Kupu-Kupu Kampus

Kupu-Kupu Kampus
Alice


__ADS_3

Sore hari di kafe dekat sawah yang sedang hits di kampus. Aku sudah duduk di gazebo yang super nyaman. Aku menunggu kedatangan Daffin. Selain menitipkan pesan ke kak Burhan, aku tadi pagi juga sudah mengingatkan Daffin untuk menemuiku di sini. Kebetulan hari ini ada yang tukar libur denganku makanya aku bisa menemui Daffin sore ini. Karena aku harus mengembalikan kertas absensi ini besok Rabu waktu kuliah kelas pak Budi.


Aku juga sudah mempersiapkan paper yang harus Daffin tanda tangani. Selain minta tanda tangan aku juga akan meluapkan semua kekesalanku kepadanya. Aku sudah berniat dari kemarin dan sudah mempersiapkan diri. Semoga saja dia tidak main kasar.


Aku sengaja memilih tempat yang ramai ini agar Daffin tidak macam-macam. Kenapa aku seberani ini? Ya karena aku tidak terima di kasihani oleh Daffin seperti yang di katakan oleh pak Budi kemarin. Selain itu aku juga ingin memastikan ucapan pak Budi kemarin.


Tidak lama kemudian, Daffin datang. Dia datang dengan santainya. Tapi aku sudah meluap-luap. Ingin sekali rasanya memukulnya dengan sepatuku. Gemas melihatnya berjalan seperti tidak bersalah. Padahal dia juga tau kalau belum tanda tangan sehingga membuatku mencarinya hanya untuk tanda tangan.


Omong-omong sebenarnya pak Budi sudah meminta yang lain seperti Fina dan Mira tapi keduanya tidak mau. Alasan mereka karena bukan kelompok asal. Padahal mereka bilang kepadaku jika malas berhubungan dengan Daffin.


“Ada apa?” Tanya nya dingin.


“Nih, belum tanda tangan. Sekalian absensinya.” Ucapku tak kalah ketus.


Daffin langsung menandatangani semuanya. Kemudian, dia beranjak pergi. Tapi aku menahannya dengan menarik kencang jaketnya. Reflek dia menoleh dengan tatapannya yang menyebalkan.


“Ada apa?”


“Kata pak Budi, kamu kasihan sama aku karena aku kuliah sambil kerja. Terus itu jadi alasan kamu gak pernah tanya ke aku. Bener gitu?” Tanyaku penuh selidik.


“Ya.”


Dia menjawab dengan singkat dan hendak beranjak pergi lagi. Lagi-lagi aku menarik jaketnya kuat hingga dia hampir terjungkal. Kenapa sih gak terjungkal sekalian biar dia malu di lihat banyak orang di sini?

__ADS_1


“Kenapa lagi?” Tanyanya lembut.


Aku sempat bengong, ini Daffin atau bukan? Iya Ini Dafiin. Lihat cara matanya yang malas menatapku .Langsung saja aku menyuruhnya duduk dulu. Dia pun menurut, mungkin dia takut dengan tatapanku yang lebih tajam dua kali lipat dari biasanya. Jujur aku sudah tidak tahan dengan sikapnya. Aku penasaran, ada masalah apa sih dia sama aku? Aku merasa tidak pernah berbuat buruk kepadanya. Tapi dia selalu membuatku dalam masalah.


Malahan seakan-akan seluruh isi kampus mengenalku hanya karena story whatsapp nya yang dulu. Iya, story whatsapp yang bilang kalau dia gak bisa dan gak ada yang mau ngajarin dia. Tapi, lambat laun orang-orang yang mengenalku menjadi kasihan kepadaku. Kalian tau lah apa sebabnya. Karena ternyata Daffin orangnya menyebalkan.


Bukan aku yang menyebarkan gosipnya. Mungkin itu ulah Fani atau malah teman-teman dekatku tempat ku mencurahkan semua amarahku ke Daffin. Entah dari mana itu aku tidak peduli. Sekarang waktunya menyelesaikan semua.


“Aku punya salah apa sih sama kamu. Daffin?”


Ini pertama kalinya aku menyebut namanya setelah beberapa minggu. Jujur aku tidak sudi menyebut namanya, jika tidak terpaksa. Aku selalu memanggilnya dengan kata ‘heh’ atau ‘eh’. Jika tidak begitu aku memanggilnya dengan menyenggol bahunya.


Daffin terdiam, dia yang tadi nya datar-datar saja, berubah menjadi mengerikan. Mungkin ini ekspresi mode seriusnya. Jujur aku takut, tapi aku ingin menuntaskan semua sekarang. Aku tidak mau ada gosip-gosip lagi. Apalagi simpati dari teman-teman yang selalu mengatakan ‘sabar ya alice’.


Bukannya menjawab dia malah balik tanya. Benarkan, dia sungguh menyebalkan. Aku menarik napas panjang berusaha mengontrol diri. Oke, mungkin aku harus mengungkapkan unek-unekku dulu. Masalah dia terima atau tidak? Dia mau memberi feedback atau tidak? Aku tidak peduli.


“Kamu, awalnya udah nyebelin. Kamu kayak males gitu satu kelompok sama aku. Kamu tuh sukanya sama yang good looking aja ya? Iya kan? Hah? Sok ganteng.” Ucapku ketus.


“Apa?” Teriak Daffin.


Nyaliku langsung menciut begitu saja. Tubuhku mulai bergetar, kurasakan panas dan dingin bersamaan. Oh tidak dia akan marah sekarang? Ini sudah terlalu terlambat untuk mundur. Aku takut.


“Kamu juga, awalnya juga nyebelin. Matamu itu loh. Biasa aja bisa gak? Mana sok jual mahal. Duduk deket dikit aja menjauh.” Jelasnya.

__ADS_1


“Aku sok jual mahal? kapan?”


“Waktu itu pas aku mau lihat materi di HP.”


“Oh itu, ya kamu kedekatan sih. Sorry, aku bukan tipe orang yang nyaman-nyaman aja di deketin cowok, entah cowok itu ganteng atau gak!”


Yah, sekarang nyaliku mulai kembali karena dia mengatai aku sok jual mahal. Padahal wajar dong kalau cewek menjaga dirinya dari cowok. Apalagi cowok yang baru di kenal. Daffin pun diam tak berkutik.


“Oh iya, tau gak. Temen-temen tuh gak suka kalau kamu sok bisa. Kita tuh tau kalau materinya itu sulit. Jadi kalau gak bisa ya tanya aja. Gak usah diem aja. Kita pusing revisi papermu yang amburadul itu.” Jelasku dengan cepat seperti rapper.


Lagi-lagi Daffin terdiam. Dan aku merasa menang. Padahal entah apa yang ada di pikirannya. Aku tidak peduli. Yang penting sekarang aku melepaskan semuanya.


“Dan lagi, gara-gara kamu. Beberapa mahasiswa/mahasiswi dosen kampus tau aku. Aku gak suka itu, aku gak suka menjadi pusat perhatian.”


“Sekarang, apa sih masalahmu ke aku. Kita selesaikan sekarang. Dua minggu lagi mau UAS. Kalau kamu masih seenaknya sendiri. Aku, Fani dan Mira juga bakalan seenaknya sendiri buat kumpulin projek UAS.”


Daffin kelihatannya sudah mulai marah. Otakku langsung mengingat kejadian di kelas dimana semua mata tertuju kepadanya ketika dia mengeluarkan kata-kata kasar. Jujur aku takut sekarang, tapi aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak sendirian. Bahkan aku juga melihat ada motor kak Burhan dan kak Rey di sini.


Dan aku sebenarnya  tidak sendirian, aku juga tahu jika ada Lintang, Nana, Helly dan juga Arin di gazebo lain. Aku tau meski mereka sekarang sedang menyamar. Aku tidak mungkin tidak bisa mengenali sahabatku. Yah, aku yakin aku akan baik-baik saja. Ini demi selesainya permasalahanku dengan Daffin. Selain menyelesaikan permasalahan ini. Itu juga membuat image Daffin yang buruk akan membaik.


Eh tidak, itu jika Daffin tetap mau berbicara secara baik-baik. Kalau dia mulai kasar lagi, entah apa yang akan ada di pikiran mahasiswa/mahasiswi yang ada di kafe ini. Yah, kebetulan di kafe ini di penuhi mahasiswa dan mahasiswi kampusku sore ini. Alam memang mendukungku.


“Permasalahannya, matamu yang tajam itu membuatku malas. Lalu....” Ucap Daffin terpotong.

__ADS_1


__ADS_2