pas dengar nama Alice di sebut. Telingaku langsung mendengar percakapan mereka. Mereka tuh pada jelek-jelekin Alice karena gak sopan panggil kak Daffin tanpa ada ‘kak’ nya.”
__ADS_1
“Mereka kan anak semester dua? Kok tau kalau Arin panggil kak Daffin gitu?” Lintang semakin antusias.
Aku hanya diam. Tau, memang Alice memanggil Daffin dengan namanya saja. Tanpa ada embel-embel kak. Lalu apa masalahnya? Kenapa sih orang-orang semakin ikut campur urusan Alice? Aku jadi semakin gak suka sama Daffin deh.
“Aku tau itu. Aku dengar dari teman ku satu kelas tadi. Memang katanya Alice tadi panggil Daffin gak ada embel-embel kak sih. Aku heran, emang kenapa toh beda usia cuma satu atau dua tahun aja. Tapi mereka heboh sama kayak gosip itu. Bilang gak sopan. Tapi aku gak nyangka aja. Siang ini sudah sampai ke mahasiswa semester dua. Banyak banget sih fansnya Daffin.” Oceh Arin panjang lebar.
Sepertinya Arin mulai kesal juga terhadap fans Daffin yang berlebihan itu. Semenjak kejadian minggu lalu, aku memang memilih untuk tidak fans dengan Daffin. Dia itu terlihat sombong dan menyebalkan saat kelompok dengan Alice kemarin. Gini kali ya kalau jadi artis gerak dikit di komen, salah dikit di komen. Memang paling enak jadi orang biasa.
Tanpa kami sadari Alice sudah datang di dekat kami. Wajahnya terlihat lelah dan lesu. Reflek aku menyenggol Lintang yang duduk di sampingku. Seketika Lintang memanggil nama Alice keras.
“Alice!”
“Hmmm.” Alice hanya berdehem dan semua pun diam.
Seketika aku, Lintang, dan Arin menatap Helly. Tidak biasanya Helly seperti ini. Biasanya dia jarang ikut dalam percakapan. Hanya iya iya saja dengan apa yang sedang kami bahas. Helly sungguh berbeda.
“Al, duduk dulu sini sini. Kita makan. Sini.” Seperti biasa, Lintang yang tidak enakan menggeser tempat duduknya agar Alice duduk tempat di sampingku dan tidak berhadapan dengan Helly. Tapi upaya itu gagal. Helly semakin mendesak. Ada apa sih dengan dia?
“Al itu bener?” Helly mulai menggebu.
Aku melirik sekilas Alice. Kemudian, ku tatap Lintang dan Arin. Mereka sama-sama terlihat pasrah dengan tingkah Helly.
__ADS_1
“Iya. Emang kenapa?” Ucap Alice datar.
“Wah?! Keren! Bagus.”
Hah? Aku tidak percaya Helly bilang seperti itu? Ada apa dengannya hey? Kemana Helly yang biasanya hanya iya iya saja itu? Ku lihat Alice hanya tertawa kecil dan mulai memakan camilan yang di bawa dari rumah. Roti gulung sosis, selada, dengan saus mayo dan saus pedas.
“Mau?” Alice menawarkan.
Alice memang selalu membawa makanan lebih untuk di bagikan. Aku juga penasaran kapan dia bisa membuat ini padahal dia sudah sibuk bekerja sambil kuliah.
“Lanjutkan Al. Aku mendukungmu.” Ucap Helly sambil mengambil camilan dari Alice.
Lagi lagi, aku Lintang dan Arin tidak percaya dengan perubahan Helly. Dia sangat antusias mengenai hal ini.
“Kenapa sih Ly? Semangat banget.”
Ah, akhirnya Alice bertanya, Batinku.
“Iya tuh gak biasanya.” Aku menimpali.
“Gak, Aku cuma gregetan sama si dia tuh. Awalnya aku fans sama dia. Tapi waktu tau gosip story Whatsapp itu. Aku langsung gak respect sama dia. Cuma gitu aja, semua heboh.”
__ADS_1
“Oh, pantas saja tadi semua orang menatapku waktu aku memanggil nama Daffin.” Ucap Alice dan mulai bercerita.
Dan Alice pun mulai menceritakan semua. Kami mendengar dengan seksama. Aku hanya bisa menahan tawa. Tidak percaya hubungan Alice dan Daffin bisa begitu rumit. Jujur aku penasaran dengan akhir mereka. Tapi, dia sahabatku. Tidak mungkin aku menertawakan dia. Ah aku sangat penasaran akhir kisah ini.