Lahirnya Kembali Sang Penguasa Kegelapan

Lahirnya Kembali Sang Penguasa Kegelapan
Episode 30-Informasi


__ADS_3

Hari demi hari Raja Basilio lewati dengan penuh kepanikan dan rasa khawatir yang mendalam. Tengah malam pun ia masih sempat nya berjalan ke sana kemari tanpa tujuan.


"Suamiku, apa yang membuat mu khawatir?" tanya Ratu Eireen yang tengah berjalan mendekati nya.


"Kau tidak perlu ikut campur!!" bentak Raja Basilio yang sontak membuat Eireen menghentikan langkah nya.


"Ke-- kenapa dia membentak ku seperti itu? Apa salahku?!" Pikir Eireen dengan raut wajah iba.


Karena tak ingin mendapat masalah dari suaminya, Eireen pun memutuskan untuk pergi menjauh ke tempat lain. Sedangkan Raja Basilio yang masih panik hanya bisa memikirkan hal yang mengerikan setiap detiknya.


Masih terpikirkan oleh perkataan Lante Paus beberapa hari yang lalu, Raja Basilio pun menemukan rencana yang dapat membunuh Naphelle untuk yang kedua kalinya.


Ia kemudian memanggil putra nya yakni Pangeran Carsten untuk ikut dengan nya ke kuil tengah malam begini.


"Memangnya apa yang akan Ayah lakukan di kuil? Apakah Ayah akan berdo'a pada Dewa?" tanya Putra Mahkota Carsten begitu mendapat panggilan dari sang ayah untuk pergi ke kuil bersama.


"Kau akan mengerti setelah sampai di sana," jawab Raja Basilio tanpa menatap wajah Putra nya Carsten sedikitpun.


Sebuah kereta kuda berjalan menuju hutan yang akan mengantarkan mereka sampai di Kuil. Perjalanan menuju kuil membutuhkan waktu 40 menit untuk sampai.


Selang beberapa waktu, akhirnya kereta kuda yang ditumpangi oleh sang Raja dan Putra Mahkota pun sampai dengan selamat sampai di halaman kuil.


Lante Paus beserta para pendeta yang sedang berdo'a langsung menyambut kedatangan Baginda Kaisar dengan hangat.


"Salam dan hormat pada Yang Mulia Baginda. Ada gerangan apa anda datang ke sini tengah malam?" tanya Lante Paus memastikan bahwa tidak sedang ada masalah yang terjadi di Kekaisaran.


"Aku ingin membicarakan Putri Naphelle bersama mu. Carsten, kau tunggu di sini, ayah akan segera kembali," tutur Raja Basilio pada keduanya.


Pangeran Carsten hanya mengangguk, sedangkan Lante Paus yang akan membicarakan hal penting dengan Raja pun mengarahkan jalan ke sebuah ruangan yang sunyi.


"Apa yang ingin anda bicarakan tentang Putri Naphelle, Yang Mulia Raja?" tanya Lante Paus begitu memasuki ruangan tersebut.


"Aku ingin membunuhnya untuk yang kedua kalinya," lontar Raja Basilio tanpa rasa ragu sedikitpun.

__ADS_1


"Apa anda yakin akan melakukan hal itu? Lalu cara apa yang akan anda lakukan untuk membunuh Putri Naphelle?" tanya Lante Paus dengan raut wajah tak percaya.


"Aku ingin kau, sebagai Paus serta seluruh pendeta yang ada di Kota Xerxes lusa datang ke acara pertunangan Naphelle dan Carsten di Istana. Saat sebelum acara pertunangan dimulai, aku ingin kau dan para pendeta yang hadir mengikat kekuatan nya. Sampai dia tidak berdaya dan saat itu juga aku akan membunuh nya," cakap Raja Basilio dengan enteng. Ia kemudian mendapati wajah Lante Paus yang tak kuasa menahan rasa heran.


"Kenapa wajah mu seperti itu?" tanya Raja Basilio.


"Ah, sebenarnya saya tidak yakin rencana anda akan berhasil. Tapi saya akan mencoba dan berusaha sebaik mungkin," tandas Lane Paus sembari menaruh telapak tangan nya di dada sebelah kiri.


Tanpa disadari, sosok Carsten yang Basilio kira menuruti perkataan nya, ternyata menguping pembicaraan antara Raja Basilio dan Lante Paus. Walaupun Lante Paus adalah orang yang suci, namun kesucian nya pun tidak bisa merasakan kedatangan orang.


"Ini tidak boleh terjadi, aku harus bilang pada Putri Naphelle," Pikir Pangeran Carsten sembari bergumam.


......................


Sayup-sayup angin memasuki ruangan kamar Naphelle melalui lubang kecil pada jendela. Ia kemudian membuka kedua bola matanya tepat saat sinar matahari pagi yang memancar masuk dan menyoroti matanya yang indah.


"Selamat pagi Putri Naphelle, sepertinya ini bukan kebetulan. Pas sekali Anda bangun, karena Pangeran Carsten sedang menunggu anda di bawah," tutur Rui dengan wajah berseri-seri.


Naphelle hanya merespon nya dengan anggukan kecil. Ia kemudian mengambil sehelai kain yang dapat menutupi beberapa bagian tubuh yang tak terbalut oleh kain.


"Selamat pagi, Pangeran Carsten," Naphelle memberi hormat serta salam.


"Selamat pagi juga, Putri Naphelle," balas Pangeran Carsten dengan wajah yang nampak cemas.


"Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya tanyakan pada Anda, tapi sepertinya waktu saya tidak akan cukup untuk menanyakan nya satu persatu," papar Pangeran Carsten.


"Apakah mengenai pertunangan kita yang akan dilaksanakan lusa?" tebak Putri Naphelle.


"Bukan hanya itu. Tapi, saat acara pertunangan kita berlangsung, saya harap Anda tidak datang ke Istana,"


"Memangnya ada apa?"


"Itu....."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*FLASHBACK ON*


"Ingat, kumpulkan seluruh pendeta yang ada di Kota kita. Jika tidak, mungkin Naphelle akan bisa lepas dengan mudah," imbuh Raja Basilio yang terdekat begitu keras sampai ke luar ruangan.


"Baik, saya akan mengumpulkan semuanya. Karena saya yakin, Putri Naphelle yang sebagai reinkarnasi dari Maggie Vangelis akan dengan mudah membunuh kita, jika satu langkah pun rencana kita gagal," celetuk Lante Paus menginformasikan.


"Yah, dia harus mati saat acara pertunangan dengan Putraku berlangsung. Tapi, kita juga harus berjaga-jaga jika saja Naphelle akan mengeluarkan seluruh kekuatan gelapnya,"


"Kalau tidak salah, bukankah Maggie Vangelis adalah seorang penguasa kegelapan? Apa maksudnya Putri Naphelle itu adalah Reinkarnasi dari sang penguasa kegelapan? Setelah pulang aku harus membaca buku bersejarah!" Gumam Putra Mahkota Carsten yang masih fokus menguping pembicaraan ayahnya dengan Paus.


*FLASHBACK OFF*


...----------------...


"Oh, jadi dia mau memberitahu padaku bahwa Basilio akan membunuh ku?"


"Apa kau tidak akan menyesal sudah mengatakan hal ini padaku, dan setelah itu keluarga mu tewas?" tanya Putri Naphelle dengan senyuman sinis yang sengaja diperlihatkan nya pada Carsten.


"Tentu saja tidak, jika pun akan terjadi, saya tidak akan menyesal sedikitpun," jawab Putra Mahkota Carsten secara spontan.


Naphelle hanya terdiam mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Putra Mahkota padanya. Ia kemudian menyuruh Putra Mahkota untuk cepat pergi dari hadapannya.


"Saya harap anda mempercayai perkataan saya dan tidak bertindak gegabah untuk datang ke Kekaisaran," ucap Putra Mahkota menutup pembicaraan antara dirinya dengan Naphelle.


"Akan saya pertimbangkan ucapan anda barusan," balas Naphelle dengan nada merendah.


Ia berjalan menaiki setiap anak tangga, sedangkan Putra Mahkota Carsten yang sudah diusir oleh Naphelle pun memutuskan untuk segera kembali ke Istananya, walaupun sebenarnya hal yang ingin ia katakan pada Naphelle belum sepenuhnya selesai.


Naphelle yang sudah berada di lantai atas hanya bisa menatap kepergian Putra Mahkota Carsten. Hanya dalam sekejap sosok Putra Mahkota beserta kereta kudanya lenyap dari pandangan Naphelle.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

__ADS_1


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2