
Mendapati sosok yang tidak ia ketahui namanya sama sekali, membuat Naphelle hanya memberinya sebuah senyuman kecil. Menyadari bahwa sepertinya sosok Naphelle akan menghindari nya, Pangeran itu pun langsung menyapa nya lebih dulu dibandingkan Naphelle.
"Selamat pagi, Naphelle...." Sapa Pangeran itu.
"Ah, selamat pagi, eeehm.." Balas Naphelle yang menghentikan ucapan nya saat hendak memanggil gelar lelaki dihadapan nya.
"Apa kau lupa dengan ku?" Tanya nya dengan raut wajah kesal.
"Ayo Maggie! Waktunya sekarang untuk mu kembali berpikir keras! Ini benar-benar hal mendesak!!! Kenapa di saat seperti ini Helios malah tidak ikut?!" Gumam Naphelle sembari memejamkan kedua matanya.
"Nama ku Pangeran Eleuther. Sekarang kau sudah mengingat ku?" Lontar lelaki itu yang ternyata adalah Eleuther.
"Maaf, Pangeran. Saya tidak bermaksud melupakan Anda, tapi sepertinya ini pertemuan kali pertamanya dengan Anda setelah saya mengalami kecelakaan kereta kuda beberapa periode lalu" Papar Naphelle berusaha mencari alasan.
"Oh, jadi kau sempat hilang ingatan ya? Sayang sekali" Celetuk Pangeran Eleuther sembari menghembuskan nafasnya.
"Tidak, bukan begitu. Saya hanya sedikit lupa nama Anda, itu saja..." Jawab Naphelle dengan tatapan kesal.
"Karena kali ini saya ada urusan dengan Putra Mahkota Carsten, jadi saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Anda karena tidak bisa mengobrol lebih lama lagi, saya permisi" Ucap Naphelle yang kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari Pangeran Eleuther.
"Menarik...., sifatnya benar-benar sudah berubah" Kata Pangeran Eleuther sembari menyeringai.
"Menarik kata mu?" Tanya seseorang dari arah belakang Eleuther dengan wajah yang sudah geram. Mendengar suara ribut yang terdengar cukup keras bagi Naphelle, membuatnya segera berbalik arah ke tempat semula.
"Ah....Carsten? Sejak kapan kau ada di sini? Rupanya aku sudah salah bicara, ya"
"Lebih dari kata salah. Siapa yang menyuruh mu berbicara dengan Putri Naphelle?" Tanya Putra Mahkota Carsten yang sudah kehilangan kesabaran lantaran kata kata yang tak sengaja ia dengar dari mulut Eleuther.
"Lagipula dia juga tidak menyukai mu, dia lebih menyukai ku, kan?"
__ADS_1
"Itu dulu, tapi sekarang dia sudah berbeda"
Mendengar perbincangan antara kedua belah pihak tepat di hadapan nya, sontak membuat Naphelle terkejut. Karena ternyata ia telah membuat kesalahan pada diri Naphelle yang sekarang.
"Maaf sudah menyela...." Teriak Naphelle dari lorong Istana seraya berjalan mendekat ke arah sosok 2 lelaki itu.
"Tuan Putri? Kenapa Anda ada di sini? Bukan kah Anda mencari Putra Mahkota?" Tanya Pangeran Eleuther berbasa-basi.
"Aku ke sini karena ternyata Putra Mahkota berada di sini" Jawab Naphelle dengan tatapan sinis.
"Ah, benar juga. Carsten, sepertinya sudah waktunya aku pergi untuk membiarkan kalian berdua berbicara dengan santai" Celetuk Pangeran Eleuther yang kemudian berjalan menjauh dari Naphelle juga Putra Mahkota.
Karena merasa canggung dan menyadari bahwa Naphelle mendengar perbincangan nya dengan Eleuther, Putra Mahkota Carsten pun mengajak Naphelle menuju perpustakaan Istana. Lokasinya yang tak jauh berada di dalam Istana membuat keduanya tidak merasa kelelahan.
Sesampainya di Perpustakaan Istana, Naphelle yang mendapati ruangan dengan tatanan yang rapih nan bersih pun langsung merasa kagum begitu pertama kali melihatnya. Ia sampai tak sadar sudah berjalan jalan cukup lama mengitari setiap rak yang diisi dengan susunan yang begitu rapih.
Masih fokus dengan kebersihan dan suasana nyaman di Perpustakaan Istana, mendadak sebuah buku yang terlihat kuno jatuh dari rak paling atas dimana ia sedang berjalan di sekeliling nya.
"Tuan Putri, Anda sedang apa?" Tanya Putra Mahkota Carsten sembari memegangi tangan Naphelle yang hendak membuka lembaran pada buku kuno itu.
"Putra Mahkota? Sa-saya sedang, ee.. sebenarnya saya ingin menaruh kembali buku ini. Karena tiba-tiba saja buku ini terjatuh dari rak paling atas, jadi saya tidak bisa mengembalikan nya" Tutur Naphelle menjelaskan.
"Berikan pada saya, saya akan menaruhnya kembali"
"Ah, ini..."
Selepas mengembalikan buku kuno itu pada tempatnya, mendadak Putra Mahkota Carsten bersikap sedikit aneh. Naphelle yang merasa bersalah pun jadi merasa tidak enak sudah menghilangkan suasana hati Putra Mahkota.
"Oh ya, Anda silahkan mengambil dan membaca buku yang ada di rak depan. Karena di rak belakang bukunya lumayan berdebu dan membosankan, jadi saya harap Anda tidak membaca buku buku yang berada di barisan belakang" Papar Putra Mahkota Carsten secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Baiklah, saya minta maaf karena tidak tau jika buku di-.... "
"Tidak apa apa, Tuan Putri. Silahkan bersantai"
"I-iya..."
"Kenapa sikapnya mendadak berubah seperti itu? Padahal sebelumnya dia terlihat senang bisa berduaan dengan ku. Lalu dia bilang buku di barisan belakang sedikit berdebu, itu aneh...padahal tadi bukunya bersih" Pikir Naphelle sembari bergumam membayangkan yang tidak tidak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Karena langit sudah menunjukkan waktu siang, dan juga ia sudah cukup lama berada di Istana. Naphelle pun memutuskan untuk kembali ke Kerajaan agar bisa bersantai. Namun ternyata keinginan nya untuk bersantai tidak tercapai setelah Pangeran Eleuther memberinya perintah untuk memberi dana bantuan bagi para rakyat yang kekurangan. Walaupun awalnya merasa malas, namun ia tidak bisa menolak kehendak Pangeran Raja dan terpaksa harus menuruti perintah nya.
Tentu saja, pangan dan sandang berasal dari Istana. Itu artinya Naphelle hanya perlu memberikan nya saja sebagai perantara.
Suasana desa yang begitu ramai dengan terik matahari yang memancar membuatnya merasa sesak dan sedikit kesal karena Eleuther seenaknya memerintah kan hal yang seharusnya dilakukan oleh para Ksatria Istana. Dan lagi Naphelle yang sekarang adalah Maggie yang baru pertama kali melihat Eleuther.
"Terima kasih, Putri Naphelle. Anda sangat baik hati" Ucap salah seorang rakyat yang terlihat begitu kekurangan akan sandang yang dipakainya.
"Sama sama...." Balas Naphelle sembari memberikan senyuman lebar yang hanya terlihat di luarnya saja.
Berbagai ucapan terima kasih mereka berikan pada Naphelle yang saat itu berperan sebagai penyumbang dana. Tak terasa ternyata ia sudah cukup lama berada di sana, kurang lebih selama 1 jam. Sampai pada akhirnya, dana bantuan berupa sandang dan pangan pun habis. Itu artinya pekerjaan nya pada siang itu yang dihiasi dengan terik matahari pun selesai.
Karena terlalu lama berdiri dan membuatnya cukup lelah, Naphelle pun memutuskan untuk lebih dulu menaiki kereta kuda yang tak jauh dari posisinya memberikan dana bantuan. Ia yang berjalan kurang hati hati, membuatnya tak sengaja menabrak seorang lelaki berambut merah dengan bola mata hijau yang nampak asing di matanya.
Tapi anehnya, raut wajah lelaki berambut merah itu mendadak berubah setelah menatap wajah Naphelle. Kedua matanya terbelalak seakan melihat sesuatu yang sangat mengerikan.
"Bayangan hitam di sekeliling nya begitu tebal. Aura nya juga berbeda dengan yang lain, aku baru pertama kali melihat seseorang yang penuh dosa seperti ini" Gumam lelaki berambut merah itu yang kemudian langsung pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Naphelle yang mendapati hal itu hanya sedikit meluapkan emosinya lantaran lelaki itu tidak mempunyai sopan santun begitu menabrak seorang Putri Kerajaan dan pergi begitu saja.
__ADS_1
"Memangnya dia pikir dia siapa? Berani seenaknya berbuat seperti itu pada ku! Bukannya menyapa atau meminta maaf! Awas saja jika lain kali kita bertemu lagi, tidak segan segan aku menghabisi mu!" Geram Naphelle dengan tatapan penuh ambisi.
Bersambung....