
Di sisi lain, Eireen Leto yang tidak suka akan kedatangan Naphelle di Istana pun merencanakan hal jahat. Ia menyuruh beberapa orang yang berperan sebagai pengikut setianya di Istana untuk membunuh Naphelle yang tengah beristirahat di kamar.
"Aku harus kembali!"
Setelah memastikan bahwa keadaan sudah benar-benar sepi dan tidak ada para penjaga yang sedang bertugas keliling ruangan, orang-orang Eireen pun menerobos masuk ke dalam kamar Naphelle. Perlahan mereka membuka pintu kamar Naphelle yang begitu besar dan berat. Setelah berhasil membuka pintu tanpa terdehgar sedikit pun suara, mereka dikejutkan oleh sosok Helios Alceo yang ternyata sedang bersama dengan Naphelle.
*Buk!*
Namun, mereka yang sudah terlanjur masuk tentu tidak bisa kabur begitu saja. Rencana yang sebelumnya sudah Eireen rancang untuk membunuh Naphelle tetap mereka kerjakan walaupun ada Helios di sana.
"Kita bunuh keduanya sekaligus!" Perintah salah satu diantara mereka yang sempat membuat beberapa di antaranya terkejut.
"Tapi ada Pangeran Helios Alceo, kita tidak mungkin bisa membunuh mereka berdua!" Timpal nya.
"Tidak apa apa, Pangeran Helios tidak mungkin bisa membunuh kita dengan jumlah yang banyak ini sekaligus! Bahkan Putri Naphelle pun tidak akan berdaya!" Lontar nya yang kemudian melangkah maju untuk menginstruksikan yang lainnya.
"Tuan Putri, Anda duduk saja. Saya bisa menuntaskan semuanya" Tutur Helios yang mampu membuat Naphelle setuju akan keputusan nya.
*Srang! Tank!*
*Bug!!!!*** Prank! Ztttt.... Srank!!!
Beberapa serangan Helios lakukan dan mampu membuat banyaknya orang-orang kepercayaan Eireen mati. Sekitar 40 orang telah Helios kalahkan dengan caranya sendiri tanpa bantuan dari Naphelle. Melihat kemampuan Helios yang meningkat, sempat membuat Naphelle tersenyum lebar dari sudut ruangan.
"Heuh, selesai..." Ucap Helios yang terlihat kelelahan.
"Apa kau kewalahan membunuh semua orang itu?" Tanya Naphelle dengan raut wajah bercanda.
"Tidak, Tuan Putri....hanya saja pergelangan saya terkilir saat hendak kembali kesini tadi. Jadi saya agak..." Tutur Helios yang langsung dipotong oleh Naphelle.
"Mana tangan mu yang terkilir? Akan aku obati..." Lontar nya yang kemudian melangkahkan kakinya untuk mengambil sapu tangan milik Helios yang sebelumnya diberikan pada nya.
__ADS_1
"Ah, tidak usah Putri Naphelle. Sebentar lagi pasti akan sembuh"
"Bagaimana bisa seperti itu? Tunggu sebentar"
Naphelle duduk tepat dihadapan Helios sembari memperhatikan betul-betul tangan kanan Helios yang terkilir. Ia kemudian memejamkan kedua matanya dan entah sihir apa yang ia gunakan hingga mampu membuat tangan Helios sembuh total.
"Sudah lebih baik?" Tanya Naphelle memastikan.
"Bagaimana Anda bisa melakukan hal ini, Putri?" Tanya Helios yang terkagum-kagum melihat kekuatan Naphelle yang belum pernah sekalipun dilihatnya.
"Sudahlah, itu tidak penting. Hal yang penting saat ini adalah.....siapa orang-orang itu?" Celetuk Naphelle sembari menatap tajam orang-orang kepercayaan Eireen yang semuanya sudah tergeletak tak bernyawa.
"Mereka adalah suruhan Ratu Eireen Leto" Jawab Helios yang masih sibuk degan tangan kanannya.
"Sebenarnya, tadi saya hendak keluar dari halaman Istana. Tapi saya tidak sengaja melihat orang-orang ini memakai pakaian serba hitam bersama dengan Eireen. Tentu saja saya merasa curiga, dari situlah saya memutuskan untuk mendekat dan menguping pembicaraan mereka. Dan ternyata mereka berniat untuk membunuh Anda, Tuan Putri" Lanjut ucap Helios.
"Jadi tangan mu terkilir saat kau akan kembali ke sini?"
"Benar, Putri..."
"Aku harap kau tidak mengulangi nya.."
"Baik, Putri Maggie. Sebenarnya saya melakukan hal ini karena khawatir dengan Anda" Ucap Helios penuh penyesalan karena sudah membuat Naphelle merasa kecewa akan tindakan nya.
"Baiklah, aku mengerti. Malam ini kau boleh menemani ku tidur..." Tutur Naphelle.
...----------------...
Di sisi lain, tengah malam yang diiringi oleh hembusan angin tidak membuat Eireen peduli sedikit pun. Ia berjalan ke sana kemari dengan perasaan cemas karena khawatir rencananya akan gagal dan menyeretnya masuk ke penjara bawah tanah yang ada di Istana.
Setiap kali Eireen berjalan, ia selalu menggigit kuku kuku nya yang sudah panjang. Raut wajahnya yang terlihat begitu khawatir pun tak bisa membohongi setiap orang yang melihatnya.
__ADS_1
Karena sudah begitu lama rencananya dilaksanakan dan tidak ada satu pun kabar dari mereka, Eireen memutuskan untuk mengutus satu orang kepercayaan nya yang masih tersisa untuk menyelinap masuk ke dalam kamar Naphelle dan memastikan bagaimana keadaan para orang-orang nya.
Sesuai perintah dari Eireen, ia pun sesegera mungkin menuju kamar Naphelle yang berada di lantai 2 Istana. Jantungnya berdebar kencang setiap kali ia menyentuh pegangan pintu, namun ia juga tidak mungkin hanya berdiam diri didepan kamar Naphelle untuk mengetahui situasinya saat ini.
Perlahan ia membuka pintu kamar Naphelle, hatinya terasa begitu lega setelah mengetahui bahwa Naphelle sedang tertidur pulas. Itu artinya, kedatangan nya ke kamar itu pun tak akan diketahui oleh siapapun. Namun, ia merasa begitu terkejut setelah melihat setiap sudut ruangan kamar Naphelle yang dipenuhi oleh mayat orang-orang kepercayaan Eireen.
Untuk memastikan nya lebih jelas, ia pun bertekad masuk dengan langkah kaki yang begitu pelan. Namun belum lama ia menginjak kan kakinya masuk ke dalam kamar, mendadak pintu kamar tertutup sendiri. Seorang lelaki yang tak lain adalah Helios Alceo turun dari lemari yang terletak dibelakang pintu.
"Siapa kau? Apa kau termasuk orang-orang suruhan Eireen?" Tanya Helios sembari mengacungkan pedang pada nya.
"Ma-maaf, aku...aku hanya melaksanakan tugas untuk memastikan bahwa mereka berhasil atau tidak. Aku tidak ada niatan untuk membunuh Putri Naphelle!!!" Ucapnya seraya meminta ampun pada Helios yang hendak memenggal kepalanya.
"Kali ini aku akan membebaskan mu dengan syarat......, kau tidak boleh memberitahu Eireen bahwa orang-orang nya sudah ku bunuh, tapi jika kau melanggar perjanjian ini, maka hidupmu tidak akan lama lagi" Ancam Helios dengan tatapan tajam mengarah pada wanita itu. Ia yang merasa takut dan tidak bisa berbuat apa-apa, lebih memilih untuk menyetujui perjanjian antara dirinya dengan Helios.
"Sekarang, keluar lah!" Perintah Helios dengan aura seperti akan membunuh.
Tanpa berpikir panjang, wanita itu langsung ke luar dari kamar Naphelle dengan wajahnya yang terlihat pucat pasi. Sebelum berpapasan dengan Eireen dan memberinya alasan, wanita itu memutuskan untuk segera kembali ke kamar tempat para pelayan tidur.
Namun keinginan nya tidak berjalan dengan lancar, begitu ia menuruni setiap anak tangga untuk menuju perkumpulan para pelayan, Eireen sudah lebih dulu mendatangi nya. Ia berjalan mendekat ke arah wanita kepercayaan nya yang tengah berdiri gemetaran setelah turun dari tangga.
"Bagaimana keadaan di dalam sana?" Tanya Eireen memastikan.
"Orang-orang kepercayaan Anda tidak berada di dalam, Ratu. Tapi keadaan Putri Naphelle saat ini baik-baik saja" Tuturnya yang sempat membangkitkan rasa curiga Eireen.
"Bagaimana bisa seperti itu?! Tidak mungkin, ini ada yang janggal..." Sanggah Eireen dengan wajah terheran-heran.
"Kau tidak berbohong pada ku, kan?" Lanjut ucap Eireen.
"Te-tentu saja tidak, Ratu. Saya berbicara jujur pada Anda" Seloroh nya dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Baiklah, kau boleh pergi"
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia Ratu..."
Bersambung....