Kuputuskan Untuk Mencintaimu

Kuputuskan Untuk Mencintaimu
Setuju


__ADS_3

Fer menghentikan moge nya didepan alamat rumah yang tadi disebut kan oleh gadis yang duduk di belakang nya.


Namun begitu sampai gadis tersebut tak beranjak sama sekali dari motornya,fer melepaskan helm nya lalu menoleh kebelakang dan melihat gadis tersebut sedang melamun.


''Hei sudah sampai!''


Gita yang terkejut mendengar suara fer langsung mengangkat wajahnya dan tepat saat dia mengangkat wajahnya pandangan mata mereka bertemu.


Saling tatap membuat jantung gita kian berdegup kencang dan juga merasakan hawa panas di kedua pipinya,sudah dipastikan wajahnya kini memerah.


Gita mengalihkan pandangan nya kearah lain sambil berdehem pelan. karena gita tak kuat jika harus bertatapan lama dengan mata tajam pria yang ada di depan nya ini.


''S-sudah sampai ya.''


Lalu gita bergegas turun dari motor dan berdiri didepan pria yang sudah mengantarkan nya sampai rumah,gita mengucapkan terimakasih.


Namun sebelum fer menjawab ia dikejutkan oleh suara yang tak asing ditelinga nya.


''Mas fer kok ada disini....?''suara ibu maya yang berjalan mendekat ke arah anaknya .


Ibu maya tadi sedang mengambil barang yang tertinggal di mobilnya namun ia mendengar ada suara motor yang tak asing ditelinga nya berhenti di depan mobilnya.


''Loh ibu sendiri kenapa ada disini?''


Ibu maya tak menjawab ia malah tersenyum dengan melirik ke arah gita dan fer secara bergantian.lalu ibu maya mengajak fer untuk masuk kedalam rumah gita,tentu awalnya fer menolak namun paksaan dari ibunya membuat ia hanya bisa menurut saja.


Mereka bertiga masuk dengan ibu maya yang mengapit lengan kedua nya.


''Pahhh....lihat siapa yang dateng.''teriak ibu maya dengan kegirangan.


Fer melotot mendapati sang ibu berteriak sesuka hati padahal mereka sedang ada dirumah orang.sedangkan gita entah mengapa wajahnya semakin memerah karena malu dengan hati berdebar karena calon suami nya kini memasuki rumahnya.

__ADS_1


Papah adi dan ayah wi serta yang lain sontak menengok ke arah suara ibu maya,mereka melihat ibu maya menggandeng gita dan ferry.


Fer sedikit terkejut karena melihat pria paruh baya yang pernah ia tolong, papahnya dan pakde beserta budenya kini ada disana dan tengah tersenyum menatap ke arah nya.


''Papah?''


''Hai son...sini sapa pakde dan bude mu dulu.''Fer dengan langkah tegap nya mendekat dan menyalami pakde dan juga bude nya.


''Fer kamu sudah jauh lebih tampan dan gagah sekarang tapi apa ini kau memanjangkan rambut dan berewok?''ucap pakde yang merasa risih melihat penampilan dari ponakanya.


Pakde umar adalah kakak nya papah adi,beliau menjadi kiyai yang memimpin salah satu pondok pesantren di jawa timur.pondok itu diwariskan ke pakde umar dikarenakan papah adi tidak tertarik untuk menjadi yai.


Papah adi sendiri dari dulu memang bertolak belakang sifatnya dengan kakaknya yang alim dan rajin belajar agama,belau lebih suka belajar bisnis serta bergaya preman dan agak sedikit bandel,namun meski begitu papah adi tak pernah melupakan ajaran sopan santun kepada orang tua dan ajaran kebaikan lainnya dari mendiang orang tua nya.


Dan kini gaya serampangan serta sangar nya sewaktu muda dulu ternyata menurun ke anaknya.tapi untung saja sang anak tidak menjadi ketua geng motor seperti dirinya dulu.


''Abi kita itu baru ketemu ponakan kita, kok adi sudah dikasih dia siraman rohani saja sih...''tegur bude Imah.


Bude imah tersenyum ke arah fer.


''Kabar mu sehat kan fer?''


''Saya sehat bude''sahut fer seperti biasa dengan nada datarnya.


''Mumpung semua nya kumpul,apa sebaiknya disegerakan saja..''ucap papah adi yang diangguki pakde,bude dan yang lain sedangkan fer bingung namun tetap dengan wajah datar nya,sedangkan sendiri gita menunduk dengan harap-harap cemas karena ia tahu apa yang akan dikatakan oleh papah adi nantinya.


Ayah yang duduk disamping gita membelai pucuk kepala gita dengan sayang supaya puterinya ini merasa lebih tenang.dan benar saja gita menjadi sedikit tidak cemas lagi.


''Memangnya ada apa pah?''tanya fer yang akhirnya membuka suara karena penasaran.


''Jadi begini...papah harap kamu tidak menolak atau pun kabur karena itu akan sangat mengecewakan papah,ibu dan juga pakde serta bude mu!''ucap papah dengan wajah yang serius menatap anaknya.

__ADS_1


Mas fer mengangguk dia memang tak akan pernah menolak apapun yang dikatakan oleh papahnya,yaa.. selain meneruskan bisnis papah nya sih.


''Kamu lihat gadis cantik yang kini sedang duduk didepan mu''tunjuk papah ke arah gita yang kini terdiam sambil menunduk.


''Dia adalah calon isterimu!''sambung papah lagi,lalu papah melihat ekspresi wajah anaknya setelah ia menyampaikan itu.


Mas fer sendiri diam dengan mata yang menatap ke arah gita dengan tatapan yang sulit diartikan,orang yang disekitarnya sama sama sedang menantikan seperti apa reaksi yang akan ditunjukan oleh ferry.


Fer menarik nafas sejenak lalu melihat ke arah papah,ibu dan pakde serta bude nya yang kini tengah memperhatikan nya juga.


''Sebenarnya saya ingin menolak...''ucap fer yang membuat jantung gita seketika seperti diremat.


''Namun sejujurnya saja juga lelah karena ibu terus menerus mengomeli saya untuk mencari pasangan hidup karena saya selau bilang tidak tertarik.''


''Meski merasa kesal dan ingin menolak namun saya takdapat berkata tidak bukan,jadi jika ini pilihan terbaik dari kalian saya akan berusaha menerima nya.''tegas fer yang menyampaikan keputusan nya.


Papah dan yang lain merasa lega karena fer menerima gita.


''T-tapi k-kalau anda merasa terpaksa lebih baik jangan...''ucap gita memberanikan diri.


Fer mengetatkan rahang nya dan tangan nya mengepal keras,ia membuang tatapan nya ke arah lain.


''Saya hanya ingin berbakti kepada kedua orang tua saya,dan mungkin salah satunya dengan menikahimu.''tegas fer.


Pakde umar tersenyum kecil ke arah ponakan nya,ia bangga melihat cara didik adiknya yang ternyata tetap mengedepankan rasa hormat,berbakti dan menghargai keputusan orang tua.


''Nah....sekarang fer bersedia tapi sayang nya pakde dan bude mu hanya sebentar berada dikota ini, oleh karena itu pakde ingin melihat secara langsung kamu mengucapkan ijab qobul didepan pakde mu ini fer...apa kamu bersedia menikah sekarang didepan pakde?''


Bertambah pula kedongkolan dihati fer namun ia pun tak akan pernah bisa menolaknya karena sosok pakde dan papahnya selalu menjadi panutan untuknya.


''Baiklah...''

__ADS_1


__ADS_2