
Begitu mendapat perkataan menyakitkan dari sosok Helios, Putri Agachia yang memang menyukai Helios pun membuatnya kembali mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh sosok Naphelle yang sudah membuatnya mendapat perkataan buruk dari Pangeran yang ia cintai.
Tanpa berpikir panjang, Putri Agachia yang sudah lebih dulu dibuat kecewa akan hal itu pun bergegas menuju tempat berkumpul nya para pembunuh bayaran di Kota Xerxes.
Sesampainya ia ditempat perkumpulan tersebut, sosoknya yang sudah dikenal oleh banyak pembunuh bayaran itu pun langsung disambut dengan hangat. Karena mereka tau kedatangan Putri Agachia ke sana adalah untuk mempekerjakan mereka.
"Wah wah, ternyata kalian sedang bersantai, ya. Maaf sudah mengganggu kesenangan kalian..." Tutur Putri Agachia yang kemudian dipersilahkan untuk duduk pada salah satu kursi yang memang sedang kosong.
"Tidak apa apa, Putri Agachia. Saya merasa terhormat anda kembali datang ke sini" Kata ketua pembunuh bayaran yang tak lain bernama Leander.
"Hmm, aku akan memberikan kalian pekerjaan untuk membunuh Putri Naphelle dari Kerajaan Versailles" Tutur Putri Agachia yang seketika membuat kedua mata Leander terbelalak karena terkejut.
"Kenapa ekspresi mu begitu, Leander?" Tanya Putri Agachia saat tak sengaja melihat wajah Leander yang memperlihatkan ekspresi tidak menyenangkan.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf pada Putri Agachia karena tidak bisa membantu Anda untuk membunuh Putri Naphelle" Ucapnya setengah gagap.
"Memangnya kenapa?"
"Karena pembunuh bayaran yang siang tadi saya tugaskan untuk membunuh Putri Naphelle semuanya meninggal di tempat tanpa bekas luka ditubuh mereka. Kami khawatir hal itu akan terjadi lagi, dan membuat kami kekurangan pembunuh bayaran" Jelas Leander dengan tatapan sedih.
"Heuh, rupanya begitu. Jelas saja Putri Naphelle datang ke Istana tanpa ada luka sedikitpun. Ternyata pembunuh bayaran mu gagal menyerangnya. Padahal aku berniat untuk membayar mu 5× lipat dibandingkan biasanya" Lontar Putri Agachia yang sontak membuat Leander kebingungan harus melakukan apa.
"Hm..., ba-baiklah! Saya akan mengusahakan nya, tunggu sebentar Putri Agachia" Seru Leander yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke arah para perkumpulan yang sedang bersenang-senang menikmati minuman mereka.
"Hai semuanya!!! Perhatian!!!" Teriak Leander sukses menyita perhatian para perkumpulan nya.
"Putri Agachia membutuhkan beberapa pembunuh bayaran untuk membunuh Putri Naphelle dari Kerajaan Versailles! Putri akan membayar kita 5× lipat lebih banyak dari biasanya" Terang Leander memberitahukan. Para perkumpulan yang sedang memperhatikan nya kini saling menoleh satu sama lain dan berbisik.
"Ketua!" Teriak salah seorang diantara mereka sembari mengangkat tinggi tinggi tangan kanan nya.
__ADS_1
"Iya?"
"Bukan kah pembunuh bayaran yang siang ini melakukan pekerjaan serupa mengalami kematian yang perlu di pertanyakan? Kenapa kita harus melakukan pekerjaan itu lagi?" Lontar nya membuat yang lainnya mengangguk kan kepala mereka.
"Bagaimana jika aku bayar 20× lipat lebih banyak? Dan aku membutuhkan 20 pembunuh bayaran" Tawar Putri Agachia yang sukses membuat para pembunuh bayaran di sana menyetujui kesepakatan itu.
...----------------...
Malamnya, sesuai yang Putri Agachia minta sebelumnya. 20 pembunuh bayaran yang sudah terpilih secara khusus langsung melaksanakan tugas mereka. Malam itu juga mereka datang ke Kerajaan Versailles pada tengah malam. Tentu saja, Ksatria yang awalnya sedang berjaga sudah kehabisan stamina mereka hingga lalai untuk melakukan pekerjaan mereka.
20 pembunuh bayaran itu bergerak masuk ke kamar Naphelle. Mereka yang mendapati sosok Naphelle sedang tertidur pun segera melangkahkan kaki mereka masuk secara bersamaan. Mereka yang sudah bersiap untuk membunuh Naphelle secara bersama-sama sontak dikejutkan oleh tawa menyeringai dari Naphelle.
"Hahaha!! Nyali kalian besar juga!" Ucapnya yang kemudian membuka kedua matanya.
"Ayo habisi dia!!" Teriak salah satu diantara mereka memberikan instruksi.
Pisau yang ada ditangan mereka yang bertugas untuk menusuk tubuh Naphelle mendadak jatuh. Tidak hanya satu atau dua, melainkan semuanya. 20 pembunuh bayaran itu kemudian ternganga setelah menyadari bahwa tubuh mereka tidak bisa digerakkan sama sekali.
"Aku juga tidak bisa! Bagaimana mungkin!!!"
"Heuh, sayang sekali kalian harus mati mengenaskan seperti yang lainnya. Sebelum kalian musnah, ada baiknya kalian memberitahu ku siapa yang sudah menyuruh kalian untuk membunuh ku?" Tanya nya dengan raut wajah sinis sembari menyentuh dagu salah satu diantara banyaknya pembunuh itu.
"Pu-Putri Agachia yang sudah menyuruh kami melakukan hal ini!! Tolong maafkan kami!" Katanya dengan suara lantang yang menggema di ruang kamar Naphelle.
Menyadari ada suara suara bising dari kamar Naphelle, membuat Helios bergegas masuk ke dalam kamar yang tak dikunci itu. Begitu ia masuk, 20 banyaknya orang yang berada di sana mendadak semuanya terjatuh ke lantai.
"Tu-Tuan Putri?" Panggil Helios yang sudah diketahui kedatangan nya oleh Naphelle.
"Oh, ada apa?" Tanya nya tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Apa yang anda lakukan pada mereka?" Tanya Helios yang gemetaran begitu melihat Naphelle membunuh 20 orang sekaligus.
"Mereka pembunuh bayaran suruhan Putri Agachia. Sepertinya aku tidak mempunyai kesabaran untuk meredakan emosi ku" Papar Naphelle sembari tersenyum sinis mengarah pada Helios.
"Saya mengerti situasi Anda saat ini, Tuan Putri. Tapi....di kehidupan sebelumnya Anda bahkan tidak pernah melakukan hal ini" Lontar nya dengan raut wajah khawatir.
"Lalu? Apakah aku akan mengulangi kesalahan yang sama seperti kehidupan sebelumnya? Tentu saja tidak!" Ketus Naphelle yang kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Tanpa berkata sedikit pun, sosok Helios langsung meninggalkan ruangan kamar Naphelle. Mengetahui kekecewaan dari kerabatnya, Naphelle hanya memperlihatkan senyuman kecil tanpa penyesalan sedikit pun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kicauan burung terdengar begitu nyaring di telinga Naphelle, ia yang awalnya masih tertidur pulas kini terbangun setelah mendengar kicauan burung yang membunyikan suara merdu mereka.
Naphelle yang baru saja terbangun, mendadak didatangi seorang pelayan yang tidak begitu dekat dengan nya.
"Ada urusan apa kau datang kesini?" Tanya Naphelle tanpa berbasa-basi.
"Putri Naphelle, saya ingin memberikan undangan dari Putra Mahkota Carsten pada Anda" Jawabnya yang kemudian memberikan undangan pemberian Putra Mahkota Carsten pada Naphelle.
"Baiklah, silahkan pergi"
"Baik, Putri"
Tanpa berpikir panjang, Naphelle langsung membuka undangan dari Putra Mahkota Carsten setelah menerima nya. Isi surat yang memerintahkan Naphelle untuk datang ke Istana pun di balas dengus an olehnya. Ia membelai rambut panjang nya yang berwarna ungu sambil menatap sekeliling sudut ruangan kamar nya.
"Kenapa lagi lagi aku harus datang ke Istana? Sungguh membosankan!" Geramnya dengan ekspresi kecewa. Ia pun segera mempersiapkan diri untuk datang ke Istana sebelum siang tiba.
...----------------...
__ADS_1
Selang beberapa waktu, akhirnya Naphelle pun sampai di Istana saat langit masih menunjukkan waktu pagi. Ia yang masuk ke dalam ruangan Istana mendadak disambut oleh seorang Pangeran yang sebelumnya ia lihat beberapa waktu lalu. Namun ia masih belum mengetahui nama dari sosok itu sama sekali.
Bersambung...