
Aku sedang menikmati makan malamku sambil menonton film bersama Rey dan Burhan. Kami menonton melalui palform film secara legal. Kos-kosanku juga memiliki pemancar WIFI yang kencang jadi tidak masalah jika kami menonton film di sini. Saat asik menonton tiba-tiba ada pesan masuk di ponselku. Aku terbiasa langsung melihatnya karena takut jika nanti ada pesan dari pegawai kafeku. Dan ternyata dari nomor tidak di kenal dengan foto profil pemandangan.
^^^[Siapa?]^^^
[Alice]
Ah ternyata dia yang mengirim pesan. Malam-malam begini dia tiba-tiba bertanya tentang RPP. Hah... menggangu saja. Sepertinya dia anak yang ambisius. Dan aku menjawab seadanya saja. Hingga akhirnya dia mengirimiku PDF jadwal kuliahnya. Sampai segitunya anak ini? Jangan-jangan dia suka aku? Duh gak level sama anak seperti dia. Jutek gitu.
“Kenapa bro? Sibuk banget sama HP?” Tanya Burhan.
“Gak apa-apa.”
“Biasalah bisnis kali.” Sahut Rey.
“Santai bro! Nikmati masa muda.” Ucap Burhan sambil menepuk pundakku.
Aku hanya diam. Tidak mau menjawab yang jujur. Kalau aku jawab pasti mereka akan mengolok-olokku. Aku lanjut membalas pesan Alice. Oh ternyata benar, dia bekerja sambil kuliah. Kasihan sekali dia. Pasti dia lelah. Aku gak mau menggangu dia. Dia pasti tidak punya cukup waktu untuk istirahat.
[Ada. Hari Rabu.]
[Tapi hari Rabu aku kuliah dari pagi sampai sore.]
__ADS_1
[Aku kalau Rabu kuliah pagi doang.]
Tuh kan, di hari liburnya saja dia mengisi waktu dengan kuliah dari pagi sampai sore. Kasihan sekali dia.
[Gitu ya, kalau jam 12 bisa?]
[Waktu istirahat]
“Hah?” Aku berseru.
“Kenapa sih Daf?” Ucap Rey dan Burhan menoleh. Sepertinya akku menggangu mereka menonton.
“Enggak-enggak.”
Aku memilih menolak meski aku bisa. Dan akhirnya kami bersepakat kerja kelompok melalui chat saja. Itu lebih baik. Dan juga, dengan begitu aku tidak melihat wajahnya yang jutek itu. Aku sangat malas melihat tatapannya yang tajam seperti hantu itu.
Tapi, jika di pikir ulang. Wajahnya tidak sejutek itu sih. Meski tatapan matanya tajam.
Eh??? Kok aku mikirin dia? Sadar!
Plak!
__ADS_1
Aku memukul pipiku sendiri.
"Anda sehat? " Tanya Burhan.
"Sehat."
"Sungguh? " Tanya Rey.
Apa apaan sih mereka berdua itu? Aneh? Bisa bisa berbicara dengan bahasa seperti itu?
Aku tidak menghiraukan mereka. Langsung saja aku menatap layar laptopku. Tapi dari ekor mataku terlihat samar. Burhan dan Rey sedang tertawa kecil, membuatku emosi.
"Apa sih?! "
"Ciyee dapet pesan dari mbak Al ihuu." Oceh Burhan.
Sudah ku duga, pasti dia diam diam mengintip pesanku tadi. Dasar Burhan, sulit sekali menjaga privasi darinya. Aneh, cowok kayak gitu kok banyak yang kepincut?
"Diem atau aku matiin laptopnya." Ucapku tegas.
"Oke oke oke. Santai bro! " Burhan akhirnya diam.
__ADS_1
Ingin sekali aku jitak kelapanya itu. Tapi ini sudah malam. Aku tidak ingin membuat gaduh hingga nanti aku di tegur oleh ibu kosku yang cukup galak. Kenapa aku bisa bersahabat dengan mereka?