Lahirnya Kembali Sang Penguasa Kegelapan

Lahirnya Kembali Sang Penguasa Kegelapan
Episode 19-Pengkhianatan


__ADS_3

Kicauan burung dan hembusan angin yang masuk melewati lubang udara membuat suasana terasa damai. Pagi itu, Naphelle langsung terbangun setelah ia merasa tangan nya sedang dipegang oleh seseorang.


Perlahan ia membuka kedua matanya yang terasa berat.


"Helios?" Panggil Naphelle setelah ia membuka lebar lebar kedua matanya.


"Selamat pagi, Tuan Putri" Sapa Helios di iringi senyuman lebar yang mengembang di wajahnya.


"Ternyata sudah pagi, aku harus segera kembali ke Kerajaan" Celetuk Naphelle sembari membelai rambut panjang nya.


"Kenapa Anda terburu-buru? Bukankah disini lebih nyaman untuk bersantai" Cetus Helios dengan tangan yang masih memegangi tangan Naphelle dengan erat.


"Kau memang nyaman berada disini, tapi tidak dengan ku"


Tanpa menunda waktu lagi, Naphelle yang masih terlihat lelah setelah terbangun dari tidurnya langsung beranjak dari ranjang nya dan bersiap siap untuk kembali ke Kerajaan Versailles.


...----------------...


Beberapa jam setelah kepulangan Naphelle kembali ke Kerajaan nya, orang kepercayaan Eireen yang semalam menyaksikan secara langsung tergeletak nya para mayat kembali didatangi oleh Eireen. Namun, ia datang menemui orang kepercayaan nya didampingi oleh beberapa Ksatria Istana yang terlihat cukup menyeramkan.


Dengan perkataan yang begitu lembut, hati orang kepercayaan nya luluh begitu saja. Ditambah, Eireen kembali menanyakan akan kejadian yang terjadi semalam, wanita itu langsung menceritakan kejadian demi kejadian yang ia lihat secara langsung di kamar Naphelle malam itu begitu Eireen menawarkan berlian dengan harga tinggi.


"Yang Mulia Ratu, maafkan saya karena telah berbohong pada Anda. Sebenarnya, semalam saya melihat semua orang-orang Anda telah dibunuh dengan mengenaskan oleh Pangeran Helios Alceo. Tapi saya tidak berani menceritakan nya pada Anda, karena saya diancam oleh Pangeran Helios" Tutur wanita itu menginformasikan.


"Helios Alceo itu.....bukankah dia kerabat Naphelle?" Tanya Eireen memastikan.


"Benar, Yang Mulia Ratu"

__ADS_1


Ternyata kejanggalan yang Eireen rasakan semalaman benar adanya. Ia tau bahwa orang-orang kepercayaan nya telah dibunuh oleh seseorang yang dekat dengan Naphelle, orang itu tak lain adalah Helios. Apalagi ia sudah menduganya sejak awal, tidak mungkin Naphelle melakukan hal seperti itu sendiri karena pasti ia dibantu oleh orang lain.


"Tapi, kenapa aku tidak menemukan apa apa di kamarnya tadi? Bukankah kau bilang bahwa orang-orang ku telah dibunuh?" Tanya Eireen yang merasa masih ada kejanggalan yang belum terpecahkan.


"I-iya, saya melihatnya dengan kedua mata saya sendiri. Orang-orang yang Anda perintahkan untuk membunuh Putri Naphelle....semuanya telah tiada" Ujarnya meyakinkan Eireen.


"Ada yang aneh, kenapa tidak ada satu pun mayat di kamar Naphelle semalam? Apa mereka memindahkan mayat-mayat itu ke tempat lain?" Pikir Eireen dalam hati sembari bergumam.


Wanita di hadapannya menunduk cukup lama saat mendapati dirinya yang juga terdiam dalam waktu yang lama. Karena merasa informasi yang ia dapatkan tidak akan lebih, Eireen pun memberikan berlian dengan harga tinggi itu sesuai janjinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa saat setelah perbincangan mereka selesai, wanita kepercayaan Eireen yang merasa dirinya kini aman dari Helios karena ia telah kembali ke Kerajaan nya pun sampai dibuat lupa akan karakteristik Helios yang banyak diperbincangkan para pelayan juga rakyat desa akhir akhir ini.


Ia yang merasa sudah sangat aman, dengan santainya pergi ke luar Istana untuk membeli buah-buahan yang nantinya akan dihidangkan oleh anggota keluarga Kekaisaran.


Belum lama ia keluar dari Istana, hatinya kembali bergejolak lantaran sosok Helios yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya sontak membuatnya terkejut setengah mati.


"Pa-pangeran Helios!!!! Tolong ampuni saya!!!" Teriak wanita itu yang merasa sudah terpojok kan.


"Sekarang kau baru mengatakan kata maaf? Sungguh menyedihkan!!!" Seloroh Helios dengan langkah kaki yang terus mendekat pada wanita itu.


"Sa-saya terpaksa melakukan hal ini Pangeran!" Teriaknya lagi memberi alasan agar dirinya bisa tetap hidup.


"Mau sampai kapan kau akan mengatakan kata TERPAKSA dalam hidupmu? Hah?!" Sanggah Helios sambil menyeringai.


"Sa-saya benar-benar tidak sengaja, saya melakukan hal itu memang karena terpaksa!! Saya tidak membuat alasan, Pangeran. Mohon percayalah pada saya" Ucapnya meminta ampun dengan kedua mata yang terus mengeluarkan cairan bening.

__ADS_1


"Sepertinya kita tidak perlu berbasa-basi lagi, oh ya.....hanya dengan berlian murahan ini, kau sampai berani mengkhianati ku ya?" Seloroh Helios sembari mengambil berlian pemberian Eireen dari wanita muda itu.


"Ti-tidak, jangan!!! Itu barang berharga milik ku!!!" Geram wanita itu sambil berusaha meraih tangan Helios yang sedang memegangi berlian tersebut.


Namun naas, wanita muda itu seketika dipenggal kepalanya oleh Helios yang sudah kehilangan kesabaran lantaran geram pada seseorang yang hanya pelayan Istana namun berani mengkhianati nya. Ia kemudian menaruh kembali berlian yang diambilnya dari kantung kain wanita itu dan pergi meninggalkan mayatnya begitu saja.


...****************...


Setelah ia kembali ke Kerajaan Versailles dimana tempat tinggal Naphelle berada, ia mendapati Putra Mahkota Carsten yang tengah berbincang-bincang dengan Naphelle. Tentu saja, hatinya terasa sakit saat melihat Naphelle sedang berbicara dengan lelaki lain yang umurnya tidak jauh dengan nya. Karena tidak ingin membuat Naphelle marah padanya, dengan perasaan terpaksa Helios pun meninggalkan keduanya di taman yang masih belum menyadari akan keberadaan nya di sana.


"Hahaha, saya tau Putri Naphelle akan berbuat demikian. Saya menyukai nya..." Seloroh Putra Mahkota yang sontak membuat Naphelle tertegun.


"Ah, iya.....tapi, itu bukanlah hal yang luar biasa. Saya melakukan nya karena merasa kesal saja" Sanggah Naphelle dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Begitu lamanya perbincangan mereka berlangsung, dan pada akhirnya Putra Mahkota Carsten meminta ijin untuk kembali ke Istana setelah langit terlihat cukup gelap akibat awan awan hitam yang menggumpal.


"Akhirnya serangga ini pulang juga" Gumam Naphelle sembari menatap kesal sosok Putra Mahkota dari arah belakang.


Hatinya merasa cukup lega setelah mengetahui bahwa lelaki itu hendak kembali, namun ia kembali dibuat geram lantaran kepulangan dari Putra Mahkota juga mendatangkan sosok lain yang ingin menemuinya. Sosok itu tak lain adalah Pangeran Eleuther.


"Selamat siang, Putri Naphelle" Sapa Pangeran Eleuther sembari memperlihatkan senyuman nya yang mampu menaklukkan hati para wanita.


"Ah, selamat siang, Pangeran. Senang bertemu dengan Anda" Balas Naphelle dengan ramah.


"Apakah saya mengganggu kalian berdua? Maaf, saya tidak tau bahwa Anda sedang bersama dengan Putra Mahkota" Tutur Pangeran Eleuther berbasa-basi.


"Ti-tidak, sebenarnya Putra Mahkota akan segera kembali ke Istana" Sanggah Naphelle sembari tersenyum kecil.

__ADS_1


Tanpa disadari, ternyata Helios juga menyaksikan ketiganya yang tengah berbincang membahas sesuatu yang tidak berguna ditengah pintu. Raut wajahnya seketika berubah drastis begitu mendapati Naphelle yang kini didekati oleh para lelaki asing. Tidak hanya dirinya, bahkan Putra Mahkota Carsten yang melihat secara langsung Pangeran Eleuther sengaja mengajak Naphelle berbicara juga merasa kesal.


Bersambung.....


__ADS_2