Kupu-Kupu Kampus

Kupu-Kupu Kampus
Nana


__ADS_3

Flashback.


Siang hari aku, Lintang, Hely dan Arin berkumpul di taman dekat kampus. Yah, kami berkumpul tanpa ada Alice. Kami sedang merencanakan sesuatu untuk melindungi teman kami, Alice.


“Hai....”


Oh siapa itu? Sepertinya aku mengenal suaranya. Oh benar, itu sura kak Rey. Duh kenapa sih sekarang setiap ketemu kak Rey jantungku berdebar kencang? Dan kenapa kami bertemu di sini?


“Hai kak.”


“Siapa Na?” Tanya Lintang.


“I-itu....”


“Kak Burhan? Si playboy kampus yang terkenal. Wihh Nana bisa kenal sama kak Burhan juga.” Sahut Arin dengan santainya. Kadang dia sadar gak ya? Kalau omongannya itu uhh...


Lintang dan Hely menatapku dengan tatapan aneh. Aku tidak suka ini. Kenapa sih Arin bicara seperti itu? Meski itu fakta, tapi rasanya aneh kalau di katakan langsung. Terlebih orangnya sedang berjalan kemari.


“Hai Nana.” Teriak kak Burhan.


Aku hanya bisa tersenyum. Ku lirik Lintang dan Hely yang masih dengan tatapan yang sama. Duh, tolonglah jangan seperti itu. Aku tidak suka di tatap seperti itu. Kemudian, ku tatap kembali dua cowok yang berjalan ke arahku. Oh kenapa wajah kak Rey berubah? Tadi dia terlihat riang gembira, tapi sekarang cemberut.


“Kita ketemu disini. Weh dunia memang sempit ya Na.” Ucap kak Burhan yang sudah berdiri di depan kami.


“Iya kak.”


“Boleh duduk?”


“Boleh.”


“Ehem ehem!”


Arin berdehem yang di paksakan. Aku mengangkat kedua alisku. Itu isyarat untuk bertanya ada apa? Arin melirik ke arah Lintang dan Hely. Oh aku paham apa yang ingin di katakan. Dia tidak mengizinkan kak Burhan dan kak Rey di sini.


“Emmm... Maaf ya kak, kita mau kerja kelompok.” Ucapku bohong.


“Oh bagus, kita bisa bantu.” Jawab kak Burhan yang tidak peka.


Aduh, harus bagaimana lagi nih? Aku menatap Arin meminta pertolongan kepadanya. Sedangkan Arin memasang wajahnya yang datar. Aku menghela napas panjang.


“Kita ganggu ya?” Tanya kak Rey.


Syukurlah kak Rey peka. Aku tersenyum canggung dan di balas senyum manis oleh kak Rey. Duh! Jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya. Tanganku mulai terasa dingin dan berkeringat. Meleleh rasanya.


“Ya udah, kita pergi dulu.” Ucap kak Rey.


“Eh! Kita kan bisa bantu mereka kerja kelompok.” Ucap kak Burhan. Batu banget ya nih orang? Eh kalau gak batu gak bisa deketin cewek dong ya?


“Kayak pinter aja! IPK cuma....”


Ucapan kak Rey terpotong karena mulutnya di bekap oleh kak Burhan. Ah membuatku penasaran berapa IPK kak Burhan. Kemudian, kak Rey di tarik paksa oleh kak Burhan menjauh dari gerombolan kami. Aku menahan tawa melihat kelakuan mereka. Lucu, terlebih kak Rey yang berusaha menoleh ke belakang entah mau melihat apa.


“Ehem! Ehem! Uhuk uhuk uhuk.”

__ADS_1


Nah, Arin pun berdehem sampai batuk batuk. Tinggal panggil nama aja susah. Kok pakai kode yang menyakiti tenggorokan. Aku melirik sinis si Arin sambil menawarkan air minum mineral.


Arin pun menyambarnya dan langsung meminum dengan rakus. Salah siapa sok sok an kode kayak gitu. Dasar si Arin. Lintang dan Hely pun ikut tertawa.


“Kalian malah ketawa ngelihat temennya susah. Uhuk uhuk.”


“Ututu nak, sini sini.” Ucap Lintang sambil mengusap usap punggung Arin pelan.


“Eh, ngomong-ngomong kita besok jadi mata-mata in Alice?” Tanya ku penasaran.


“Iya.” Jawab Hely yang kembali ke mode iya,iya


Yah, niat kami berkumpul memang untuk berencana memata-matai Alice. Sebenarnya, Alice tidak ingin kami ikut meski kami menawarkan untuk menemaninya ke kafe bertemu Daffin. Kami semua takut, jika terjadi apa-apa sama Alice mengingat gosip yang menyebar bahwa Daffin itu orangnya kasar.


“Jadi jelas.” Ucap Lintang tegas. Entah kenapa temanku yang ini terlihat tegas dan berwibawa sekarang.


“Eh tapi, kita ke sana jalan kaki aja. Cari gazebo yang sekiranya gak kelihatan dari luar. Biar nanti Alice gak tau keberadaan kita.” Sahut Arin.


“Iya, setuju.” Jawab Hely.


“Kenapa jalan kaki sih?” Tanyaku yang anti dengan jalan kaki.


“Ya kalau naik motor, nanti Alice tau motor kita terparkir di luar. Dia nanti marah kalau tau kita ikutin. Hadah! Nana.” Jawab Arin, yang tidak pernah slow.


Oke, kali ini aku yang salah. Aku terlalu egois dengan pemikiranku. Setelah itu, kami sudah memutuskan untuk ke sana satu jam sebelum Alice datang. Kebetulan aku dan Hely sedang kosong karena kelasnya di pindah jadwalnya. Dan Arin, dia membolos untuk sahabatnya. Lagian dia tipikal mahasiswi yang selalu mengambil jatah 3 absensinya, seperti yang lain.


***


Hari itu pun tiba. Kami benar-benar datang satu jam sebelum Alice datang. Jalan kaki, kami memilih tempat gazebo yang cukup tersembunyi. Begitu menemukannya kami langsung ke sana buru-buru. Takut di ambil orang tempatnya.


Tidak lama kemudian, Arin dan Hely datang bersamaan dengan kak Rey dan kak Burhan. Oh tidak kenapa kak Rey terlihat keren sekali dengan setelan kaos hitam, jaket jins dan celana hitam dan. Belum lagi rambutnya yang basah entah kenapa?


Jantungku berdebar lagi. Kali ini berdebarnya lebih kencang dari kemarin. Reflek aku menyentuh dadaku, kurasakan nafasku tidak beraturan. Aku merasakan panas dingin bersamaan.


“Eh, gabung dong. Kita juga mau ngintai Daffin nih.” Ucap kak Rey.


Duhhh meleleh aku mendengar suara kak Rey yang semakin keren. Ada apa ini? Terus, kak Rey tersenyum manis sekali. Ah... jantungku benar-benar berdebar kencang. Semoga aku tidak ketara.


“Kakak siapa?” Tanya Lintang polos. Padahal kemarin dia ketemu loh sama kak Rey. Tapi emang kak Rey yang ini beda lebih ganteng. Aduuhh....


Oh iya, Lintang belum kenal siapa mereka. Kemudian, aku memperkenalkan mereka. Lintang berjabat tangan dengan kak Rey. Jantung yang tadi berdebar kencang perlahan berubah. Tiba-tiba aku merasakan sesak napas. Dadaku terasa nyeri melihat kak Rey dan Lintang bersalaman.


“Jangan lama-lama, gantian.” Ucap kak Burhan menyerobot.


Oh untuk semetara aku terselamatkan oleh kak Burhan. Jujur, sekarang aku gak bisa menyembunyikan perasaanku. Aku sekarang sedang cemberut dan membuang muka.


“Udah jangan cemberut Na. Nih nih nih.” Ucap kak Burhan sambil mendorong kak Rey mendekat ke arahku.


Seketika aku salah tingkah. Ku lihat Lintang, Arin dan Hely menatapku dengan tatapan mengejek. Eh! Ini bukan waktunya untuk cinta-cintaan. Sekarang waktunya untuk sembunyi agar bisa mengintai Alice.


Beberapa menit berlalu. Alice datang, kami membelakangi jalan masuk. Berpura-pura sedang menatap sawah yang hijau. Kemudian, kak Burhan mengintip dan mencari dimana Alice duduk. Kami pun mulai mengintai dari kejauhan. Dan syukurlah, perlahan jantungku berdetak normal meski kak Rey duduk di sampingku.


Flasback End.

__ADS_1


***


Begitu kak Daffin pergi meninggalkan Arin. Kami bisa bernapas lega. Sekarang tinggal menunggu Alice pergi dan kami menyusul untuk pergi juga.


Namun, tidak di sangka ternyata Alice datang menghampiri kami. Ternyata dia menyadari kehadiran kami. Aduh malu rasanya, juga takut jika Alice marah.


“Hai... udah lama di sini?” Tanyanya dengan wajah aneh. Tidak datar, tidak terlihat marah, lebih ke sabar dan tersenyum? Aneh lah.


“Sini, sini duduk dulu Alice sini sini.” Ucap Lintang.


Kami semua khawatir dengan ekspresi Alice. Sejujurnya, Alice jarang menunjukkan ekspresi aneh seperti ini. Sepertinya tidak hanya kami sahabat Alice. Kak Burhan sepertinya juga khawatir. Sampai-sampai dia menatap Alice dengan serius.


“Gak di apa-apain sama Daffin kan?” Tanya kak Burhan.


Alice menggeleng sambil tersenyum. Duh, senyumnya bukannya bikin adem, malah bikin miris, dan semakin khawatir. Sebenarnya apa yang terjadi?


“Aku gak apa-apa udah.” Ucap Alice berusaha ceria.


Wah sepertinya, hanya kami yang bisa mengungkap ekspresi misterius ini. Dengan lembut, aku meminta kak Burhan dan kak Rey untuk pergi dari sini.


Dan, seperti kemarin. Kak Burhan tidak peka. Dia tetap ngotot untuk tinggal d sana. Entah tidak peka atau memang khawatir. Beda tipis. Beruntung kak Rey langsung menyeret kak Burhan pergi dari gazebo.


“Duluan ya semuanya.” Ucap kak Rey.


Akhirnya waktu untuk bestie time. Lintang langsung mengelus pundak Alice. Terlihat ekspresi lega di wajah Alice setelah kepergian kak Burhan dan kak Rey.


“Ada apa sih Al?” tanyaku.


“Cerita dong.” Sahut Arin.


“Iya, gak apa-apa udah aman sekarang.”


Alice pun menceritakan semuanya. Ternyata dia merasa bersalah karena sudah berpikir buruk tentang kak Daffin. Dia menceritakan semua, apa yang dia alami beberapa saat yang lalu. Bahkan ceritanya membuatku dan yang lain terkejut ketika menyangkut dosen kami, pak Budi.


“Bahkan dia bilang gitu ke pak Budi?” Tanya Arin tidak percaya.


“Aduh! Aku udah nyebarin yang enggak-enggak lagi ke yang lain tentang kak Daffin. Ternyata dia niatnya baik banget gak pengen ganggu kamu.”


Jujur aku menyesal setelah mengetahui fakta bahwa ternyata kak Daffin itu kasihan ke Alice sehingga dia tidak bertanya ke Alice meski merasa kesulitan. Tetapi, meski begitu tidak seharusnya seperti itu. Ini kan kelompok, harusnya saling memaklumi. Lagian, kalau Alice juga sudah menawarkan bantuan.


“Nah, seharusnya kita minta maaf ke kak Daffin.” Ucap Lintang.


“Ogah!” Ucapku dan Arin serentak.


Kami sama-sama merasa benar. Sedangkan Lintang dan Alice sependapat untuk minta maaf. Dan Hely kalian tahu kan biasanya dia diam saja dan iya iya. Tapi, kali ini dia berbeda. Dia mengungkapkan sebuah pendapat.


“Gimana kalau kita sebarin lagi kebaikan kak Daffin. Toh, di sini banyak yang lihat kak Daffin sama Alice.” Ucap Hely.


“Ternyata kak Daffin itu tetap tanggung jawab mau menemui Alice, padahal kata kak Burhan dia harusnya hari ini mulai jadwal jadi guru les privat.” Lanjutnya, memang kak Burhan tadi sempat bilang gitu.


“Setuju!” Ucapku dan Arin serentak lagi.


“Terima kasih ya teman-teman. Maaf ngerepotin kalian.” Ucap Alice menyesal.

__ADS_1


Yah, sebenarnya kami semua juga menyesal sih. Karena diam-diam kami mengeluh ke teman lainnya tentang kak Daffin. Jujur, kami terpengaruh oleh cerita Alice yang menggebu. Tapi jujur, aku masih penasaran dengan ekspresi Alice. Aneh aja gitu? Kenapa ya?


__ADS_2