
Aku, Rey dan Burhan berjalan menuju kafe kebanggan kami. Sepanjang jalan aku berjalan di depan mereka. Meski aku menatap ke depan. Aku bisa tau jika kedua temanku itu sedang membicarakanku. Bagaimana tidak? Mereka berbicara cukup keras hingga terdengar oleh telingaku yang sengaja aku pasang headset. Bukan sok keren, tapi aku sedang mendengarkan radio yang sedang membahas tentang bisnis.
“Bro! Lempeng aja. Eh ngomong-ngomong... Cewek tadi tuh sebenarnya manis loh bro.” Ucap Burhan yang sudah seperti hantu. Tiba-tiba berjalan di sisi kananku.
Aku diam tidak menjawab. Telingaku masih fokus mendengarkan wawancara seorang pengusaha melalui radio ini. Sambil berjalan menuju kafe yang tinggal enam langkah lagi sampai.
“Cewek, ya gitu. Sok jual mahal. Tapi kalau kita udah baik dikit aja. Dia beehh langsung nempel bro!” Lanjut Burhan lagi.
Kalian tau kan, Burhan itu playboy. Kini dia sedang memberiku tips and trick untuk mendekati anak yang bernama Alice itu. Sebenarnya aku tidak tertarik dengan anak itu. Melihat wajahnya yang kaku dan matanya tajam tadi saja membuatku malas.
Dan kalian tau juga kan, kalau setiap satu minggu sekali aku harus duduk dekat dia untuk memperbaiki tugas kami. Karena kalau gak duduk berdekatan mana bisa coba?
Sampainya di kafe aku menemukan tempat duduk yang pas. Aku memilih duduk di dekat jendela, agar aku bisa menatap luar, melihat sinar matahari yang begitu terang menyinari banyak orang yang sedang berjalan di bawahnya. Orang-orang yang berstatus mahasiswa yang lengkap dengan tas besar dan beberapa barang bawaan lainnya.
Ah... aku rindu pemandangan ini. Sudah satu tahun aku di luar negri melihat orang-orang yang berbeda suasana yang berbeda serta pemandangan yang berbeda.
“Mau pesan apa nih kita?” Tanya Rey membuyarkan lamunanku.
“Yang biasa aja lah.”
“Aku ikut pesan cari menu lain. Sekalian apel cewek cantik.” Ucap Burhan.
Burhan dan Rey meninggalkanku di meja ini sendirian. Aku kembali ke aktifitasku tadi. Menatap jalan setapak di luar sana. Melihat orang lalu lalang, ada yang berjalan santai, panik, bahkan ada yang membawa setumpuk kertas foto copy. Pasti itu materi yang akan di bagikan saat dia presentasi.
Beberapa menit kemudian, Burhan dan Rey kembali. Mereka kembali dengan candaan. Entah apa yang sedang di bahas.
“Hahaha... bro! Kayaknya teman satu kelompokmu itu mahasiswi istimewa.” Ucap Burhan.
“Istimewa?”
“Iya, ternyata dia mahasiswi kupu-kupu. Gak banyak teman. Pasti susah deh kalau ketemu sama mahasiwi kupu-kupu itu. Haha” Ucap Burhan.
“Aduh! Kok bisa ya Daffin yang berjiwa bebas satu kelompok sama mahasiswi kupu-kupu. Gimana tuh entar kelompoknya.” Sahut Rey.
__ADS_1
Jujur, aku tidak paham apa yang lucu dari ucapan mereka. Aku masih menatap mereka lekat mencari bagian mana yang lucu. Mereka tertawa terbahak-bahak sampai tersedak.
“Uhuk uhuk uhuk.”
Batuk saja mereka bisa kompak. Memang sahabat sejati mereka itu.
“Lalu?” Tanyaku polos.
“Ya jelas, kalian gak bisa kelompok di dengan tenang dong. Orang dia siapa namanya tadi?” Tanya Burhan.
“Alice.” Jawabku singkat.
“Iya, dia itu kuliah pulang kuliah pulang. Terus gimana mau kelompok kalau habis kuliah selalu pulang? Kapan kalian kerjain kelompoknya? Susah susah dapat kelompok mahasiswi kupu-kupu. Aku jamin, pasti amburadul deh kalau kamu gak suruh dia stay di kampus sebentar.” Lanjut Burhan.
“Kalian tau dari mana? Kalau dia mahasiswa kupu-kupu?”
“Jelasin bro!” Ucap Burhan yang masih dalam tawanya.
Rey menjelaskan jika waktu memesan tadi. Mereka bertemu dengan gebetan Burhan. Cewek itu mengatakan kalau satu kelas sama Daffin. Burhan yang penasaran langsung bertanya di kelas apa? Ternyata di kelas dimana Daffin dan Alice bertemu.
Sangat jarang bagi dia bisa kumpul di kampus. Dia bisa kumpul di kampus jika ada wacana sebelumnya untuk berkumpul. Jika tidak ada wacana, dia akan menghilang begitu akhir kelasnya.
Aku sangat kecewa mendengar berita itu. Ini akan semakin susah, terlebih kelompok ini tidak akan berakhir hingga akhir presentasi. Tapi kelompok ini akan berlanjut terus hingga akhir semester. Karena kelas ini istimewa dengan tahapan yang panjang dalam membuat RPP dan teman-temannya.
Beberapa kenangan melintas di benakku, mulai dari tatapan Alice yang tajam hingga Alice yang menjauh dariku saat aku ingin nebeng melihat materi. Seketika, aku mengucapkan sumpah serapah untuk Alice. Mahasiswi kupu-kupu yang sok jaga jarak. Bertemu di perpustakaan secara tidak sengaja. Entah lah bagaimana akhir dari kuliah kelas ini.
“Ini kopinya kak.” Ucap pelayan kafe sambil menurunkan pesanan kami.
Untuk sesaat suasana hening sejenak. Burhan, Rey dan aku mengambil pesanan kami masing-masing. Dan begitu si pelayan pergi. Burhan dan Rey kembali tertawa sedangkan aku hanya bisa menyeruput kopi sambil meratapi nasibku di kelas istimewa dengan mahasiswi istimewa itu.
Kenapa ini harus terjadi kepadaku yang baru saja memulai kuliah di negri ini. Andai saja, aku boleh untuk tidak melanjutkan kuliah ini. Aku memilih untuk berbisnis saja. Mulai kuliah lagi, sudah sesusah ini, apa lagi ke depannya. Pasti lebih susah.
“Tabah ya bro!” Ucap Burhan sambil tertawa.
__ADS_1
Sedangkan Rey sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dia masih tertawa sambil memegangi perutnya. Sebenarnya aku tidak masih tidak tau bagian mana yang lucu.
“Apa sih yang lucu?!” Kesalku.
“Ya lucu lah. Seorang Daffin yang bebas ketemu sama cewek culun. Mahasiswi kupu-kupu pula. Bhahahah. PASTI seru. Ya kan Han.”
Ucapan Rey ada benarnya juga. Tapi, meski sudah di jelaskan lagi. Aku tidak mendapatkan bagian mana yang lucu. Yang ada malah membuatku semakin kesal dan menyesal atas takdir ini. Andai aku bisa mengulang waktu. Aku akan memilih kelas, selain pak Budi.
Aku mulai menyerah akan keadaan. Aku matikan radio ku. Moodku sudah tidak sebaik tadi, aku sudah tidak tertarik mendengarkan petuah petuah bisnis dari radio. Kini aku hanya bisa pasrah menerima nasib.
“Udah, bro! Teman kita lagi susah nih. Mari kita hibur dengan mabar.” Ucap Rey.
Burhan menyetujuinya. Kami mulai mengeluarkan ponsel kami masing-masing. Dan memulai untuk MABAR (Main Bareng) game online yang sedang hits ini. Game online strategi yang membutuhkan kerjasama kelompok untuk menang.
***
Aku sudah berada di kosku, di dalam kamar yang sempit tapi sirkulasi udaranya lancar. Di atas kasurku yang empuk. Ku tatap langit-langit kamarku. Putih, bersih tanpa noda sedikit pun. Tiba-tiba terlintas ucapan Burhan dan Rey saat berada di kafe tadi.
Segera aku membuka ponselku, niatnya sih buka sosial media untuk melupakan rasa kesal dan menyesalku karena berita buruk tadi. Namun, nyatanya mataku membulat sempurna ketika aku tau ada pesan masuk dari nomor tidak aku kenal.
Aku langsung membuka pesan itu, ternyata itu nomor adik tingkat yang bertanya kebenaran nomor ini. Yah benar ini nomorku, ku balas seperti itu. Tidak perlu menunggu lama, beberapa detik kemudian dia langsung membalas. Dia berniat memasukkanku ke grup kelas.
“Oke juga ya, bolehlah.” Gumamku sambil membalas.
Kalian tau, pesan itu langsung di baca oleh si pengirim misterius itu. Dan tidak lama kemudian nomorku sudah masuk grup. Kemudian, dia mengirimiku pesan lagi.
“Jika perlu sesuatu bisa tanya kak, gak usah sungkan.” Gumamku sambil membaca.
Oke, meski aku belum tau siapa dia. Setidaknya dia ramah kepadaku. Tanpa basa basi aku menyimpan nomornya tanpa tau namanya. Aku menyimpannya dengan nama adik kelas.
Setelah itu aku kembali ke niat awalku untuk membuka sosial media untuk menyegarkan otaku yang panas akibat berita yang di bawa tadi oleh Burhan dan juga Rey. Sungguh berita itu sangat menggangguku hingga terngiang-ngiang di dalam otakku.
“Sial! Kenapa aku masih saja kepikiran ucapan Burhan dan Rey tadi. Dasar temen laknat yang senang di atas penderitaan orang lain.” Kesalku sambil mencoba mencari hiburan di ponselku.
__ADS_1
Ku habiskan waktu beberapa menit untuk mencari hiburan di media sosial. Namun, tidak ada satu pun yang bisa membuatku melupakan rasa kesalku. Apakah ini pertanda bahwa mata kuliah ini benar-benar akan terasa berat?