
**Zrashhhh**Woshhh!!!**
Zrrshhh***!!
Suara hujan yang bergemuruh malam itu membuat suasana menjadi bising. Ditambah setiap kali ada orang yang berbicara, tidak dapat didengar dengan jelas. Padahal Para Ksatria dan juga pelayan sedang merayakan perjamuan atas kemenangan yang telah mereka raih selama beberapa dekade. Naphelle berjalan dan terus berjalan menuju sebuah ruangan dengan pintu yang posisinya sedang terbuka lebar. Ia kemudian memasuki nya tanpa rasa ragu sedikit pun.
"Kenapa kau ada di sini?" Tanya seorang lelaki tampan yang tak lain adalah Raja Yordan.
"Seharusnya saya yang bertanya pada Anda, malam ini orang-orang sedang merayakan perjamuan atas kemenangan yang telah diraih. Tapi kenapa Anda berada di sini dan tidak menemani Para Ksatria juga pelayan?" Lontar Naphelle yang mampu membuat Raja Yordan terdiam.
"Aku sedang membaca buku bersejarah. Memangnya tidak boleh?" Jawab Raja Yordan yang kemudian menutup buku yang sedang berada di tangannya.
"Baiklah, saya akan mengatakan nya secara langsung pada Anda. Tawaran ini berlaku atas kesepakatan saya dengan seseorang. Yah, bisa dibilang Anda lebih beruntung" Celetuk Naphelle dengan senyuman sinis yang nampak mengerikan di wajahnya.
"Apa maksud mu?"
"Saya akan mengambil kekuasaan wilayah Anda juga wilayah kekuasaan Kota Windsor yang baru mendarat di tangan Anda. Singkatnya, saya membantu Anda dengan alasan akan mengambil kedua kekuasaan wilayah setelahnya" Jelas Naphelle.
"Kenapa kau terang-terangan mengatakan nya pada ku? Bukankah jika seorang penjahat akan langsung membunuh orang yang bersangkutan tanpa harus mengatakan nya lebih dulu?" Ketus Raja Yordan yang merasa heran akan perilaku Naphelle.
"Anda tidak perlu banyak bertanya. Pilih salah satu di antara keputusan yang telah saya buat. Satu, Anda secara damai akan memberikan kedua kekuasaan wilayah yang telah menjadi milik Anda, yaitu wilayah kekuasaan Kota Benrath dan Kota Windsor. Keuntungan yang Anda dapatkan, tidak lain adalah keselamatan para Ksatria, pelayan juga penduduk desa yang tengah menunggu kepulangan Anda dari perbatasan wilayah ini"
"Kedua, Anda memberontak dan tidak setuju untuk memberikan kedua kekuasaan wilayah tersebut. Tapi tidak ada yang menjamin adanya keselamatan bagi rakyat Anda termasuk Yang Mulia sendiri" Lanjut ucap Naphelle yang langsung dibalas senyuman kecil dari Raja Yordan.
...----------------...
Flashback on**
*Tok! Tok! Tok!*
Suara ketukan pintu kamar Raja Yordan terdengar. Sang Raja yang awalnya sedang beristirahat dengan cara memejamkan kedua bola matanya kemudian dibuat terbangun lantaran suara ketukan pintu tersebut.
__ADS_1
Ia beranjak turun dari ranjangnya untuk membukakan pintu pada orang yang berada di luar. Seorang pria yang terlihat asing baginya nampak memperhatikan nya dengan seksama.
"Siapa kau?" Tanya Raja Yordan begitu mendapati sosok yang tak dikenal nya.
"Perkenalkan nama ku Okeanos, aku seorang Kardinal. Jadi kau boleh memanggilku dengan sebutan Kardinal Okeanos" Jawab Kardinal memperkenalkan diri.
Mereka kemudian membicarakan sesuatu yang terdengar mustahil di telinga Raja Yordan. Namun dengan perkataan nya yang terdengar serius, membuat Raja Yordan mempercayai semua yang telah dikatakan oleh Kardinal.
"Jadi maksud mu aku harus memberikan kedua kekuasaan wilayah ini pada Putri Naphelle?' Tanya Raja Yordan memastikan.
"Benar, karena seberapa keras pun Anda berusaha untuk mencegah nya, hal itu tidak akan pernah terjadi. Saya harap Anda tidak berusaha membunuh nya di saat Putri Naphelle sedang tidur" Cakap Kardinal Okeanos memberitahukan.
"Baiklah, saya akan berusaha"
*Flashback off**
...----------------...
...****************...
Hembusan angin masuk melalui celah jendela yang terbuka lebar di kamar Naphelle. Karena cuacanya dingin, angin yang berhembus masuk itu langsung membangunkan Naphelle yang tengah tertidur.
Selang beberapa waktu, pasukan Ksatria nya telah berkumpul di depan halaman penginapan mereka. Nampak beberapa kuda yang sudah ditunggangi oleh masing-masing pemilik nya.
Naphelle yang baru saja keluar dari penginapan langsung disambut oleh Raja Yordan. Ia berpamitan pada sang Raja setelah membuat kesepakatan semalam. Terlihat senyuman yang mengembang dari wajah Raja Yordan, tentu Naphelle membalas dengan senyuman yang sama.
"Semoga kesepakatan kita akan berjalan dengan lancar dan tidak akan ada yang saling mengkhianati" Tutur Naphelle menutup pembicaraan antara diri nya dengan Raja Yordan.
"Baiklah, hati hati di jalan..." Kata Raja Yordan memberikan do'a.
Setelahnya, Naphelle langsung memasuki kereta kuda yang sudah siap untuk melakukan perjalanan panjang. Ia beserta rombongan nya berjalan dan terus berjalan hingga tak terlihat sedikitpun punggung mereka.
__ADS_1
Beberapa kali Helios sempat melihat ke arahnya ketika berada di dalam kereta kuda. Menyadari bahwa Helios hendak mengatakan sesuatu, Naphelle pun membuka pembicaraan untuk memecahkan keheningan yang berlangsung panjang di antara ketiganya.
"Sudah ku duga rencana ku berjalan dengan lancar" Cetus Naphelle sembari menatap kedua orang di hadapannya.
"Tapi, bagaimana Anda bisa membujuk Raja Yordan dalam waktu singkat?" Helios melontarkan pertanyaan yang sejak tadi terbayang di dalam benaknya.
"Karena ada kesepakatan yang menguntungkan bagi kita berdua. Yah, karena merasa kasihan, aku tidak jadi mengambil kekuasaan wilayah mereka. Tapi bisa dibilang kekuasaan itu milik ku juga milik Raja Yordan" Tutur Naphelle menjelaskan.
"Tapi, bagaimana jika Raja Basilio berpikir bahwa Anda telah gagal melaksanakan tugasnya?" Tanya Helios secara spontan.
"Tidak akan, karena Raja Yordan telah menyetujui kesepakatan ku akan hal itu. Dia akan menganggap bahwa aku telah berhasil mengalahkan nya. Aku harap kalian memahami perkataan ku, Kardinal, Helios" Lanjut ucap Naphelle sambil memalingkan wajahnya melihat pemandangan ke arah luar jendela.
...----------------...
1 bulan berlalu, perjalanan panjang Naphelle akhirnya usai setelah ia beserta rombongan nya sampai di wilayah Barat, tempat dimana Kerajaan Versailles berdiri.
Kepulangan nya yang diketahui oleh banyak orang membuat berita itu menyebar hingga ke Istana. Tidak hanya itu, para rakyat juga anggota Kerajaan Versailles menyambut kepulangan mereka dengan meriah. Mereka ditaburi bunga ketika melewati gerbang Kerajaan Versailles, juga ditawarkan beberapa makanan yang nampak enak.
"Putri ku!!! Kau telah kembali dengan selamat!!" Teriak Duke Rhodes sembari berlari ke arahnya.
Ia langsung memeluk Naphelle dengan erat begitu Naphelle turun dari kereta kuda nya. Tentu Naphelle membalas pelukan sang ayah dengan erat.
"Sudah kubilang aku akan baik baik saja" Tutur Naphelle dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Ayah tidak menyangka kau akan tumbuh menjadi wanita yang kuat seperti ini. Padahal sebelumnya ayah berpikir bagaimana cara membuat mu berubah tanpa harus ayah yang mengatakan nya" Lontar Duke Rhodes yang nampak mengeluarkan cairan bening dari kedua bola matanya.
Melihat sosok Kardinal yang juga turun dari kereta kuda sempat membuat Duke Rhodes merasa heran. Karena ia yakin bahwa Kardinal yang ada di hadapannya saat ini tidak ikut saat keberangkatan bersama Naphelle ke perbatasan antara dua wilayah.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀
__ADS_1