Lahirnya Kembali Sang Penguasa Kegelapan

Lahirnya Kembali Sang Penguasa Kegelapan
Episode 17-Menginap


__ADS_3

Hembusan angin begitu hebat, membuat sekujur tubuh Naphelle kedinginan karena ia mengenakan gaun dengan bahan tipis. Begitu ia keluar dari Kerajaan tersebut, Putra Mahkota Carsten yang sedang berbicara dengan tuan rumah ternyata berada di luar Kerajaan. Tentu saja, Naphelle yang awalnya tidak ingin memberitahu Putra Mahkota bahwa dirinya akan pulang pun terpaksa harus berpamitan dan memberi alasan.


"Tuan Putri, kenapa Anda keluar?" Tanya Putra Mahkota memastikan.


"Aku merasa tidak enak badan, jadi aku memutuskan untuk pulang" Jawab Naphelle secara spontan.


"Baiklah, ayo kita pulang"


"Tapi, bukankah Anda belum selesai mengobrol dengan Marques?" Ucap Naphelle berusaha menghentikan kepergian Putra Mahkota.


"Saya sudah selesai mengobrol dengan Marques, jadi saya bisa mengantarkan Anda pulang" Tutur Putra Mahkota yang kemudian menoleh ke arah Marques dan di balas senyuman.


Walaupun terpaksa, Naphelle pun menerima permintaan Putra Mahkota untuk mengantarkan nya pulang. Waktu 1 jam mereka gunakan untuk sampai di Istana, dan masih membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam lagi untuk sampai di Kerajaan Versailles.


Merasa kasihan pada Naphelle yang mengatakan bahwa dirinya tidak enak badan, Putra Mahkota Carsten pun memutuskan untuk mengajak Naphelle menginap di Istana. Hal itu ia lakukan karena khawatir perjalanan malam hari bagi Naphelle tidak begitu baik.


"Tuan Putri, bagaimana jika malam ini Anda menginap di Istana? Jika Anda harus kembali ke Kerajaan yang akan memakan waktu 3 jam, apakah tidak akan terlalu berbahaya?" Seloroh Putra Mahkota begitu keluar dari kereta kuda yang dinaiki olehnya.


"Hmm, tapi....apakah Kaisar akan mengijinkan nya?" Tanya Naphelle memastikan.


"Tentu saja Ayah akan mengijinkan Putri untuk tinggal di Istana. Apalagi Putri adalah calon tunangan saya, kan?" Tutur Putra Mahkota dengan wajah penuh harapan.


"Baiklah, saya akan tinggal di sini untuk malam ini saja" Seru Naphelle yang kemudian turun dari kereta kuda dan mengikuti langkah kaki Putra Mahkota Carsten yang masuk ke dalam Istana.


Begitu banyak Ksatria, pelayan dan juga pengawal yang menyambut kedatangan mereka. Belum panjang perjalanan Naphelle menginjak kan kaki di tanah Istana, mendadak Raja Basilio mendekati Naphelle yang hendak berjalan ke ruang utama Kekaisaran.


"Hormat pada Yang Mulia Raja" Kata Naphelle memberi salam dan hormat.


"Ayah, malam ini Putri Naphelle akan tinggal di sini, aku khawatir jika dia harus pulang sendiri ke Kerajaan Versailles" Papar Putra Mahkota Carsten menginformasikan.


Sang Raja hanya mengangguk ditambah dengan senyuman yang lebar. Walaupun begitu, Naphelle tidak lengah sama sekali. Ia membalas senyuman itu dan langsung berjalan ke ruang selanjutnya.

__ADS_1


"Bagaimana jika malam ini kita makan malam bersama? Kebetulan Anggota keluarga Kekaisaran juga belum makan malam" Usul Raja Basilio pada Naphelle yang tengah berdiri di belakangnya.


"Saya akan menerima ajakan Anda, Baginda. Kebetulan saya juga belum makan malam" Ucap Naphelle dengan wajah sinis.


Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk mengajak Naphelle makan malam bersama anggota keluarga Kekaisaran. Di sana terdapat beberapa orang yang sudah dikenal nya, dan membuat Naphelle merasa sedikit tenang.


"Maaf, kenapa malam ini kau ada di sini?" Tanya Putri Agachia yang tak lain adalah anak kedua dari Raja Basilio.


"Malam ini Putri Naphelle akan menginap di Istana. Aku harap kau bisa akrab dengan nya" Decak Putra Mahkota Carsten sembari mempersilahkan Naphelle untuk duduk.


Beberapa menit Naphelle menghabiskan waktu untuk makan malam bersama dengan anggota keluarga Kekaisaran. Ia juga beberapa kali sempat terkena tendangan kecil kaki Agachia yang terlihat seperti menantang. Tidak lama setelah itu, Raja dan Ratu lebih dulu mengundurkan diri karena ada hal yang mendesak. Itu artinya, tersisa 4 orang yakni Naphelle, Agachia, Carsten dan juga Eleuther yang saat itu masih berada di ruang makan Kekaisaran.


"Heuh, padahal malam ini aku ingin mengobrol dengan Kakak. Tapi pasti Kakak akan berbicara empat mata dengan Putri Naphelle, kan?" Ketus Putri Agachia dengan suara manja.


"Maaf menyela, tapi....saya tidak akan mengobrol dengan Putra Mahkota malam ini. Karena setelah ini saya akan langsung tidur" Sanggah Naphelle dengan tangannya yang memegangi secangkir teh.


"Hmm, boleh saya bertanya satu hal?"


"Beberapa bulan lalu, saya mendengar bahwa sifat Anda sangat egois, keras kepala dan perilaku Anda juga tidak baik. Tapi kenapa hari ini Anda tidak terlihat seperti itu ya?" Tanya Putri Agachia yang terdengar begitu memojokkan Naphelle.


"Itu terjadi karena rumor yang menyebar tidak benar. Anda melihat nya sendiri, kan? Kalau saya tidak bertingkah ataupun bersifat seperti yang Anda katakan barusan?" Tutur Naphelle meyakinkan.


"Sial! Aku pikir dia akan marah, tapi kenapa dia terlihat begitu santai? Bahkan, raut wajahnya terlihat biasa biasa saja, tidak ada tanda tanda bahwa dia memendam amarahnya" Pikir Putri Agachia sembari bergumam.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit. Setelah ini saya akan langsung tidur" Ucap Naphelle yang kemudian berdiri dan hendak pergi ke kamar nya.


"Tunggu!" Ujar Eleuther dengan suara lantang menghentikan langkah kaki Naphelle.


"Iya? Pangeran? Apa ada yang salah?"


"Tidak, tapi saya ingin berbicara dengan Anda" Celetuk Pangeran Eleuther yang kemudian di balas tatapan tajam dari Carsten. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mengajak Naphelle berbicara empat mata, dan lebih memilih untuk pergi dari hadapan ketiga orang yang masih berada di ruang makan.

__ADS_1


...****************...


Hembusan angin kencang yang menyelinap masuk melalui jendela yang masih terbuka lebar tidak membuat Naphelle merasa kedinginan sedikit pun. Ia terus menatap pemandangan yang ada di luar kamar dengan tatapan kosong tanpa ada harapan.


Begitu ia membalikkan badan nya, mendadak sebuah benturan keras terdengar dari arah jendela yang masih terbuka lebar.


BRUK!!! DUK!!


Suara yang terdengar cukup keras itu sontak membuatnya terkejut dan menoleh untuk memastikan benda apa yang sudah menghasilkan suara tadi. Namun ternyata, seorang lelaki tampan yang begitu dikenal nya datang melalui jendela tersebut.


"Ah, akhirnya ketemu"


"Helios?" Panggil Naphelle dengan perasaan tidak percaya.


"Putri, apa Anda baik-baik saja?" Tanya Helios yang kemudian melepas sebuah sapu tangan dari lehernya.


"Kenapa kau datang ke sini?"


"Saya hanya khawatir dengan keadaan Anda yang tidak ada kabarnya hingga larut malam seperti ini. Saya pikir Anda mengalami masalah" Celetuk Helios dengan wajah yang mengembang akibat senyuman nya.


"Sebegitu khawatir nya kau padaku?" Tanya Naphelle sedikit bercanda.


"Tentu saja, saya khawatir pada Anda. Lebih dari siapapun" Seloroh Helios yang sontak membuat Naphelle tertegun.


Mendengar perkataan Helios, Naphelle hanya terdiam dan mendengus malu lantaran Helios mengatakan hal yang menggelikan.


"Apa Anda mau saya temani tidur? Pasti Anda tidak bisa tidur tanpa saya" Ujar Helios yang kemudian menggenggam erat tangan Naphelle.


"Tidak usah, tanpa mu pun, aku bisa tidur. Sekarang pergi lah, tidak aman bagimu tetap berada di sini" Tegur Naphelle dengan raut wajah gelisah.


"Baiklah, ini..." Helios memberikan sebuah sapu tangan yang beberapa menit lalu ia lepas dari lehernya pada Naphelle. Ia kemudian berjalan merayap pada dinding dan bergelantungan pada pohon yang terletak di halaman Istana untuk bisa keluar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2