
Hai, aku Nana. Teman dekat Alice. Emmm... sepertinya gak usah banyak basa basi kali ya. Langsung cus aja deh. Toh aku juga sempat nampang di episode pertama kan hehe.
Kok bisa ya Alice gak tahu nama kak Daffin? Padahal minggu pertama masuk itu, waktu absen kan di panggil satu persatu. Atau jangan-jangan si Alice lagi jaga image karena dia ternyata juga suka sama kak Daffin. Cuman dia gengsi aja kan. Coba deh kalau di pancing gimana?
“Iya, iya. Tapi sekarang tau kan namanya. Coba siapa namanya?”
“Daffin kan.”
“Cuek bener neng. Jangan Jutek dong ucapin nama kak Dafin.”
Wah sepertinya benar, Alice menyimpan perasaan kepada kak Daffin. Dengan caranya jawab dia sok sokan jutek gitu biar terkesan gak tertarik sama sekali sama kak Daffin. Big News nih. Tapi, hah... masak iya aku saingan sama Alice? Walau kita sama-sama gak mungkin bisa dapatin kak Daffin yang high class itu.
Bodo amat lah, terpenting sekarang ada temennya buat bahas kak Daffin. Lucu juga sih kalau lihat Alice jutek kayak gitu. Bikin, jadi semakin penasaran tentang perasaanya ke kak Daffin.
“Jadi gimana nih rasanya satu kelompok sama kak Daffin?” Tanyaku antusias.
Aku menatap Alice dengan mata berbinar, berharap mendapatkan jawaban sesuai anganku. Kalau di bayangkan, kak Daffin itu misterius. Kalau satu kelompok sama dia pasti hawanya seru nih. Dingin cuek, misterius ahh pasti udah kayak di novel novel itu. Si dingin bikin klepek-klepek asik.
“Jadi gimana Al?”
Sepertinya Alice masih sibuk dengan bacaannya. Sedang membaca apa sih si Alice? Oh... buku psikologi anak. Kenapa ya ni anak tertarik banget sama psikologi? Apa dia salah jurusan? Di kampus ini kan ada jurusan psikologi? Kenapa dia gak ambil jurusan itu sih?
“Al, jadi gimana?” Tanyaku untuk ketiga kalinya.
Alice yang cuek pun mulai luluh, emmm lebih tepatnya muak sepertinya. Itu terlihat jelas di wajahnya yang masih jutek dan mematikan itu.
Alice menutup bukunya, menarik napas panjang dan menghembuskannya berkali-kali. Oke, jika Alice mulai melakukan itu. Tandanya dia akan mulai sesi serius. Aku pun siap mendengarkan dengan seksama kesan pertama kak Dafiin di mata Alice.
“Dia itu, nyebelin....” Ucap Alice.
Hah? Apa? Kesan pertama kak Daffin seperti itu di depan Alice? Jujur aku sangat terkejut dengan ucapan itu. Kak Daffin yang terkenal misterius itu? Iya cowok idola kampus itu. Menyebalkan di mata Alice? Aku benar-benar tidak menyangka.
“...tau. Hah... males banget lihat wajahnya. Kayak dia sok ganteng gitu. Padahal juga biasa aja ih.”
__ADS_1
Jadi? Pemikiranku tentang Alice yang sebenarnya juga menyukai kak Daffin itu adalah salah? Eh tunggu! Kalau Alice gak menyukai kak Daffin aku gak punya saingan sahabat sendiri. Ah syukurlah.
Dari ekspresi wajahnya itu, dia sedang serius dengan ucapannya. Sepertinya tidak ada sesuatu yang di sembunyikan. Dan apa yang membuat dia begitu tidak menyukai kak Daffin? Aku semakin penasaran.
“Terus?”
“Pas tadi pembagian kelompok secara acak. Dia itu melihat aku dengan tatapan malas banget. Kayak gak mau gitu deket-deket aku. Ekspresinya menunjukkan dia itu sok ganteng banget. Dih! Jangan banyak memuji dia, tuh dia jadi sok ganteng gitu.” Kesal Alice.
“Aku gak memuji dia kok. Orang-orang aja yang memuji dia. Gimana mau memuji? deket aja enggak. Pas punya kesempatan satu kelas, ehh terpaksa pindah.”
“Bagus tuh! Gak usah deket dia.” Ucap Alice semakin ketus.
Apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Alice tidak pernah ketus seperti ini saat sedang membicarakan orang lain. Biasanya kalau lagi ngomongin orang, dia itu selalu mencoba memikirkan hal positif orang lain. Tapi ini? Dia malah kebalikannya. Emmm pasti ada sesuatu di antara mereka. Tapi apa?
“Kamu kenapa sih Al?”
“Aku gak suka sama cowok itu. Sok ganteng!”
“Eh eh eh! Jangan bilang gitu... nanti kalau benci jadi cinta gimana hayooo.” Godaku.
Alice langsung memasang wajah datar. Seolah-olah dia tidak akan terjebak di perasaan benci jadi cinta. Tapi, kita gak tau kan kedepannya gimana. Pokoknya, kalau sampai Alice menyukai kak Daffin. Aku gak akan tinggal diam. Dia akan menjadi rivalku. Aku akan selalu mengingat kata-katanya kalau dia gak suka kak Daffin.
“Ga-k, gak usah ngegas gitu dong saayy.” Ucapku terbata karena menahan tawa.
Ekspresi datar Alice seperti tidak akan terbantahkan. Namun, perasaanku mengatakan lain. Dia pasti akan mendapatkan karma dari ucapannya sendiri.
“Udah udah. Aku mau lanjut baca. Kalau masih ngomongin Daffin, aku pindah tempat.” Ucapnya.
Terpaksa aku diam, aku tidak mau membuat Alice semakin marah. Lagi pula ini di perpustakaan. Kalau aku macam-macam nanti bisa di marahin orang-orang yang sedang tenang aman damai membaca di sini dong.
Ya sudah lah, aku sepertinya harus mulai mencari buku untuk bahan presentasi minggu depan. Tadi bukunya di rak mana ya lupa.
Dasar aku, pelupa. Membuatku harus kembali ke halaman depan dan mencari dimana letak buku yang aku cari melalui komputer yang tersedia. Komputer yang hanya bisa di gunakan untuk mencari letak buku, scan ID perpustakaan, Dan tempat dimana kita scan buku yang akan kita pinjam dan di masukkan ke data ID peminjam.
__ADS_1
Di perpustakaan ini semua serba mandiri, melayani diri sendiri. Cari buku sendiri, mencatat buku pinjaman sendiri, dan mengembalikan buku sendiri, bahkan membayar denda sendiri jika terlambat mengembalikan buku. Operator hanya bertugas memantau dari layarnya dan memberikan kembalian jika saat membayar denda tidak menggunakan uang pas.
“Eh tau gak cewek tadi, yang satu kelompok sama kak Daffin? Tadi bisa kompak gitu ya jawabnya. Wah jangan-jangan dia saingan kita.”
Tidak sengaja aku mendengar percakapan mahasiswi sebelah. Sepertinya mereka mahasiwi yang satu kelas dengan Alice. Dan mereka sedang membahas kak Daffin. Jangan-jangan cewek yang di maksud tadi adalah Alice?
Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Aku semakin penasaran! Pengen banget deh membawa Alice kabur dari perpustakaan ini dan memaksanya menceritakan semua yang terjadi di antara dia dan kak Daffin hari ini.
Namun, sayangnya mencari buku untuk referensi presentasi minggu depan lebih penting sekarang. Terlebih, jika aku memaksa Alice untuk cerita pasti dia akan marah sama aku. Gak enak juga kalau lagi marahan sama teman dekat. Hah... Pada akhirnya aku hanya bisa memendam perasaan penasaran ini.
“Eh lebih sweet tadi pas baca materi di HP tadi. Si Wita sempet lirik bangku kak Daffin. Dia agak mendekat gitu ke si cewek itu. Siapa sih namanya?”
“Alice.”
“Nah iya itu. Alice kayak jual mahal gitu. Wajahnya aja udah kelihatan sombong dan sinis. Tatapannya itu loh. Dia agak menjauh pas bangkunya deket. Kayakanya gak mungkin deh dia suka sama kak Daffin. Habis itu, kak Daffin minta nomor HP Alice dan minta di kirim materinya. Ah... aku juga mau nomor kak Daffin.”
Iya, emang benar. Matanya Alice tajam banget. Cuman, dia gak kerasa aja kalau dia kelihatan sombong. Eh iya lupa, jika mahasiswi di belakangku ini sedang membahas Alice. Oh tuhan, aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Aku ingin tau semuanya. Tapi aku bisa apa? Dan Alice punya nomor kak Daffin? AKU HARUS MINTA! Buat apa? Buat jaga-jaga aja. Kali aja kan aku satu kelompok sama kak Daffin semester depan. Semoga saja.
Setelah itu mahasiswi di belakangku sudah tidak membahas kak Daffin. Karena mereka menyerah mengantri untuk mencari buku. Mereka memilih pergi dari perpustakaan dan kembali lagi nanti.
Aku bertekad, setelah mendapatkan buku yang aku cari aku, harus meminta nomor kak Daffin dari Alice. Dan berusaha mengulik sedikit demi apa yang terjadi di antara Alice dan kak Daffin. Emmm sepertinya berita ini akan tersebar dengan cepat. Mungkin saja Alice akan terkenal dalam waktu sekejap.
Aku mengantri dengan tidak sabaran ingin segera mencari buku dan menemui Alice. Begitu mendapat giliran, aku buru-buru menghampiri seperangkat komputer di depanku. Aku ketik tema buku yang aku cari, lalu ku temukan di mana letak buku itu.
Tanpa ragu, aku berjalan cepat menuju rak itu. Sampainya di sana aku mencari dengan tergesa-gesa. Jujur, aku takut Alice akan segera pergi. Dan beruntungnya aku bisa menemukan tiga sumber buku dalam waktu singkat. Kemudian, aku kembali berjalan cepat ke Alice.
“Loh gak keluar?” Tanyanya.
“Enggak, tadi cuman cari buku aja.”
“Oh...”
“Al, kamu punya nomornya kak Daffin?”
__ADS_1
“Fans banget ya sama dia.” Ucapnya ketus.