Kupu-Kupu Kampus

Kupu-Kupu Kampus
Rey


__ADS_3

Aku gak usah perkenalan ya. Kan, kalian kan sudah tau.


Aku heran dengan dua soibku, yang satu marah-marah mulu. Yang satunya penasaran tapi gak mau cari tahu. Oh hari yang cukup panjang. Aku bergegas menyusul Burhan ke kamar kos.


Sampai di sana, Burhan dan Daffin sudah memakan nasi padangnya. Mereka itu kelaparan ya? Aku berjalan mengendap-endap mencari celah karena kamar yang cukup sempit ini. Karena badanku dan Burhan sama-sama kekar. Hanya Daffin yang kecil.


“Kalian udah lihat kan gimana cewek itu?” Ucap Daffin tiba-tiba.


“Hmmm.”


Burhan bergumam sambil mengunyah makanannya dan aku baru saja mendapat tempat duduk dan mulai membuka bungkusan nasi padangku.


“Dia galak.” Ucap Burhan sambil menelan makanannya.


“Ya gitu.”


Ada apa sih dengan mereka berdua? Sepertinya mereka mempunyai dendam tak terbalaskan kepada Alice. Entah di mataku, Alice anaknya pendiam. Hanya saja wajahnya yang terlihat galak dan matanya yang tajam saja.


“Mungkin kehidupannya keras, jadi dia galak gitu. Kalian tau kan dia kerja sambil kuliah. Eh kebalik, kuliah sambil kerja.”


Burhan dan Daffin langsung menatapku tajam. Ada apa nih? Aku seperti di serang dengan tembakan yang bertubi-tubi. Terlebih Daffin tatapannya seperti tidak terima.


“Tapi, dia itu cewek. Masak cewek se keras itu. Gak laku nanti.” Ucapnya.


Aku hanya menghela napas panjang kemudian memakan nasi padangku yang sudah melambai minta di masukkan ke mulut.


“Kalian gak tau sih gimana tatapan dia pas ketemu aku di kelas. Sinis banget bikin males. Terus, pas aku duduk di dekat dia. Karena aku gak tau materi yang di share pak Budi. Dia malah menjauh bro! Lah di kira aku bakteri.”


“Pfftt... Virus kali haha.” Burhan tertawa di sela makannya hingga hampir tersedak.


Yah, Daffin malah curhat. Apa sih sebenarnya yang ada di pikiran Daffin. Memang, tatapan mata Alice tajam. Tapi bukan berarti dia itu sinis. Memang matanya begitu kan juga bisa dari sana. Toh aku lihat matanya asli tidak pakai softlens seperti cewek lainnya. Antara Daffin yang memang tidak suka Alice. Atau aku yang belum tau Alice seperti apa.


Kami pun makan dengan diam hingga aku selesai makan. Yah, meski aku makan yang terakhir. Aku selesai duluan. Aku memang suka makan dengan cepat.


“Oh ya, tadi kok kerja kelompoknya cepet banget sih? Kerja kelompok model apa tuh?”


“Dia cuma mau ganti papernya yang udah di revisi.” Ucap Daffin sewot.


Oke oke sepertinya benar kata Burhan. Ini masalah Daffin, aku gak akan ikut campur lagi. Dari pada aku nanti menjadi tersangka atas meledaknya amarah Daffin.


Aku buru-buru mengemas sisa makananku dan pergi ke dapur unuk cuci piring. Meski piring ini tidak kotor karena aku tidak menuangkan nasi padangku ke piring, hanya mengggunakannya sebagai wadah agar bisa di angkat.


Aku berjalan ke dapur di susul Burhan di belakangku. Sampai dapur, aku mencuci piringku dan Burhan menaruh piringnya, memintaku untuk mencucinya. Langsung aku tolak lah! Enak aja.


“Titip, aku yang bilas.” Ucap Burhan.


Oh, baik lah. Aku mencuci piring itu.


“Heh di bilang jangan ikut urusan Daffin. Ngeyel, dia marah tuh. Apa lagi tadi kamu belain Alice.”


“Heh! Jangan lihat orang dari mukanya aja dong. Kita tu gak tau seberapa keras kehidupan dia.”


“Tetep aja bener kata Daffin. Cewek itu harus lemah lembut.”


Ah terserah lah apa kata Burhan yang lebih pro ke Daffin. Yang jelas aku tidak menyukai pernyataan itu. Entah cewek atau cowok mereka harus tangguh. Mereka gak bisa bergantung ke orang lain. Mereka harus tanggung jawab atas diri mereka sendiri.


Tapi memang, kita sebagai cowok juga harus melindungi cewek yang lebih lemah dari kita. Namun, bukan berarti kita meremehkan si cewek juga. Cewek itu juga kuat dengan caranya sendiri.

__ADS_1


Tapi sebenarnya aku masih penasaran kenapa tatapan Alice tadi seperti mengintimidasi Daffin. Apa Daffin tadi melakukan kesalahan tapi gak mau mengaku? Biasa lah gengsinya Daffin itu terlalu tinggi. Sudahlah, biar waktu yang menjawab.


“Pulang yuk! Udah jam segini.”


“Yes! Waktunya tidur siang.”


“Elahhhh. Udah mau sore kali bro.”


“Mau pulang?” Tanya Daffin yang seperti jalangkung karena tiba-tiba muncul di belakang kami.


“Yep! Kenyang pulang.” Jawab Burhan.


Daffin mengangguk paham. Aku dan Burhan pun berpamitan. Kami mengambil tas kami di kamar Daffin dulu lalu langsung bergegas pulang. Saat perjalanan pulang tiba-tiba Burhan memberhentikan motorku.


“Heh Rey! Hahh... gini sebenarnya bener sih katamu tadi. Mungkin dia terlihat keras karena dia harus bekerja sambil kuliah. Tapi... dia itu cewek yang masih punya sisi lembut di dalam hatinya.” Ucap Burhan.


Lah?! Tiba-tiba? Sekarang Burhan pro ke Alice. Aneh sekali orang ini. Tadi membela Daffin sekarang membela Alice. Sama seperti kemarin. Setelah mencemooh Alice kemudian dia iba ke Alice. Nih orang apa punya kepribadian ganda kali ya?


“Hah? Maksudmu?”


“Gini bro! Sebenarnya dari awal aku tau kalau Alice kerja sambil kuliah. Aku sudah bersimpati ke dia. Tapi, kamu tau kan Daffin gimana? Kalau gak ada yang mendukungnya dia bakalan! BUM! Dan berimbas ke pertemanan kita.”


“Ya tau. Tapi Han. Daffin itu harus diberi pelajaran. Gak semua orang harus dukung dia. Katanya dia belajar bisnis. Harusnya dia tau itu. Kamu juga muka dua. Di depan Daffin pro di belakangnya kontra. Udah kayak cewek aja.” Kesalku.


Burhan hanya menggaruk kepalanya yang tertutup helm. Bayangkan itu hahahaha. Aku tau, dia itu memiliki sisi lembut dan mudah tidak tega kepada wanita. Tetapi, aku juga tau tentang solidaritasnya yang tinggi terhadap teman.


“Gini deh! Intinya kan ya. Aku tadi sempat lihat Alice. Terlihat mukanya cukup kecewa waktu Daffin pergi. Entah kecewa karena apa. Aku bakalan cari tau dari adek kelas. Kasihan Alice. Dia diterpa gosip gak enak mulu.”


“Lah? Tadi anda bilang ‘gak usah. Urusan dia.’ Nah sekarang anda ingin tau. Bagaimana anda ini?”


Aku hanya diam saja. Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Memang ini bukan urusanku. Tapi aku juga penasaran.


***


Keesokan harinya.


Aku berangkat ke kampus siang hari karena memang aku mengambil kelas siang. Saat di lorong aku berpapasan dengan teman Alice. Siapa itu namanya? Ah iya Nana.


“Nana.” Aku menyapanya.


“Hai kak, kok tau namaku.”


Aduh, aku lupa jika aku kemarin malam stalking media sosial Alice buat ingin tau siapa nama temannya. Alice memang hebat baru beberapa minggu dia sudah menjadi terkenal. Siapapun pasti tau media sosial Alice.


“Oh ya belum kenalan ya kemarin. Aku Rey, kemarin nguping lah pas Burhan tanya siapa namamu.” Ucapku. Aku sebenarnya tidak begitu dengar. Tapi aku paham jika Burhan sedang berkenalan.


“Oh satunya namanya Burhan.”


Tiba-tiba ada mahasiswi seangkatanku melintas. Dia menepuk pundakku sambil menggeleng kepala.


“Eh kasihan banget sih si Daffin dapat kelompok sama adik kelas yang sombong dan galak.” ucpanya.


Heh dia itu tau gak sih kalau di sini ada temannya? Apa emang sengaja gitu? Parah nih orang. Emang sih dia suka Daffin dari semseter satu. Tapi gak gini juga caranya.


“Ha?”


Aku pura-pura tidak paham apa yang di maksud si temanku tadi. Iya, pasti dia membicarakan Alice. Ah... bagiku Alice yang lebih kasihan. Mereka tau gak sih kalau si Alice itu orangnya pekerja keras.

__ADS_1


“Bilangin ke temen kakak. Alice itu gak sombong dan galak. Kak Daffin aja yang nyebelin.” Ucap Nana tiba-tiba.


Nana langsung pergi meninggalkanku. Aku harus mengejarnya, aku harus minta maaf meski bukan salahku sih. Aku gak enak saja kalau sampai Nana marah. Tapi wajar juga dia marah, Alice kan temannya.


“Maaf ya Na. Tapi emang Alice kelihatannya gitu.”


“Kakak itu, yang gak tau Alice! Kelihatannya doang yang gitu. Alice itu cukup sabar dan tabah. Dia diem aja tuh pas ada gosip dia di bilang galak dan gak perhatian sama teman kelompoknya. Padahal, itu karena kak Daffin sendiri! Kenapa dia gak mau bertanya ke Alice. Alice sudah menawarkan bantuan! Eh malah bikin status kalau gak ada yang mau bantuin dia kerjain tugas RPP. Cowok kok ngadunya di Story Whatsapp.”


Nana mengomel panjang lalu pergi. Sejenak aku bingung dengan ucapannya. Aku harus memproses ucapan Nana dengan baik agar tidak salah tangkap. Tunggu? Story Whatsapp? Iyah, Daffin pernah membuat Story Whatsapp jika kesulitan dalam mengerjakan tugasnya. Kenapa aku gak peka sih? Dia juga ngeluh kesulitan juga kan. Tapi dia gak tanya ke Alice? Apa juga alasannya?


Belum menemukan jawaban, aku sudah melihat dosen kelasku dari kejauhan. Aku langsung balik arah dan berjalan menuju kelas. Saat berjalan ada orang berlari melewatiku ternyata itu Burhan.


“Han!” Teriak ku.


“Apa?”


“Nanti selesai kelas ketemu bentar.”


“Oke!”


Sepertinya Burhan sedang buru-buru. Kemudian, aku melewati kelas yang di masuki Burhan. Oh pantas saja dia buru-buru. Ternyata dosennya sangat istimewa. Dosen yang sangat disiplin waktu dan tidak ada toleransi keterlambatan. Maksimal terlambat hanya sepuluh menit, lebihnya tidak boleh masuk kelas.


Kelas berjalan lancar, tidak ada perdebatan, adu argumen ataupun yang lain. Mungkin ini karena kelas siang. Tenaga mereka sudah terkuras habis. Namun, tidak denganku. Tenangaku masih penuh. Kan aku hanya ada kelas siang ini saja.


Begitu kelas selesai, aku bergegas mencari keberadaan Burhan. Burhan pasti dengan merokok di kantin kampus. Dan ternyata benar adanya.


“Han.”


“Hmmm...” Burhan berdehem sambil mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.


“Udah denger gosip?”


“Kayak cewek aja, dateng-dateng ngomongin gosip.”


Aku langsung menjelaskan semuanya kepada Burhan. Ternyata, Burhan juga mengetahui gosip itu. Tapi, dia memilih untuk bodo amat. Padahal kemarin dia menggebu-gebu pengen bantu Alice. Kemudian, aku menceritakan apa yang Nana ucapkan. Seketika wajah Burhan berubah. Wajah yang terlihat dingin cuek tadi berubah menjadi iba. Burhan langsung meletakkan rokoknya. Dia melihat ke sekeliling dan kembali menatapku.


“Tau gak? Si Alice itu ternyata kemarin udah coba tanya ke Daffin. Tapi Daffin itu gengsi dan bilang kalau dia gak ada masalah sama papernya.”


“Tau dari mana?”


“Dari Lintang teman dekat Alice. Lintang itu temen gebetanku. Kemarin sore pas aku lagi main. Ketemu gebetanku sama Lintang. Lintang waktu cerita itu dia meledak-ledak. Cuman dia gak tau aja kalau aku temen Daffin.”


“Tuh kan. Kita harus kasih tau Daffin.”


“Halah! Dia udah males sama kita.” Ucap Burhan.


“Udah bilang?”


“Udah lah. Kemarin malam langsung aku ngomong ke Daffin. Dia malah marah-marah.”


Burhan kembali menghisap rokoknya. Oh jelas dia malas membatu Alice. Ternyata ini penyebabnya.Terlihat jelas dia sudah mencoba memberi tahu Daffin tapi sepertinya di tolak mentah-mentah.


“Biar dia sendiri yang nyesel.” Kesalku.


“Hmmm... biar kapok dia. Kasihan tau, Alice merasa kayak apa ya? Gak berguna gitu loh. Padahal katanya kemarin Alice berusaha tanya biar dia bisa bantu Daffin. Tapi Daffin bilang ‘gak’ gitu.”


“Hah Fiin, Daffin.”

__ADS_1


__ADS_2