Kupu-Kupu Kampus

Kupu-Kupu Kampus
Burhan


__ADS_3

Aduh, kenapa Rey narik aku kencang sekali? Beruntung aku bisa menjaga keseimbangan. Akhirnya aku berjalan normal begitu menjauh dari gazebo tadi.


“Santai bro!” Kesalku.


“Lagian, aku khawatir sama Alice.”Lanjutku.


“Eh, gak peka apa bego? Tadi kan si Nana udah suruh kita pergi. Tandanya, itu mereka butuh me time. Udah yuk pulang. Udah aman.” Ucap Rey.


Kami pun berjalan menuju tempat parkir. Dan terkejutnya kami ketika ada seseorang yang duduk santai di atas motorku. Orang itu adalah Daffin. Aku mengintip dari spion motorku.


“Ke kos dulu” Ucap Daffin santai.


Aku dan Rey saling menatap mencari persetujuan. Dan akhirnya, kami pun setuju. Aku dan Rey akan mampir sebentar ke kos Daffin. Oh iya setelah aku perhatikan ekspresi Daffin berubah lebih santai sekarang. Aku jadi penasaran apa yang mereka bahas hingga keduanya mengalami perubahan seperti ini.


Sampainya di kos Daffin, kami langsung membaringkan tubuh kami. Rasanya hari ini panjang sekali. Terlebih hari ini sebenarnya aku hanya kuliah sampai jam sepuluh saja. Tapi, aku tetap tinggal di kampus sampai sore seperti ini.


“Mau di buatin kopi?” Tanya Daffin.

__ADS_1


“Wih tumben, biasanya kalau mau apa-apa suruh bikin sendiri.” Ucap Rey.


Oh, iya tumben ya Daffin seperti ini. Hmmm... memang ada yang salah di antara Alice dan Daffin. Pasti itu, aku yakin. Tapi apa? Apakah Daffin sudah menemukan pawangnya?


“Gak mau ya udah.” Ucap Daffin kembali duduk.


Kalau aku sih memang gak mau minum kopi aja. Cukup air putih saja kalau boleh. Tapi sayangnya aku malas berjalan ke dapur untuk mengambil minum air putih.


“Heh, ngapain kita di suruh kesini?” Tanyaku tidak sabaran.


Daffin malah duduk menatap kami dengan tatapan yang tidak biasa. Tatapannya tidak bisa di aritkan tapi cukup membuatku dan Rey merinding. Rasanya seperti di tatap seorang yang suka sama kita. Tapi, Daffin kan cowok. Mana dia senyum-senyum lagi.


Aku lempar bantal ke arahnya dengan penuh tenaga. Semoga dengan ini Daffin kembali seperti semula. Lebih baik melihat dia marah dari pada melihat Daffin yang aneh seperti ini. Apa jangan-jangan dia kesurupan hantu banci? Oh tidak!


“Heh! Sadar Daff!” Ucap Rey.


Aku semakin merinding, reflek aku bangun dari tidurku. Bersiap untuk melarikan diri dari kamar ini. Namun, sedetik kemudian ekspresi Daffin sudah kembali seperti semula. Dia malah sekarang tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


“Wah! Bener-bener gila ya?”


“Kesurupan hantu mana Daf?”


“Hantu penunggu sawah!”


Ucap Daffin santai dengan wajahnya yang datar. Oh syukur dia sudah kembali ke mode normal. Aku sedikit lega, tapi aku masih waspada dan siap untuk lari jika terjadi hal yang tidak di inginkan.


“Kalian ngapain? Udah kayak intel. Atauu... kalian modus ya sama temen Alice?” Tanya Daffin.


“Rey tuh yang modus ke Nana.” Jawabku.


Aku sebenarnya sudah tau jika kedua sejoli itu ada perasaan. Udah ketebak sih dari tatapan mereka. Apa lagi pas tadi tuh. Rey bersalaman sama siapa? Lintah? Eh Lintang. Lucu sekali melihat ekspresi Nana yang marah tapi tertahan. Gimana gak tertahan, orang mereka statusnya masih belum ada apa-apa.


“Apa sih? Gak ada apa-apa.” Jawab Rey.


“Udah kalau ada apa-apa juga gak apa-apa. Iyak gak Bur?” Sahut Daffin.

__ADS_1


Aku hanya diam tapi penuh arti. Jika Daffin juga paham. Itu tandanya, sudah jelas gerak gerik Rey yang berbeda dari biasanya. Rey, Rey gak usah sok cool deh.


__ADS_2